Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri penyearahan-setengah-gelombang-dengan. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri penyearahan-setengah-gelombang-dengan. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Mengenal Ac

 yaitu arus dengan tegangan yang berganti Mengenal AC
AC yaitu akronim dari Alternating Current, artinya arus bolak-balik, yaitu arus dengan tegangan yang berganti-ganti polaritasnya (positif kemudian negatif) terus-menerus secara periodik.
AC merupakan bentuk dari gelombang listrik, lantaran itu dalam AC dikenal istilah frekwensi, yaitu banyaknya siklus atau periode gelombang (cycle) yang terjadi dalam waktu satu detik.  Tentang frekwensi tidak dibahas di sini, untuk lebih terperinci bisa disimak dalam goresan pena : Frekwensi .

Bentuk-bentuk gelombang AC.
Gelombang AC memiliki banyak bentuk.  Bagaimanapun bentuk kurva tegangannya selama terdiri dari satu cuilan positif dan satu cuilan negatif dalam satu siklus maka itu tetap dikatakan sebagai AC.
Ada kalanya gelombang AC itu terbentuk begitu saja tanpa rekayasa khusus yang disengaja, tetapi ada kalanya juga bentuk gelombang AC itu memang diinginkan berbentuk sedemikian rupa semoga orang bisa memanfaatkannya untuk suatu keperluan.  Bentuk-bentuk kurva tegangan gelombang AC yang telah banyak dikenal di antaranya yaitu :

 yaitu arus dengan tegangan yang berganti Mengenal AC

Gelombang sinus (sine-wave)
yaitu gelombang AC dengan bentuk mirip yang diperlihatkan pada gambar (A).
Gelombang sinus paling banyak dikenal dan diterapkan sebagai bentuk gelombang untuk tenaga (power) listrik umum.  Termasuk pula ke dalam bentuk gelombang sinus yaitu gelombang yang berasal dari bunyi manusia, bunyi binatang, musik, dan lain-lain.

Gelombang balok atau gelombang persegi-empat (square-wave)
yaitu gelombang yang kurva tegangannya berbentuk balok atau segi-empat sebagaimana diperlihatkan pada gambar (B).

Gelombang segi-tiga (triangle-wave)
yaitu gelombang dengan ujung atas kurva yang lancip dan kedua sisinya simetrik, lihat gambar (C).

Gelombang gigi-gergaji (sawtooth-wave)
yaitu gelombang dengan kurva tegangan yang ibarat bentuk gigi gergaji, lihat gambar (D).

AC untuk tenaga (power).
Tegangan berbentuk AC dipakai untuk listrik sumber tenaga yang menjadi sumber suplai listrik banyak sekali keperluan, mirip untuk menjalankan peralatan-peralatan elektronik di rumah, untuk menyalakan lampu-lampu penerangan, untuk menjalankan peralatan permesinan pabrik dan lain sebagainya.
AC sebagai listrik sumber tenaga lebih menguntungkan lantaran bisa ditransfer dengan jarak yang cukup jauh tanpa harus memakai perkabelan yang besar-besar.
Perkabelan yang besar-besar hanya diharapkan untuk menyalurkan daya listrik dengan arus besar. Sedangkan pada daya listrik dengan arus kecil tidak diharapkan kabel besar.
Untuk mencapai ini ditempuh cara dengan menaikkan tegangan AC listriknya terlebih dahulu (bahkan hingga mencapai puluhan ribu Volt), kemudian barulah ditransfer sebagai daya listrik dengan besar daya yang sama tetapi arusnya sudah menjadi lebih kecil sehingga tidak memerlukan kabel yang besar. Hal ini dimungkinkan lantaran daya yaitu hasil perkalian antara tegangan dengan arus.

