Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri penyearahan-gelombang-penuh. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri penyearahan-gelombang-penuh. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Penyearahan Dioda Bridge

Penyearahan Gelombang Penuh Dengan Dioda Bridge

Dioda bridge yaitu empat dioda penyearah yang disusun sebagai rangkaian ”jembatan” sedemikian rupa di mana terdapat dua terminal untuk masukan tegangan AC dan dua terminal keluaran, yaitu terminal keluaran + (positif) dan terminal keluaran – (negatif).
Dioda bridge telah tersedia dalam bentuk satu packing DIL (dual in line) atau SIL (single in line) yang memiliki empat elektroda, namun sanggup juga disusun dari empat dioda terpisah.
Dioda bridge memang khusus dibentuk untuk penyearahan gelombang AC dan karenanya yaitu sebagaimana pada penyearahan gelombang penuh.
Proses penyearahan oleh dioda bridge agak berbeda dengan proses penyearahan gelombang penuh yang memakai dua dioda dari transformator CT, sebagaimana yang telah diulas di dalam goresan pena sebelumnya. Secara singkat mungkin sanggup dijelaskan sebagai berikut :

Penyearahan Gelombang Penuh Dengan Dioda Bridge  Penyearahan Dioda Bridge

Gambar (A) yaitu bagan rangkaian penyearahan gelombang penuh dengan dioda bridge.
R1 merupakan beban (load) yang akan menarik arus dari tegangan hasil penyearahan.
Beban ini memang selalu disertakan, lantaran semua catu-daya (power-supply) yang dibentuk atau yang sedang dipelajari untuk dibentuk yaitu untuk dipakai dengan diberikan beban.

Tegangan AC diambil dari gulungan transformator 0-10V (besar tegangan di sini hanya contoh).  Pada satu putaran (cycle) gelombang yang terdiri dari satu denyut tegangan kasatmata dan satu denyut tegangan negatif, bab denyut tegangan kasatmata diluluskan (dihantarkan) oleh D1 dan disalurkan ke jalur + kasatmata VDC. Denyut tegangan kasatmata itu kemudian mengalir melewati R1 dan kemudian dihantarkan oleh D3 sampai berakhir di terminal 0V transformator (lihat gambar B).
Bagian denyut tegangan negatif diluluskan oleh D2 dan disalurkan ke jalur – negatif VDC. Dan denyut tegangan negatif itu kemudian mengalir melewati R1 dan kemudian dihantarkan oleh D4 sampai berakhir di terminal 0V transformator (lihat gambar C).
Demikianlah, pada jalur + kasatmata VDC muncul denyut tegangan kasatmata dan sehabis itu pada jalur – negatif VDC muncul denyut tegangan negatif yang keduanya sama-sama berakhir di 0V transformator secara bergantian.
Proses itu berlangsung terus-menerus setiap kali terjadi putaran gelombang.

Sebenarnya sehabis muncul denyut kasatmata di jalur + kasatmata VDC maka sehabis itu jalur + kasatmata VDC itu kosong dari denyut hasil penyearahan. Akan tetapi bersamaan dengan kosongnya jalur + kasatmata VDC dari denyut, pada jalur – negatif VDC muncul denyut tegangan negatif.  Keadaan ini sebanding (bisa disamakan) dengan munculnya denyut-denyut kasatmata di jalur + kasatmata VDC tanpa ada kekosongan sedangkan di jalur – negatif VDC dianggap kosong dari denyut.  Karena itulah hasil penyearahan dioda bridge dikategorikan juga sebagai hasil penyearahan gelombang penuh.
Mengenai besaran-besaran Vmax, V-average, I-average, prosentase ripple dan lain-lain beserta perhitungan-perhitungannya sama saja dengan penyearahan gelombang penuh yang telah diulas sebelumnya, untuk lebih terang sanggup disimak dalam : Penyearahan Gelombang Penuh.

Cara penyearahan dengan dioda bridge dilakukan untuk mendapat hasil penyearahan gelombang penuh sedangkan tegangan AC yang diambil berasal dari sekunder transformator tipe nol (0V), yaitu transformator yang tidak memiliki terminal CT (center-tap) pada gulungan sekundernya.
Cara ini paling banyak diterapkan dan hampir semua peralatan elektronik yang di dalamnya terdapat “switching mode power-supply” selalu didahului dengan penyearahan dioda bridge.
Membangun catu-daya dengan penyearahan dioda bridge yaitu membangun catu-daya dengan penyearahan gelombang penuh.  Karena itu perhitungan untuk keperluan kondensator perata sehubungan dengan arus beban ataupun yang lain-lainnya yaitu sama, sebagaimana dalam penyearahan gelombang penuh.
Tentang ini telah dibahas dalam : Penyearahan Gelombang Penuh Dengan Kondensator Perata.
Sampai pada goresan pena ini mudah-mudahan telah jelaslah pokok-pokok yang perlu dipaparkan ihwal penyearahan gelombang dari AC ke DC oleh dioda-dioda penyearah.

Happy learning!

Catu-Daya Tegangan Terbelah

Catu-daya tegangan terbelah (split voltage power-supply) sering juga disebut dengan catu-daya tegangan simetrik yaitu catu-daya yang memiliki tiga keluaran polaritas tegangan, yaitu tegangan keluaran + (positif), tegangan keluaran – (negatif), dan ground (0V).
Disebut tegangan terbelah lantaran tegangan di antara polaritas + (positif) dan – (negatif) dibelah menjadi dua dan titik kepingan tengahnya yaitu ground (0V).  Disebut tegangan simetrik lantaran tegangan antara 0V dan + (positif) dengan 0V dan – (negatif) yaitu sama tinggi namun berbeda polaritas.

daya yang memiliki tiga keluaran polaritas tegangan Catu-Daya Tegangan Terbelah

Catu-daya tegangan terbelah dibangun dari transformator CT (center-tap) dan dioda bridge.  Hasil penyearahan dioda bridge yaitu dua polaritas yang berbeda terhadap titik CT transformator yang merupakan ground (0V).
Penyearahan dioda bridge pada catu-daya ini yaitu penyearahan gelombang penuh pada masing-masing polaritasnya.
Untuk kedua polaritas yaitu faktual dan negatif, besaran-besaran menyerupai tegangan maksimal (Vmax), tegangan rata-rata (V-average), faktor ripple dan lain-lain beserta perhitungan-perhitungannya yaitu sebagaimana dalam penyearahan gelombang penuh.   Jadi, di sini tidak dibahas ulang secara panjang-lebar.
Untuk lebih terang bisa disimak dalam : Penyearahan Gelombang Penuh.