W = V x I

Dalam besaran daya yang sama, apabila tegangan dinaikkan maka konsekwensinya yaitu arusnya akan mengecil.  Sedangkan apabila tegangannya yaitu kecil maka konsekwensinya arusnya yaitu besar.
Contoh : Untuk mentransfer daya (misalnya) 1MWatt (1000.000Watt) tegangan dinaikkan menjadi 20kV. Maka arus yang akan dialirkan melalui kabel transfer yaitu :
1000.000 / 20.000 = 50A.
Arus sebesar itu masih gampang disalurkan pada kabel transfer (kira-kira) setebal ibu jari orang dewasa.
Bayangkan bila tegangannya yaitu 220V, berapakah tebal kabel yang harus diadakan untuk menyalurkan pedoman arusnya?
Arusnya ada sebesar : 1000.000 / 220 = 4545A...
Kabel yang harus diadakan mungkin akan setebal batang pokok pohon mangga!
Ketika transfer daya listrik itu telah hingga di daerah tujuan, tegangan kembali diturunkan hingga menjadi 220V kemudian disalurkan ke rumah-rumah.
Dalam hitungan tekhnis yang lebih teliti, untuk memperkirakan keperluan kabel sebagai sarana transmisi yang dilihat yaitu arus RMS (IRMS).  Apa yang dicontohkan itu hanyalah sekedar materi untuk memperlihatkan citra secara mudah.

Untuk menaikkan tegangan dari kecil menjadi besar/tinggi (atau sebaliknya) hanya bisa dilakukan pada listrik AC, tidak bisa dilakukan pada listrik DC dengan kurva tegangan yang berbentuk lurus.  Proses menaikkan (atau menurunkan) tegangan itu dilakukan dengan memakai alat yang disebut transformator.
Inilah sifat-sifat AC yang menjadikannya lebih dipilih untuk dipakai sebagai listrik sumber tenaga untuk keperluan umum.

AC untuk tenaga yaitu AC berbentuk sinus, merupakan bentuk tegangan AC yang terjadi dari proses mekanikal lantaran generator-generator listrik besar dengan sistem gerak di antara kumparan dan medan magnet selalu menghasilkan AC dengan bentuk sinus ini.  Dalam skala lebih kecil mirip yang terdapat pada AC gen-set atau pada kebanyakan spoel alternator sepeda bermotor bentuk tegangan AC yang dihasilkan yaitu juga tegangan AC berbentuk sinus.
AC untuk tenaga yang diterapkan secara umum memiliki frekwensi 50 atau 60Hz.  Frekwensi itu diterapkan lantaran memudahkan dalam beberapa hal, antara lain dalam konstruksi motor elektrik pada banyak penggunaan, juga dalam problem transfer memperkecil efek induktansi pada kabel yang bisa mengakibatkan kerugian tegangan.

AC dan RMS.
RMS (sering juga ditulis dengan karakter kecil : rms) yaitu akronim dari Root Mean Square, yaitu bentuk lain satuan tegangan AC yang lebih teliti yang dirumuskan dengan melibatkan banyak faktor mirip amplitudo, pewaktuan, frekwensi, bentuk gelombang, dan duty-cycle.
Sebagaimana diketahui bahwa pada tegangan AC terdapat tegangan positif dan tegangan negatif yang berganti-ganti, banyaknya kemunculan tegangan positif akan sama dengan banyaknya kemunculan tegangan negatif.  Karena itu saat kepada tegangan AC ini diambil tegangan rata-ratanya (average-voltage) maka hanya akan didapati angka nol, lantaran tegangan AC berbeda dengan tegangan DC meskipun berbentuk denyut-denyut tegangan.  Misalnya pada tegangan DC yang berbentuk denyut-denyut positif tidak disertai dengan kemunculan denyut-denyut tegangan negatif.
Jika belum terperinci perihal tegangan rata-rata (average-voltage) pada denyut-denyut DC bisa diikuti dalam ulasan yang lain : Penyearahan Setengah Gelombang .
Dengan adanya perumusan perhitungan RMS maka permasalahan ini sanggup dilalui.

Jalan perhitungan untuk tegangan RMS bekerjsama cukup rumit, tetapi secara gampang bisa diambil kesimpulan dari jalan perhitungan yang rumit itu yaitu :

VRMS = Vp / √2 (Volt).

Vp yaitu tegangan puncak atau tegangan maksimal pada satu belahan tegangan (tinggi tegangan pada setengah periode/cycle).  Vp yaitu tinggi tegangan yang biasa disebutkan saat sebuah tegangan AC dinyatakan.  Lihatlah pada gambar symbol di atas, bedakanlah antara Vp dengan Vp-p (tegangan dari puncak ke puncak).
Demikianlah, bila pada tegangan DC terdapat perhitungan : V = Vmax / √2 maka pada tegangan AC terdapat perhitungan : VRMS = Vp / √2.

Dengan adanya tegangan RMS maka terdapat pula arus RMS, yaitu :

IRMS = Ip / √2 (Ampere).

Ip yaitu arus puncak/maksimal, yaitu arus yang mengalir saat tegangan mencapai puncak/maksimal.
Kini, sehabis tegangan RMS dan arus RMS diketahui, dapatlah diambil kesimpulan perihal daya rata-rata (average-power), yaitu :

P-average = VRMS x IRMS (Watt).

Contoh : Jika tegangan AC yaitu 220V dengan arus 4A, maka tegangan RMS yaitu 220 / √2 = 156V RMS, arus RMS yaitu : 4 / √2 = 2,8A RMS.
Daya rata-rata (P-average) = 156 x 2,8 = 436,8W.
Dalam penulisan yang lain, daya rata-rata tidak dinyatakan dengan Watt, tetapi dinyatakan dengan VA (Volt-Ampere).
Contoh perhitungan itu yaitu berlaku bagi tegangan AC sinus.
Ketentuan atau rumus tinggi tegangan RMS untuk majemuk bentuk tegangan tidak selalu sama, tetapi ada kalanya berbeda. Lebih lengkapnya yaitu sebagai berikut :

Untuk tegangan sinus : VRMS = Vp / √2
Untuk tegangan balok : VRMS = Vp
Untuk tegangan segi-tiga : VRMS = Vp / √3
Untuk tegangan gigi gergaji : VRMS = Vp / √3.

Sampai di sini usailah ulasan singkat perihal AC.

Happy learning!

Mengenal Dc

  Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap Mengenal DC
DC yaitu abreviasi dari Direct Current, artinya arus searah.   Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap, tidak terjadi perubahan-perubahan polaritas di sepanjang waktunya, alasannya yaitu itu pada DC tidak ada istilah frekwensi.
Tegangan DC yang tepat yaitu tegangan dengan kurva yang lurus.  Tegangan DC yang menyerupai ini terdapat secara alamiah pada segala bentuk baterai.
Polaritas atau potensial tegangan DC bisa berupa :
  • Tegangan + (positif) terhadap nol volt (0V)
  • Tegangan – (negatif) terhadap 0V
  • Tegangan positif dan tegangan negatif terhadap 0V
  • Tegangan positif terhadap negatif.
  Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap Mengenal DC
Nol Volt (0V) yaitu titik netral, biasanya difungsikan sebagai ground.
Gambar (1) menawarkan referensi tegangan + terhadap 0V. Antara (a) dan 0V terdapat tegangan sebesar +9V.
Gambar (2) menawarkan referensi tegangan – terhadap 0V. Antara (b) dan 0V terdapat tegangan sebesar -9V.
Gambar (3) menawarkan referensi tegangan + (positif) dan tegangan – (negatif) terhadap 0V.  Ada dua tegangan yang sama besar terhadap 0V, namun berlawanan polaritas, yaitu polaritas + dan -.
Dua tegangan DC dengan dua polaritas terhadap 0V yang menyerupai ini disebut tegangan terbelah (split-voltage).  Ketika dua tegangan itu memiliki angka yang sama maka disebut juga tegangan simetrik.
Gambar (3) juga menawarkan referensi tegangan + (positif) terhadap – (negatif) jikalau titik 0V diabaikan. Karena kedua tegangan itu masing-masing memiliki besaran angka 9V (terhadap 0V), maka antara (a) dan (b) terdapat tegangan setinggi 18V.

DC untuk tenaga (power).
Tegangan berbentuk DC lebih diharapkan untuk menyuplai perangkat-perangkat yang mengandung rangkaia-rangkaian elektronik di dalamnya.  Setiap rangkaian elektronik di mana di dalamnya terdapat komponen-komponen aktif menyerupai transistor, dioda dan IC selalu memerlukan suplai tegangan DC.  Apabila tegangan yang tersedia berbentuk AC (misalnya dari transformator) maka perlu dilakukan penyearahan terlebih dahulu semoga menjadi berbentuk DC.   Tentang ini telah dibahas di dalam ulasan sebelumnya :
Penyearahan gelombang penuh dengan kondensator perata .