Membuat catu-daya tegangan terbelah.
Membuat rancangan sebuah catu-daya bukanlah hal yang sangat sulit untuk dilakukan, siapapun bisa untuk melakukannya jikalau mengerti dan mengetahui langkah-langkahnya.
Setiap kali merencanakan untuk menciptakan sebuah catu-daya yang perlu ditetapkan terlebih dahulu yaitu :
  • Tegangan maksimal catu-daya
  • Arus maksimal yang akan dihasilkan oleh catu-daya
  • Tegangan minimal catu-daya
Semua itu bekerjasama dengan : Untuk apa catu-daya itu akan digunakan.
Contoh : Pada sebuah rangkaian power-amplifier OCL tertera tegangan suplai +45V dan -45V. Pada keterangan teksnya tertulis konsumsi arus maksimal yaitu 2A.
Bagaimanakah rancangan catu-daya untuk power-amplifier tersebut?

Tegangan suplai yang tertera pada rangkaian-rangkaian power-amplifier umumnya merupakan tegangan maksimal, kecuali jikalau ada keterangan khusus. Tegangan maksimal ini akan terukur dengan DC Voltmeter dikala catu-daya belum dibebani arus yang besar.
Arus maksimal yang akan dihasilkan oleh catu-daya yaitu arus maksimal beban, dalam hal ini 2A.
Sedangkan tegangan minimal (Vmin) secara gampang sanggup diambil dari angka tegangan AC. Jadi, Vmin = VAC.
Besar tegangan VAC sanggup diketahui dari :

VAC = Vmax / (√2)

Atau sanggup juga ditulis : VAC = Vmax / 1,41.
Vmax yaitu tegangan maksimal. Jika Vmax = 45V, maka VAC = 32V.
Maka kini telah lengkap datanya :
  • Tegangan maksimal catu-daya = +- 45V
  • Arus yang akan dihasilkan oleh catu-daya = 2A
  • Tegangan minimal catu-daya = +- 32V.
Dari data-data itu sanggup disimpulkan :
  • Transformator yang akan dipakai yaitu transformator CT dengan tegangan 2 x 32V, dan memiliki kemampuan arus 2A atau lebih.
Menggunakan transformator 2A yaitu batasan minimal, sedangkan yang lebih baik yaitu jikalau memakai transformator 2,5A atau 3A.   Ini dilakukan dengan pertimbangan apabila beban (dalam hal ini power-amplifier OCL) terus-menerus menarik arus yang maksimal transformator tidak akan terlalu panas sehingga dikhawatirkan akan rusak.
Apabila dikehendaki suplai untuk power-amplifier versi stereo, maka besar arus harus diperhitungkan dua kali lipat.
  • Dioda bridge yang dipakai harus memiliki IF (Forward current) atau arus maju maksimal di atas 2A, contohnya 3A.  Untuk versi strereo sebaiknya memakai dioda dengan IF 6A.
  • Ketentuan PIV (Peak Inverse Voltage) atau puncak tegangan terbalik pada dioda harus lebih besar dari : 2Vmax.
Apabila Vmax yaitu 45V, maka 2Vmax yaitu 90V.
Dalam penyearahan gelombang penuh tinggi tegangan bias terbalik akan ada setinggi itu dan dioda harus memiliki ketahanan terhadap tegangan terbalik setinggi itu. Oleh lantaran itu angka PIV dioda (dilihat dari lembaran data dioda) harus berada di atas 2Vmax.
Kesimpulan : Dioda bridge yang dipilih yaitu diode bridge 3A (6A untuk versi stereo) dengan PIV di atas 90V (misalnya 200V atau lebih).
Dioda bridge bisa disusun dari empat dioda 1N5402 (untuk IF 3A dan PIV 200V) atau 1N1344B (untuk IF 6A dan PIV 200V).

Kini, sesudah mengetahui ihwal transformator dan dioda penyearah yang akan digunakan, selanjutnya yaitu memilih kondensator perata (smoothing-condensator).  Kondensator perata ini ada dua dan berkapasitas sama, yang akan dipasang di antara tegangan keluaran + (positif) dengan ground dan di antara tegangan keluaran – (negatif) dengan ground.
Namun sebelum itu perlu diketahui terlebih dahulu ihwal besar Vrpp.  Vrpp yaitu tegangan “ripple” (tegangan kerut) puncak ke puncak.
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa tegangan Vmax akan terukur dikala catu-daya belum dibebani arus yang besar.  Namun dikala catu-daya dibebani sampai mengeluarkan arus maksimal maka tegangan akan terukur kira-kira sama dengan tegangan VAC, ini yaitu tegangan minimal (Vmin).  Kondisi menyerupai ini masih dianggap wajar.
Jika Vmax yaitu 45V dan Vmin yaitu 32V maka terdapat selisih tegangan sebesar 13V.  Tegangan inilah yang boleh dikatakan sebagai tegangan ripple (Vrpp).  Jadi, Vrpp = Vmax – Vmin.
Untuk mendapat nilai kapasitas kondensator perata bisa dihitung dari :

C = (IL / Vrpp) / 2f.

C yaitu kapasitas kondensator perata dalam Farad (F)
IL yaitu arus beban dalam Ampere (A)
Vrpp yaitu tegangan ripple puncak ke puncak dalam Volt
f yaitu frekwensi gelombang AC listrik, yaitu 50Hz.
Frekwensi gelombang AC listrik (f) dalam penyearahan gelombang penuh yaitu dikalikan dua, sehingga dalam rumus di atas ditulis : 2f.
  • Kondensator perata yang diharapkan yaitu :
C = (2 / 13) / 100 = 0,001538F atau 1538µF.