Biasanya sumber tenaga listrik DC banyak mengandalkan dari baterai sedangkan baterai hanya memiliki tegangan yang rendah.  Daya yang bisa dihasilkan juga hanyalah daya dalam level yang tidak besar. Karena itu sistem tenaga listrik DC lebih dikenal sebagai sistem daya terbatas bertegangan rendah.
Sebagai contoh, daya pada sistem AC 220V sebesar 1300W yaitu daya untuk keperluan rumah yang dikala ini sudah lumrah.  Daya sebesar itu gampang dihasilkan oleh generator dan relatif gampang didapatkan oleh setiap rumah pada sistem AC tegangan tinggi.  Dan daya sebesar itu memang diharapkan alasannya yaitu rata-rata di setiap rumah pada dikala ini terdapat banyak sekali peralatan elektronik menyerupai lemari es, TV, rice-cooker, setrika listrik, water-dispenser, mesin cuci, komputer (PC), lampu penerangan yang banyak dan lain-lain.
Akan tetapi daya sebesar 1300W itu bukanlah hal yang gampang bagi sistem DC tegangan rendah.
Untuk menghasilkan daya sebesar itu dari sumber tegangan 12V atau 24V (tegangan aki/baterai) harus berapa Ampere arus yang bisa dihasilkan oleh baterai?
Daya 1300W dari tegangan 12V memiliki besar arus 108 Ampere, sedangkan dari tegangan 24V arusnya yaitu 54 Ampere.  Bisa dibayangkan betapa tebal kabel-kabel instalasinya.  Selain itu baterai tampungan yang diharapkan (apabila memakai baterai konvensional yang ada) yaitu baterai yang sebesar lemari pakaian anak-anak!
Ya... niscaya sangat mahal harganya.
Belum lagi dilema pengisian ulang baterai, apakah penghasil listrik rumahan yang ada memang bisa mengisi ulang baterai sebesar itu hanya dalam waktu beberapa jam?
Inilah yang dimaksud dengan “daya terbatas”.
Namun biar bagaimanapun kelebihan dari sistem DC tegangan rendah tetap ada. Listrik DC yaitu listrik yang bisa disimpan.  Penyimpanan dilakukan di dalam “bank” power, yaitu baterai-baterai yang tersedia. Semua perangkat elektronik portabel (tentengan) dan yang bersifat “mobile” disuplai dari sumber DC, yaitu baterai.
Kelebihan lainnya yaitu bahwa di dalam sistem kelistrikan DC murni yang tidak melibatkan inverter (perubah DC ke AC tegangan tinggi) tidak ada resiko terkena sengatan listrik.

Penggunaan DC untuk keperluan tenaga listrik umum bukan tidak pernah dikemukakan orang untuk digunakan.
Pada tahun 1880 seorang insinyur tenaga kelistrikan dari Swiss Rene Thury telah mendemonstrasikan penggunaan motor-seri sebagai generator untuk menghasilkan DC tegangan tinggi (High-Voltage DC). Tegangan tinggi memang menjadi solusi dilema transfer daya bekaitan efisiensi di dalam biaya instalasi.
Kemudian pada tahun 1887 Thomas Edison pernah menciptakan rancangan stasiun pendistribusian tenaga listrik DC di Amerika Serikat.  Edison mengemukakan sistem distribusi tenaga listrik DC pada tegangan simetrik +110V, 0V dan -110V.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, sistem AC dengan perangkat pendukungnya yaitu transformator ternyata terbukti lebih efisien dalam hal transfer daya listrik yang besar ke tempat-tempat yang lebih jauh.

Tentang tegangan, daya dan arus dalam DC.
Pada DC yang agak rumit dengan tegangan yang berbentuk denyut-denyut (misalnya tegangan dari hasil penyearahan AC ke DC oleh dioda-dioda penyearah) terdapat pembahasan perihal tegangan maksimal (Vmax), tegangan rata-rata (V-average), arus rata-rata (I-average), dan faktor ripple.   Itu semua telah dibahas dalam :
Penyearahan setengah gelombang
atau
Penyearahan gelombang penuh .
Namun DC murni dengan kurva tegangan yang berbentuk garis lurus bukanlah tegangan yang rumit.  Karena itu jikalau di dalam AC ada pembahasan perihal tegangan RMS (Root Mean Square), arus RMS, daya rata-rata (average-power), satuan tenaga VA (Volt-Ampere), satuan frekwensi dan lain-lain maka di dalam DC pembahasan perihal itu semua tidak ada.
Yang ada hanyalah sebagaimana pada hukum-hukum dasar kelistrikan :

V = I x R dan W = V x I.