Nilai kapasitas 1538 yaitu tidak standard, lantaran itu dipakai nilai standar yang mendekati ke atas, yaitu 2200µF.   Tegangan maksimal kondensator harus berada di atas Vmax.
Maka kondensator perata yang diharapkan yaitu elco 2200µF/50V.
Untuk versi stereo arus IL menjadi dua kali lipat sehingga kondensator perata yang diharapkan yaitu :

C = (4 / 13) / 100 = 0,003077F atau 3077µF.

Nilai standar yang mendekati yaitu 3300µF/50V.
Perlu dicatat bahwa nilai kapasitas kondensator perata yang didapat itu yaitu dalam kriteria minimal, alasannya di dalam perhitungannya dimasukkan Vrpp sebesar 13V.  Untuk mendapat hasil yang lebih baik Vrpp perlu ditekan biar lebih kecil lagi yaitu dengan memakai kondensator yang lebih besar, contohnya 3300µF atau 6800µF untuk versi stereo.

Happy learning!


Tulisan ihwal catu-daya yang lain :
DC regulator sederhana dengan tegangan 3V - 12V 
DC regulator tahan hubung singkat .

Transfomator Ct Dari Transformator 0V

Transformator biasa (transformator 0V) bahwasanya sanggup juga difungsikan sebagai transformator CT, berikut ini ulasan singkat wacana caranya.

Tentang transformator CT dan keperluan terhadapnya.
Adakalanya sebuah transformator CT (center-tap) diharapkan untuk menciptakan power-supply tegangan terbelah atau power-supply tegangan simetrik.  Tetapi dikala yang tersedia hanyalah transformator yang bukan CT (transformator 0V) mungkin yang terpikir yakni membeli transformator yang baru, padahal belum tentu itu perlu dilakukan lantaran mungkin saja transformator yang ada sanggup difungsikan sebagai transformator CT.
Transformator CT yakni transformator yang memiliki dua gulungan sekunder yang sama terhubung secara seri.  Dengan kata lain : Transformator yang memiliki gulungan sekunder yang di-tap (dibuat terminal sambungan) sempurna pada titik tengah gulungannya, itulah sebabnya ada sebutan “center-tap” yang berarti “tap tengah”.

 bahwasanya sanggup juga difungsikan sebagai transformator CT Transfomator CT dari Transformator 0V

Pada gambar diperlihatkan sebuah transformator dengan gulungan sekunder sebanyak (misalnya) 50 gulungan untuk menghasilkan tegangan 50V, maka tap tengahnya (CT) dibentuk sempurna pada gulungan ke-25. Dengan demikian dari A ke CT akan terdapat tegangan AC sebesar 25V (sesuai jumlah gulungannya) dan dari CT ke B juga terdapat tegangan AC 25V.  Secara keseluruhan, dari A ke B tegangannya yakni sebesar 50V.
Jadi, apabila A dianggap titik nol Volt, maka CT akan menjadi titik 25V, dan B menjadi titik 50V.  Karena itu transformator nol Volt yang memiliki titik-titik tegangan 25V dan 50V sanggup difungsikan sebagai transformator CT 2x25V.  Begitu pun sebaliknya, kalau yang diinginkan yakni justeru transformator nol-Volt biasa dengan tegangan 50V maka sanggup didapatkan dari transformator CT dengan mengambil dari dua titik yaitu A dan B (25V + 25V).

Transformator CT diharapkan dikala hendak menciptakan power-supply untuk rangkaian-rangkaian penguat OCL atau rangkaian lain yang memerlukan suplai tegangan simetrik.  Tentang power-supply jenis ini telah dibahas dalam :
Catu-daya Tegangan Terbelah .
Transformator CT juga diharapkan untuk penyearahan gelombang penuh dengan arus yang maksimal. Penyearahan gelombang penuh memakai dua dioda dari transformator CT juga telah dibahas dalam :
Penyearahan Gelombang Penuh .
Dipersilahkan mengikuti ulasan itu bagi yang belum jelas.

Transformator nol-Volt diharapkan untuk menciptakan power-supply menyerupai yang diharapkan oleh penguat-penguat sistem OTL atau rangkaian lain yang memerlukan suplai tegangan tunggal.

Beberapa tumpuan penerapan.
Umumnya transformator nol-Volt yang tersedia di pasaran memiliki banyak tap/terminal untuk pilihan tegangan. Contohnya transformator nol-Volt 0,5A dijual di pasaran dengan pilihan tegangan 3V, 4,5V, 6V, 7,5V, 9V dan 12V. Transformator ini sanggup dimanfaatkan sebagai transformator CT untuk tegangan 2x3V, 2x4,5V atau 2x6V sebagaimana diperlihatkan pada gambar di bawah.

 bahwasanya sanggup juga difungsikan sebagai transformator CT Transfomator CT dari Transformator 0V

Contoh lainnya yakni :
Transformator 0V – 9V – 18V sebagai transformator CT 2x9V
Transformator 0V – 12V – 24V sebagai transformator CT 2x12V
Transformator 0V – 15V – 30V sebagai transformator CT 2x15V.

Happy learning!


Tulisan dasar wacana transformator : Mengenal transformator .

Memperbaiki Charger Hp

 Jika segala sesuatu ukurannya selalu perihal harga dan uang tentu saja akan ada perkataan Memperbaiki Charger HP
“Memperbaiki charger HP? Untuk apa? Kalau rusak buang saja, harganya kan murah...”
Jika segala sesuatu ukurannya selalu perihal harga dan uang tentu saja akan ada perkataan ibarat itu. Tetapi apabila yang dikedepankan yaitu ilmu, pelajaran dan pengalaman khas di dalam bidang elektronik maka perkataan ibarat itu tentu tidak akan ada.
Tulisan ini dibentuk untuk tujuan itu, lantaran di dunia elektronik tidak semuanya hanya menyangkut urusan harga dan uang.
Mudah-mudahan apa yang akan diulas di sini masih memiliki nilai positif dan masih mengandung manfaat.