Happy learning!

Memperbaiki Amplifier Otl

Memperbaiki audio-amplifier OTL tidaklah terlalu sulit, baik yang berbentuk IC ataupun yang berbentuk rangkaian dengan komponen-komponen terpisah.  Berikut ini ulasannya.
Namun sebelumnya perlu difahami terlebih dahulu wacana apa itu amplifier OTL, lantaran memperbaiki sesuatu yang sudah dimengerti tentu akan lebih baik dan lebih sanggup menghasilkan kerja yang efisien.

Sekilas wacana OTL.
OTL ialah kependekan dari Output Transformer Less, sebuah sistem audio amplifier yang meniadakan penggunaan transformator audio untuk menyesuaikan impedansi di jalur output-nya.
Di masa-masa yang kemudian sisterm amplifier ini sempat menjadi favorit lantaran bisa menghasilkan penguatan sinyal audio dalam spektrum hi-fi yang lebih baik dibandingkan dengan sistem pendahulunya, yaitu sistem OT (Output Transformer) yang memakai transformator audio di pecahan output-nya untuk menyesuaikan impedansi keluaran/output amplifier dengan impedansi speaker.
Amplifier OTL memerlukan power-supply tegangan tunggal, Contohnya ibarat pada gambar berikut :

 baik yang berbentuk IC ataupun yang berbentuk rangkaian dengan komponen Memperbaiki Amplifier OTL

Ciri dari amplifier OTL ialah :
  • Menggunakan power-supply tegangan tunggal, yaitu positif saja (terhadap 0Volt/ground) atau negatif saja (terhadap 0V atau ground)
  • Terdapat kondensator (elco) berkapasitas besar di jalur output untuk kopel sinyal ke speaker
  • Terdapat titik tengah ½ Vcc di mana terdapat tegangan DC sebesar (kira-kira) ½ dari tegangan suplai (Vcc).
Pada gambar yang pertama di atas diperlihatkan denah rangkaian amplifier OTL kecil dari sebuah radio Philips keluaran lama.  Suplai memakai tegangan tunggal minus (negatif).
Rangkaian dengan suplai tegangan negatif sering disebut dengan rangkaian “grounding positif”, meskipun yang menjadi ground ialah jalur netral (0V).  Di masa kini rangkaian dengan ground positif sudah hampir tidak ada, rata-rata memakai ground negatif.
Pada rangkaian ini tegangan ½ Vcc ditentukan oleh nilai resistor-resistor pada basis transistor depan AC179 yaitu 150Ω, 15k dan 15k.  Kondensator kopel ke speaker ialah yang berkapasitas 320µF.
Transistor depan menguatkan sinyal input ke taraf yang lebih besar kemudian risikonya diberikan kepada dua transistor final (transistor daya),yaitu pasangan komplementer AC127 dan AC128.  Kedua transistor ini bekerja menguatkan sinyal ac audio secara bergantian pada setengah putaran lebih dari periode sinyal dan risikonya ialah sinyal audio yang utuh yang telah memenuhi taraf untuk bisa membunyikan speaker.  Sinyal audio ini kemudian dilimpahkan ke speaker melalui kondensator 320µF.

Pada gambar kedua diperlihatkan denah rangkaian OTL yang lebih besar (di atas 20W) dari audio-amplifier Sansui.  Suplai memakai tegangan positif 52V, nilai yang tertera ini merupakan harga maksimal atau diistilahkan dengan Vmax.
Tentang Vmax tidak dibahas di sini, tetapi bisa diikuti lebih terperinci dalam : Penyearahan gelombang penuh .