Sistem charger HP (hand-phone) atau perangkat seluler.
Dahulu, di awal beredarnya HP di Indonesia kebanyakan charger HP menerapkan sistem transformator daya kecil dengan dioda-dioda penyearahnya (sistem penyearahan gelombang penuh pada frekwensi listrik 50-60Hz).
Namun dalam perkembangannya isu terkini kemudian berganti. Kini, rata-rata charger HP atau perangkat seluler sudah menerapkan sistem “switching-mode power-supply” (SMPS).
SMPS yaitu sistem power-supply yang lebih efisien dibandingkan dengan sistem penggunaan transformator daya konvensional 50-60Hz.
Di dalam charger HP yang banyak beredar rangkaian SMPS yang digunakan cukup sederhana, berikut ini yaitu dua teladan di antaranya :

 Jika segala sesuatu ukurannya selalu perihal harga dan uang tentu saja akan ada perkataan Memperbaiki Charger HP

Pada dasarnya SMPS yaitu rangkaian yang berosilasi pada frekwensi tinggi (beberapa puluh kHz atau bahkan lebih). Hasil osilasi itu berupa sinyal sinus yang cukup kuat, kemudian ditransfer oleh sebuah transformator berinti ferit sebagai tegangan keluaran sekunder. Tegangan itu berbentuk AC, kemudian disearahkan oleh dioda dan diratakan oleh sebuah kondensator perata, maka tegangan inilah yang kemudian dijadikan sebagai tegangan output DC (Vout) untuk digunakan sesuai keperluannya.

Pada gambar di atas diperlihatkan dua teladan model rangkaian charger HP yang banyak beredar di pasaran. Gambar (A) mengatakan teladan rangkaian dengan satu transistor, ini yaitu yang paling sederhana. Gambar (B) yaitu teladan rangkaian dengan dua transistor, rangkaian ini memiliki fungsi yang lebih lengkap, lantaran itu yang akan dijelaskan di sini yaitu rangkaian pada gambar (B) ini.
Lihat gambar (B), rangkaian mendapat suplai tegangan dari AC 220V yang pribadi disearahkan oleh dioda bridge D1-D4, hasil penyearahannya lebih tepat dari pada rangkaian pada gambar (A) lantaran menerapkan penyearahan gelombang penuh.
Untuk mengerti perihal ini silahkan ikuti ulasan detilnya dalam : Penyearahan gelombang penuh dengan kondensator perata .
T2 (biasanya tipe 13001 atau semisalnya) berperan sebagai osilator yang berosilasi lantaran mendapat umpan-balik positif dari pin 3 trf1 melalui C3 dan R3. Sementara itu D5 menyearahkan sebagian tegangan ac dari pin 3 trf1 menjadi tegangan DC negatif, kemudian diratakan oleh C2.
Apabila tegangan negatif di antara anoda D5 dan basis T2 telah mencapai tegangan zener Z1 (lebih sedikit), maka Z1 akan menghantar. Menghantarnya Z1 akan meredam sinyal pada basis T2 sehingga level tegangan ac hasil osilasi menjadi dibatasi olehnya. Dengan cara ibarat ini tegangan output dipertahankan pada level yang telah ditentukan, di mana level ini tergantung dari tegangan zener Z1.

T1 (biasanya tipe C945, C1815 atau semisalnya) bertugas mendeteksi tegangan pada R6. Ketika tegangan pada R6 ini membesar berarti T2 telah bekerja sampai dilalui arus yang besar pula (R6 yaitu rangkaian resistor emitor dari T2). Biasanya ini terjadi bila rangkaian dibebani penarikan arus yang cukup besar (overload).
Setiap kali tegangan telah mencapai level yang kira-kira setara dengan tegangan pengaktif bagi basis-emitor T1 maka T1 akan menghantar dan meng-ground-kan basis T2. Akibatnya kerja T2 menjadi terkurangi secara drastis, yaitu pada ketika ayunan tegangan positif pada R6 telah melebihi batas yang ditentukan.
Pembatasan oleh T1 ini ditentukan oleh besarnya nilai R6 (biasanya sekitar 10Ω).

Kerusakan umum charger HP.
Di antara kerusakan yang umumnya sering terjadi yaitu :
1.Tegangan output ada (lampu indikator menyala) tetapi ketika digunakan charging tegangan menjadi drop, di HP terlihat pemberitahuan bahwa charging terputus kemudian berganti dengan charging tersambung, kemudian berganti lagi terputus (terus menerus berganti-ganti).
2.Mati total (lampu indikator tidak menyala).

Kerusakan pada poin pertama sanggup disebabkan dua hal : kabel yang sudah buruk atau ada elco di dalam rangkaian SMPS yang sudah rusak/kering.
Kabel penghubung antara charger dengan HP apabila sudah buruk sanggup menimbulkan hal ibarat itu. Sebaiknya kabel dilepas kemudian diperiksa kedua pecahan kabel di dalamnya dengan memakai Ohm-meter X1 atau X10, apakah ada salah-satunya yang kadang tersambung kadang tidak. Sambil menempelkan kedua tuas tester pada setiap pecahan ujung dari satu pecahan kabel dalam, kabel itu digoyang-goyangkan atau ditarik-ulur biar terperinci bahwa di pecahan itu memang kadang tersambung kadang tidak.
Apabila ternyata masih tersambung meskipun sudah digoyang-goyangkan atau ditarik-ulur, maka investigasi dilakukan terhadap pecahan kabel dalam yang satunya lagi dengan cara ibarat itu juga.
Apabila kabel ternyata memang sudah buruk maka diganti dengan yang masih baik.
Apabila ternyata masih anggun maka investigasi dilakukan ke tahap berikutnya.

Elco yang rusak juga sanggup menimbulkan tanda-tanda ibarat yang disebutkan di atas. Yang paling sering rusak yaitu elco C1 (biasanya berkapasitas 2,2µF/400V).  Elco yang rusak secara fisik akan terlihat pecahan atasnya menggelembung (gendut) atau pecahan bawahnya (setelah dicabut) terlihat ada kotoran bekas cairan elektrolit elco yang bocor keluar dan telah mengering. Tetapi biar lebih niscaya sebaiknya elco ini dicabut dan ditest dengan AVO-meter.
Ketika melaksanakan penggantian terhadap C1 sebaiknya C2 juga diganti (nilai kapasitasnya antara 0,33...1µF/50V).
C5 juga mungkin saja rusak. Kerusakan umum C5 yaitu kapasitasnya yang menyusut akhir cairan elektrolit di dalamnya sudah mulai mengering atau tidak berfungsi sama sekali. Kerusakan C5 akan berakibat turunnya tegangan output (Vout) sehingga proses charging menjadi tidak stabil.

Kerusakan pada poin kedua sanggup disebabkan majemuk hal, antara lain : Kabel putus di dalam, R1 atau R2 rusak (putus), trf1 rusak atau rusaknya T2 beserta komponen-komponen lainnya.
R1 yang nilainya 1Ω/0,25W biasanya rentan rusak lantaran ia juga berfungsi sebagai fuse. Resistor itu sanggup pribadi ditest tanpa harus mencabutnya dengan AVO-meter pada posisi Ohm X1.
R2 yang putus harus ditest dengan mencabutnya terlebih dahulu dari rangkaian, kemudian dilakukan pengetesan dengan memakai AVO-meter pada posisi Ohm X100k, pastikan bahwa ia tidak putus atau nilainya tidak melenceng jauh.
Apabila R2 ternyata tidak rusak, kemungkinan kerusakan pada T2.
Rusaknya T2 biasanya disertai dengan kerusakan pada komponen-komponen yang lain ibarat R1, R5, R6, Z1 atau sering juga D1...D4 dan T1 ikut rusak. Komponen-komponen itu perlu ditest satu-persatu. Yang sudah rusak diganti dengan yang masih baik dan yang masih anggun dikembalikan ke posisinya semula.
Jika semua komponen itu sudah dipastikan tidak ada yang rusak tetapi charger masih belum berfungsi secara normal (Vout tidak ada), maka kemungkinan paling besar selanjutnya yaitu bahwa trf1 sudah rusak. Gantilah dengan tipe yang sama yang masih berfungsi normal (hasil cabutan atau lainnya). Perhatikanlah pola susunan sambungan dari pin-pin-nya harus sama (lihat gambar rangkaian di atas), lantaran transformator ferit ibarat ini tidak semuanya berpola sama meskipun secara fisik bentuknya mirip.

Sampai di sini, usailah ulasan singkat perihal Memperbaiki Charger HP .
Mungkin ada yang sanggup disimpulkan dari hal ini, bahwa ternyata memang tidak ada sesuatupun yang patut untuk disepelekan.
Apapun bila diselami, tidak ada yang tidak mengasyikkan...

Happy repairing!

Memperbaiki Tv, Pengenalan Power-Supply Tv

Seri perbaikan TV (2) : Pengenalan sistem power-supply TV

Power-supply/catu-daya dalam akseptor TV ialah salah-satu bab yang cukup vital. Dari semenjak dulu sampai kini power-supply TV selalu dipersyaratkan memiliki tegangan keluaran yang stabil, faktor “ripple” yang rendah, serta bisa mensuplai banyak bab rangkaian di dalam TV dengan daya yang memadai.
Karena itu power-supply untuk TV tidak sama dengan power-supply untuk perangkat elektronik lainnya menyerupai radio-tape recorder atau audio-amplifier.  Power-supply TV ialah khas, tersendiri.
Tegangan keluarannya digunakan untuk mensuplai banyak sekali bab rangkaian di dalam TV menyerupai rangkaian output horizontal, rangkaian output video, rangkaian vertikal, rangkaian audio bahkan rangkaian digital untuk pemrograman channel.
Pada masa-masa terdahulu power-supply TV menerapkan sistem regulasi (pengaturan dan penstabilan) tegangan DC yang disearahkan pribadi dari sumber AC 110V atau 220V (regulator linier). Sebagian menerapkan regulasi tegangan DC yang disearahkan dari sumber transformator konvensional 50/60Hz.
Kini, rata-rata rancangan power-supply TV menerapkan sistem SMPS (Switching Mode Power Supply).

SMPS dalam power-supply TV.
SMPS ialah sistem power-supply yang lebih efisien dengan tegangan keluaran yang stabil dan faktor ripple yang sangat rendah. SMPS juga bisa menghasilkan tegangan keluaran yang tetap stabil meskipun tegangan masukan berubah-ubah/naik-turun antara 90-260V.  Karakter ini tidak dimiliki oleh power-supply yang menerapkan regulator linier.
Kelebihan lain dari SMPS ialah lebih simpel (ringkas) tidak banyak memakan daerah meskipun daya yang dikeluarkannya cukup besar.

Pada dasarnya SMPS ialah sirkit yang menghasilkan guncangan listrik besar lengan berkuasa berbentuk denyut-denyut tegangan dengan timing yang sangat sempit (sekitar 11 - 7µs atau leih kecil lagi dari itu). Denyut-denyut listrik yang besar lengan berkuasa ini terinduksikan ke satu gulungan pada sebuah transformator berinti ferit (disebut trafo switching) untuk ditransfer ke beberapa bab gulungan sekundernya. Penggunaan transformator ferit yang berbentuk kecil namun berdaya besar hanya dimungkinkan untuk mentransfer denyut-denyut dengan timing yang sangat sempit, atau kalau untuk mentransfer gelombang AC maka gerombang AC itu haruslah berfrekwensi cukup tinggi, tidak bisa dilakukan untuk frekwensi rendah listrik 50-60Hz.
Dibuat banyak bab gulungan sekunder pada trafo switching semoga tegangan keluaran power-supply menjadi banyak pula.
Ada gulungan untuk tegangan keluaran 115V, ada gulungan 24V, ada gulungan 16V, 14V, 12V dan seterusnya, tergantung kebutuhan tegangan untuk suplai rangkaian TV yang bersangkutan.