Pola rangkaian yang kedua ini agak berbeda dengan yang pertama dan tegangan ½ Vcc ditentukan oleh susunan seri R801 dan R819.  R801 dibentuk variabel semoga bisa dilakukan penyetelan terhadap tegangan ½ Vcc dengan tepat.  Jika tinggi tegangan untuk rangkaian ini ialah 52V maka pada titik ½ Vcc akan terukur tegangan sekitar 25V atau lebih sedikit.
TR805 dan TR807 ialah dua transistor driver sedangkan TR809 dan TR811 ialah dua transistor akhir/transistor daya.  Kedua transistor driver dalam amplifier OTL dan OCL selalu merupakan pasangan komplementer walaupun transistor final ada kalanya bukan pasangan komplementer sebagaimana pada rangkaian ini, yaitu hanya dua transistor daya NPN yang bertipe sama.
D801 berperan sebagai sensor panas, lantaran sifat dioda yang menurun tegangan majunya (VFD) apabila terkena panas pada batas suhu tertentu.
Dioda ini berada erat dengan pecahan pendingin transistor akhir.  Apabila transistor final menjadi terlalu panas saat bekerja (menarik arus yang besar) maka dioda akan ikut terpanasi dan menjadi turun tegangan majunya.  Karena dioda dipasang di sirkit basis transistor driver maka efeknya ialah arus stasioner (arus kecil yang mengalir saat tanpa sinyal input) bagi transistor driver dan transistor final menjadi dikurangi, sehingga arus yang mengalir pada transistor-transistor final juga menjadi turun dan dengan demikian panas pun bisa berkurang.
VR803 menyetel besar arus stasioner bagi transistor final sekitar 20... 35mA.

Hasil penguatan sinyal oleh amplifier secara keseluruhan dilimpahkan/dikopel kepada speaker melalui kondensator C817.  Dengan adanya kondensator ini tegangan DC yang ada pada titik ½ Vcc tidak terhubung singkat ke ground oleh speaker.

Kerusakan umum pada amplifier OTL.
Di antara kerusakan yang paling sering terjadi ialah :
1.Tidak ada bunyi sinyal, kecuali hanya dengung (suara getaran listrik)
2.Suara ada tetapi kecil dengan disertai dengung
3.Suara ada tetapi terdengar cacat
4.Tidak ada bunyi dan tidak ada dengung

Kerusakan pertama biasanya disebabkan oleh rusaknya transistor-transistor driver dan transistor akhir.  Jika mereka rusak kemungkinan ikut rusak juga resistor-resistor di emitornya, dalam referensi rangkaian Sansui di atas ialah R835 dan R837.
Dengan demikian semua transistor driver dan transistor final perlu diperiksa untuk dipastikan kerusakannya kemudian diganti dengan yang baru.
Untuk transistor NPN lihat cara pemeriksaannya dalam : Pengetesan transistor NPN .
Sedangkan untuk transistor PNP lihat dalam : Pengetesan transistor PNP .

Resistor R825, R827, R829, R835 dan R837 perlu diperiksa juga, begitupun dioda D801.
Jika rusak diganti dengan yang baru.

Kerusakan kedua biasanya disebabkan oleh transistor-transistor final yang rusak.  Menyertai kerusakannya biasanya rusak pula R835 dan R837.

Kerusakan ketiga sering disebabkan oleh salah satu driver atau salah satu dari transistor final yang rusak, yaitu putus basis-emitornya.  Perlu dicari transistor manakah yang rusak dengan memeriksanya satu-persatu.
Kerusakan seperi ini juga bisa disebabkan oleh kondensator kopel ke speaker yang rusak.  Jika kondensator telah rusak maka cacat disertai juga dengan bunyi yang agak mengecil.

Kerusakan keempat bisa disebabkan oleh kerusakan sebagaimana poin yang pertama atau yang kedua ditambah dengan putusnya sikring (fuse) pada pecahan power-supply.
Apabila komponen-komponen yang rusak telah diganti, perlu diperiksa juga pecahan power-supply dari mulai trafo sampai dioda-dioda penyearah, lantaran tidak tertutup kemungkinan mereka ikut rusak.
Dan investigasi yang juga cukup penting ialah memastikan bahwa tegangan ½ Vcc memang benar, meskipun tidak harus sempurna ½ dari tegangan suplai (mungkin lebih sedikit atau kurang sedikit).  Gunakan AVO-meter pada posisi pengukuran tegangan DC (DCV) sesuai tinggi tegangannya untuk mengukur Vcc dan ½ Vcc-nya.
Pada amplifier yang memakai IC OTL investigasi terhadap tegangan ½ Vcc malah menjadi investigasi awal.  Apabila sebuah IC OTL amplifier saat diperiksa tegangan ½ Vcc-nya ternyata jauh melenceng dari yang seharusnya, maka sudah niscaya IC amplifier tersebut memang sudah rusak, perlu diganti dengan yang baru.  Tetapi apabila tegangan ½ Vcc ternyata benar namun amplifier tidak mengeluarkan suara, maka permasalahannya mungkin hanya pada sambungan perkabelan, saklar/switch atau socket speaker yang tidak benar.