Peruntukan tegangan-tegangan keluaran power-supply ini sebetulnya tidak berstandar, tetapi yang paling umum ialah sebagai berikut :
  • Tegangan keluaran +115V (sebagian TV menerapkan 125-130V) ialah untuk suplai rangkaian output horizontal
  • Tegangan keluaran +24V biasanya untuk suplai rangkaian output vertikal. Beberapa TV yang memiliki kemudahan audio daya tinggi (stereo home-theatre) memakai tegangan ini untuk suplai rangkaian audio-amplifiernya.
  • Tegangan keluaran +14V atau +16V lebih sering digunakan untuk suplai rangkaian audio-amplifier (penguat bunyi tingkat akhir).
    Dalam beberapa rancangan tegangan keluaran +12V tidak ada. Keperluan tegangan +12V diambil dari tegangan keluaran +14V sesudah diturunkan levelnya oleh IC regulator 7812.
  • Tegangan keluaran +12V biasa digunakan untuk suplai pin MB pada tuner dan juga untuk keperluan-keperluan suplai tegangan di bawah level itu. Sebagai pola rangkaian IF, demodulator, chroma atau yang lainnya (misalnya) membutuhkan tegangan +8V, maka diambil dari tegangan keluaran +12V ini sesudah diturunkan levelnya oleh IC regulator 7808. Rangkaian digital untuk pemrograman channel TV memerlukan suplai tegangan +5V maka diambil dari tegangan keluaran IC 7808 sesudah diturunkan lagi levelnya oleh IC regulator lainnya, yaitu 7805.
    Di sini disebutkan beberapa nomor IC regulator, bagi yang belum mengerti tentangnya sanggup mengikuti ulasan khususnya dalam : Keluarga IC regulator 78xx dan 79xx .

    Tegangan +12V adakalanya juga digunakan untuk suplai rangkaian audio-amplifier untuk TV kecil dengan daya audio yang tidak besar.
  • Tegangan keluaran +180V (jika ada) biasanya ialah untuk suplai rangkaian output video. Bagian rangkaian ini ialah yang membutuhkan tegangan suplai paling tinggi.
Rangkaian main-power TV.
Setiap modul rangkaian SMPS membutuhkan sumber tenaga utama (main-power) semoga ia sanggup bekerja menawarkan suplai tegangan kepada TV, ini diambil dari tegangan AC listrik 220V.
Perhatikan gambar berikut :

supply TV selalu dipersyaratkan memiliki tegangan keluaran yang stabil Memperbaiki TV, pengenalan power-supply TV

Tegangan AC 220V masuk ke dalam rangkaian main-power sesudah melalui main-switch (saklar on-off TV), sekering/fuse F1 dan kumparan “choke” La (kumparan peredam). La bersama dengan Ca, Ra dan Cb membentuk suatu filter semoga tegangan bebas dari interferensi denyut-denyut derau atau frekwensi-frekwensi liar yang mungkin terdapat pada jaringan listrik yang nantinya sanggup mempengaruhi kinerja rangkaian SMPS. Gangguan-gangguan yang difilterisasi itu sering diistilahkan dengan EMI (Electro Magnetic Interference).

supply TV selalu dipersyaratkan memiliki tegangan keluaran yang stabil Memperbaiki TV, pengenalan power-supply TV

Sebagian tegangan AC diberikan kepada gulungan kawat tanpa inti Lc (degaussing-coil) yang dipasang melingkar di seputar sisi tabung CRT sesudah melalui sebuah posistor (NTC) Rb. Fungsi degaussing coil ialah mengkondisikan layar CRT semoga tidak dipengaruhi medan magnet searah bumi. Ini alasannya ialah layar CRT sangat peka terhadap efek medan magnet searah.

supply TV selalu dipersyaratkan memiliki tegangan keluaran yang stabil Memperbaiki TV, pengenalan power-supply TV

Tegangan AC kemudian disearahkan dengan penyearahan gelombang penuh oleh dioda bridge, kemudian diratakan oleh kondensator perata Cc yang berkapasitas antara 100 - 330µF/400V. Kondensator ini ialah kondensator paling besar di sirkit main-power TV.
Adapun Lb ialah kumparan peredam pemanis saja. Tidak semua TV menerapkan ini.
Hasilnya ialah tegangan DC setinggi (kurang lebih) 300V.
Tegangan setinggi itu ialah tegangan maksimal (Vmax) yang didapatkan dari hasil penyearahan gelombang penuh tegangan AC 220V.
Mengapa menjadi 300V?
Tentang ini telah dibahas detil dalam : Penyearahan gelombang penuh .

Tegangan DC 300V ini kemudian diberikan kepada rangkaian power-supply SMPS TV.

Berikutnya, seri perbaikan TV (3) : Pengenalan rangkaian power-supply TV .

Sebelumnya, seri perbaikan TV (1) : Pengenalan sistem TV analog .

Happy learning!

Membuat Charger Aki Manual

Aki/accumulator seringkali perlu untuk diisi ulang ketika tegangannya telah drop (jatuh menurun). Tegangan aki yang drop sanggup saja terjadi akhir sistem charger pada kendaraan bermasalah, atau kondisi aki yang telah memburuk sehingga perlu untuk di-rekondisi.  Setelah di-rekondisi maka perlu untuk diisi ulang.
Sebagian orang mungkin akan menjadi riskan bila harus selalu mendatangi “tukang setrum aki” setiap kali permasalahan menyerupai itu ada.  Alangkah baiknya apabila memiliki charger aki sendiri yang sanggup dipakai setiap kali diperlukan.
Tulisan ini akan mengulas bagaimana menciptakan charger aki sendiri yang mudah dan mudah.

Memang telah banyak beredar aneka macam macam sketsa rangkaian charger aki otomatis, namun tidak setiap orang bisa membuatnya dengan tepat dan kalaupun bisa dibentuk tidak semua orang sanggup memakai sesuai keperluannya.
Charger aki manual (yang tidak otomatis) mungkin menjadi pilihan yang paling mudah, meskipun penggunaannya agak sedikit lebih merepotkan. Ingatlah, rata-rata tukang setrum aki memakai charger manual, tentu mereka punya alasan tersendiri menurut pengalaman mereka...

Charger aki sederhana .
Berikut ini yaitu sketsa rangkaian pengisi/charger aki 12V sederhana yang sanggup dibuat, komponen utamanya hanya sebuah transformator dan dua dioda penyearah.

accumulator seringkali perlu untuk diisi ulang ketika tegangannya telah drop  Membuat Charger Aki Manual

Daftar komponen charger aki sederhana :
Trf1 = transformator 2x15V / CT / 3A murni (untuk aki 5AH) atau 2x15V / CT / 5-7A murni (untuk aki 30 – 40AH)
D1, D2 = dioda 5A (untuk aki 5AH) atau dioda 10A (untuk aki 30 – 40AH)
Sw1 = toggle-switch
Sepasang capit buaya
R1, R2 = 10Ω / 25W (untuk aki 5AH) atau 3,9Ω / 25W (untuk aki 30 – 40AH)
R3 = 820Ω
Led1 = Led indikator merah besar.

Pada gambar (A) diperlihatkan sketsa rangkaian charger aki sederhana. Rangkaian menerapkan penyearahan gelombang penuh yang belum tepat alasannya yaitu tanpa memakai kondensator perata.
Tentang ini telah dibahas di dalam goresan pena sebelumnya : Penyearahan gelombang penuh .

Dengan rangkaian menyerupai itu saja aki sudah sanggup di-charge dengan baik. Akan tetapi ada resiko timbul panas berlebihan pada dioda dan transformator bila kondisi aki sedang dalam keadaan sangat kosong. Jika aki telah terisi penuh, resiko pengisian yang berlebihan (over-charge) lebih besar ada dengan sketsa rangkaian menyerupai ini.
Untuk mengatasi hal itu pada ketika proses pengisian hendaknya suhu transformator lebih banyak dikontrol, apakah menjadi terlalu panas ataukah hanya panas yang masuk akal saja. Jika terlalu panas (hingga besi transformator sulit disentuh dengan tangan) maka proses pengisian harus dilarang dan proses pengisian dilanjutkan sehabis suhu transformator kembali turun.
Sehubungan dengan hal ini tidak bisa tidak bahwa transformator yang dipakai haruslah yang berkwalitas baik.

Pada gambar (B) diperlihatkan sketsa rangkaian charger aki dengan dilengkapi resistor pembatas arus. R1 dan R2 yaitu dua resistor yang seharusnya bernilai sama, dipasang paralel untuk mendapat kemampuan dibebani daya yang lebih besar.  R1 dan R2 secara bahu-membahu akan menurunkan tegangan yang diberikan ke aki ketika proses pengisian.
Normalnya, arus pengisian yang mengalir melalui R1 dan R2 setidaknya 500mA untuk aki 5AH (aki sepeda motor) dan 2A untuk aki 30 – 40AH (aki mobil). Karena itu nilai R1 dan R2 akan berbeda untuk arus pengisian yang berbeda-beda pula.
Nilai R1 dan R2 sanggup dipilih sesuai arus pengisian yang diinginkan. Apabila arus pengisian dibesarkan maka nilai R1 dan R2 dipilih yang lebih kecil. Waktu pengisian pun akan berlangsung relatif tidak lebih lama.
Apabila arus pengisian dikecilkan maka nilai R1 dan R2 dipilih yang lebih besar. Meskipun waktu pengisian menjadi relatif lebih lama, tetapi arus pengisian yang lebih kecil akan menciptakan aki menjadi lebih abadi alasannya yaitu resiko over-charge lebih diminimalkan.

Resistor R3 dan Led1 dipasang sebagai indikator power.
Untuk Sw1 dipakai switch togel 3 pin. Sebaiknya gunakan switch yang berkwalitas bagus.

Konstruksi dan petunjuk penggunaan.
Setelah rangkaian final dibuat, tempatkan rangkaian pada kotak yang terbuat dari kayu atau logam, tidak disarankan menempatkannya di kotak yang terbuat dari plastik alasannya yaitu cenderung akan meleleh bila panas meninggi. Kotak logam atau kaleng akan lebih baik alasannya yaitu bisa menyerap dan menghantarkan panas. Jika sulit menemukan kotak logam khusus yang sesuai di toko-toko elektronik, bisa saja rangkaian di tempatkan di kotak bekas power-supply komputer, atau kotak bekas kaleng biskuit...

Hal yang perlu dicatat yaitu bahwa charger dipakai untuk mengisi aki yang masih normal (elemen-elemennya belum rusak). Jika aki yang hendak diisi ulang yaitu aki yang sudah rusak (elemen-elemennya sudah hancur), maka charger yang canggih sekalipun tidak akan sanggup mengisinya. Karena itu pastikan bahwa aki yang hendak diisi ulang memang masih layak pakai.

Untuk menggunakannya sambungkan charger ke sumber AC listrik 220V dan kemudian jepitkan capit buaya merah ke terminal elektroda + (positif) pada aki dan capit buaya hitam ke elektroda – (negatif) pada aki, sehabis itu on-kan switch sw1.
Setelah berjalan kurang-lebih satu menit, kontrol panas pada transformator. Kondisi yang normal bukanlah bila transformator tidak panas sama-sekali, tetapi transformator tetap panas namun tidak berlebihan sehingga tubuh besinya menjadi sulit disentuh dengan tangan.
Sesekali di-check apakah aki sudah penuh terisi ataukah belum, yaitu dengan melepas salah satu capit buaya kemudian mengukur tegangan aki dengan AVO-meter pada posisi DCV 50. Aki sudah terisi penuh bila tegangan telah mencapai sekitar 13V.
Perlu diketahui bahwa waktu untuk mengisi ulang aki tidaklah secepat menyerupai mengisi ulang baterai hand-phone. Waktu yang diharapkan akan berjam-jam bahkan mungkin sampai seharian atau lebih, tergantung kondisi aki.
Memang begitu.

Keep happy soldering!

Mengenal Dc

  Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap Mengenal DC
DC yaitu abreviasi dari Direct Current, artinya arus searah.   Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap, tidak terjadi perubahan-perubahan polaritas di sepanjang waktunya, alasannya yaitu itu pada DC tidak ada istilah frekwensi.
Tegangan DC yang tepat yaitu tegangan dengan kurva yang lurus.  Tegangan DC yang menyerupai ini terdapat secara alamiah pada segala bentuk baterai.
Polaritas atau potensial tegangan DC bisa berupa :
  • Tegangan + (positif) terhadap nol volt (0V)
  • Tegangan – (negatif) terhadap 0V
  • Tegangan positif dan tegangan negatif terhadap 0V
  • Tegangan positif terhadap negatif.
  Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap Mengenal DC
Nol Volt (0V) yaitu titik netral, biasanya difungsikan sebagai ground.
Gambar (1) menawarkan referensi tegangan + terhadap 0V. Antara (a) dan 0V terdapat tegangan sebesar +9V.
Gambar (2) menawarkan referensi tegangan – terhadap 0V. Antara (b) dan 0V terdapat tegangan sebesar -9V.
Gambar (3) menawarkan referensi tegangan + (positif) dan tegangan – (negatif) terhadap 0V.  Ada dua tegangan yang sama besar terhadap 0V, namun berlawanan polaritas, yaitu polaritas + dan -.
Dua tegangan DC dengan dua polaritas terhadap 0V yang menyerupai ini disebut tegangan terbelah (split-voltage).  Ketika dua tegangan itu memiliki angka yang sama maka disebut juga tegangan simetrik.
Gambar (3) juga menawarkan referensi tegangan + (positif) terhadap – (negatif) jikalau titik 0V diabaikan. Karena kedua tegangan itu masing-masing memiliki besaran angka 9V (terhadap 0V), maka antara (a) dan (b) terdapat tegangan setinggi 18V.