 baik yang berbentuk IC ataupun yang berbentuk rangkaian dengan komponen Memperbaiki Amplifier OTL

Pada gambar di atas diperlihatkan referensi denah rangkaian IC OTL stereo seri STK43xx dan STK44xx yang disalin dari sumber datasheet-nya. Perhatikanlah bahwa titik tegangan ½ Vcc untuk jalan masuk L (Left, kiri) berada pada pin 5 dengan kondensator kopel ke speaker ialah Cx1 (1000µF).  Untuk jalan masuk R (Right, kanan) titik tegangan ½ Vcc berada pada pin 11 dengan kondensator kopel Cx2.  Tegangan suplai (Vcc) tersambung ke pin 7.
Khusus untuk rangkaian IC OTL ini, resistor 100Ω yang terhubung antara pin 7 dan pin 9 biasanya ialah resistor yang gampang rusak.  Ketika resistor ini putus amplifier tidak akan mengeluarkan bunyi meskipun bergotong-royong IC tidak rusak.

Demikianlah sedikit wacana Memperbaiki Amplifier OTL .
Selain dari apa-apa yang telah dicontohkan itu, hendaknya sanggup dikenali manakah jalur Vcc dan manakah jalur ½ Vcc-nya pada setiap IC OTL yang manapun semoga sanggup dilakukan pengukuran tegangan terhadapnya.

Sebagai pecahan akhir, perlu untuk dikemukakan bahwa ketelitian merupakan modal yang sangat penting. Dan orang yang teliti itu bukanlah orang yang malas untuk berfikir dan melaksanakan pemeriksaan-pemeriksaan, lantaran orang yang teliti itu ialah orang yang rajin untuk memastikan bahwa langkahnya memang sudah benar...

Happy repairing!

Memperbaiki Lcd Monitor Lg Flatron Yang Susah Dihidupkan

WSB dikeluhkan oleh pemiliknya belakangan ini susah dihidupkan Memperbaiki LCD Monitor LG Flatron yang susah dihidupkan
Sebuah LCD monitor LG type L177WSB dikeluhkan oleh pemiliknya belakangan ini susah dihidupkan. Jika sudah dimatikan dan hendak dihidupkan kembali harus menekan tombol power berkali-kali (bisa hingga 15-20 kali) barulah dapat hidup.
Setelah kap epilog monitor dibuka dan dilakukan pengecekan, tampaklah dua dari tiga elco filter pada bab power-supply dicurigai rusak. Hal ini tampak secara kasat mata di mana elco-elco tersebut menggembung bab atasnya. Elco-elco tersebut berkapasitas 680uF/25V.
Mengapa dapat demikian?

Elco filter (kondensator perata) di dalam sirkit penyearah berfungsi meredam kerut-kerut tegangan (ripple voltage). Setelah tegangan DC hasil penyearahan difilterisasi oleh kondensator, maka ripple akan menurun, efeknya tegangan DC terukur akan naik sekitar 1,4 kali dari angka tegangan AC sebelum disearahkan. Tentang ini telah dijelaskan secara detil dalam : Penyearahan Setengah Gelombang Dengan Kondensator Perata .

WSB dikeluhkan oleh pemiliknya belakangan ini susah dihidupkan Memperbaiki LCD Monitor LG Flatron yang susah dihidupkan

Apabila kondensator perata mengalami kerusakan, fungsinya menjadi abnormal, dan hasil peredaman terhadap ripple pun menjadi berkurang. Tegangan DC yang terukur pun akan turun pula.
Inilah yang mengakibatkan rangkaian kontrol digital menjadi error, di mana salah satu fungsinya ialah sebagai pengontrol on-off pada modul power-supply (SMPS).
Setelah elco-elco yang dicurigai rusak diganti, monitor pun kembali normal.
Namun untuk mengusahakan stabilitas dalam waktu lebih lama, elco filter 680uF/25 yang lainpun turut diganti pula.

Happy repairing!