DC untuk tenaga (power).
Tegangan berbentuk DC lebih diharapkan untuk menyuplai perangkat-perangkat yang mengandung rangkaia-rangkaian elektronik di dalamnya.  Setiap rangkaian elektronik di mana di dalamnya terdapat komponen-komponen aktif menyerupai transistor, dioda dan IC selalu memerlukan suplai tegangan DC.  Apabila tegangan yang tersedia berbentuk AC (misalnya dari transformator) maka perlu dilakukan penyearahan terlebih dahulu semoga menjadi berbentuk DC.   Tentang ini telah dibahas di dalam ulasan sebelumnya :
Penyearahan gelombang penuh dengan kondensator perata .

Biasanya sumber tenaga listrik DC banyak mengandalkan dari baterai sedangkan baterai hanya memiliki tegangan yang rendah.  Daya yang bisa dihasilkan juga hanyalah daya dalam level yang tidak besar. Karena itu sistem tenaga listrik DC lebih dikenal sebagai sistem daya terbatas bertegangan rendah.
Sebagai contoh, daya pada sistem AC 220V sebesar 1300W yaitu daya untuk keperluan rumah yang dikala ini sudah lumrah.  Daya sebesar itu gampang dihasilkan oleh generator dan relatif gampang didapatkan oleh setiap rumah pada sistem AC tegangan tinggi.  Dan daya sebesar itu memang diharapkan alasannya yaitu rata-rata di setiap rumah pada dikala ini terdapat banyak sekali peralatan elektronik menyerupai lemari es, TV, rice-cooker, setrika listrik, water-dispenser, mesin cuci, komputer (PC), lampu penerangan yang banyak dan lain-lain.
Akan tetapi daya sebesar 1300W itu bukanlah hal yang gampang bagi sistem DC tegangan rendah.
Untuk menghasilkan daya sebesar itu dari sumber tegangan 12V atau 24V (tegangan aki/baterai) harus berapa Ampere arus yang bisa dihasilkan oleh baterai?
Daya 1300W dari tegangan 12V memiliki besar arus 108 Ampere, sedangkan dari tegangan 24V arusnya yaitu 54 Ampere.  Bisa dibayangkan betapa tebal kabel-kabel instalasinya.  Selain itu baterai tampungan yang diharapkan (apabila memakai baterai konvensional yang ada) yaitu baterai yang sebesar lemari pakaian anak-anak!
Ya... niscaya sangat mahal harganya.
Belum lagi dilema pengisian ulang baterai, apakah penghasil listrik rumahan yang ada memang bisa mengisi ulang baterai sebesar itu hanya dalam waktu beberapa jam?
Inilah yang dimaksud dengan “daya terbatas”.
Namun biar bagaimanapun kelebihan dari sistem DC tegangan rendah tetap ada. Listrik DC yaitu listrik yang bisa disimpan.  Penyimpanan dilakukan di dalam “bank” power, yaitu baterai-baterai yang tersedia. Semua perangkat elektronik portabel (tentengan) dan yang bersifat “mobile” disuplai dari sumber DC, yaitu baterai.
Kelebihan lainnya yaitu bahwa di dalam sistem kelistrikan DC murni yang tidak melibatkan inverter (perubah DC ke AC tegangan tinggi) tidak ada resiko terkena sengatan listrik.

Penggunaan DC untuk keperluan tenaga listrik umum bukan tidak pernah dikemukakan orang untuk digunakan.
Pada tahun 1880 seorang insinyur tenaga kelistrikan dari Swiss Rene Thury telah mendemonstrasikan penggunaan motor-seri sebagai generator untuk menghasilkan DC tegangan tinggi (High-Voltage DC). Tegangan tinggi memang menjadi solusi dilema transfer daya bekaitan efisiensi di dalam biaya instalasi.
Kemudian pada tahun 1887 Thomas Edison pernah menciptakan rancangan stasiun pendistribusian tenaga listrik DC di Amerika Serikat.  Edison mengemukakan sistem distribusi tenaga listrik DC pada tegangan simetrik +110V, 0V dan -110V.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, sistem AC dengan perangkat pendukungnya yaitu transformator ternyata terbukti lebih efisien dalam hal transfer daya listrik yang besar ke tempat-tempat yang lebih jauh.

Tentang tegangan, daya dan arus dalam DC.
Pada DC yang agak rumit dengan tegangan yang berbentuk denyut-denyut (misalnya tegangan dari hasil penyearahan AC ke DC oleh dioda-dioda penyearah) terdapat pembahasan perihal tegangan maksimal (Vmax), tegangan rata-rata (V-average), arus rata-rata (I-average), dan faktor ripple.   Itu semua telah dibahas dalam :
Penyearahan setengah gelombang
atau
Penyearahan gelombang penuh .
Namun DC murni dengan kurva tegangan yang berbentuk garis lurus bukanlah tegangan yang rumit.  Karena itu jikalau di dalam AC ada pembahasan perihal tegangan RMS (Root Mean Square), arus RMS, daya rata-rata (average-power), satuan tenaga VA (Volt-Ampere), satuan frekwensi dan lain-lain maka di dalam DC pembahasan perihal itu semua tidak ada.
Yang ada hanyalah sebagaimana pada hukum-hukum dasar kelistrikan :

V = I x R dan W = V x I.

Happy learning!

Interkom

Beberapa orang meminta dibuatkan alat komunikasi antar gardu ronda di kompleks perumahanny Interkom
Beberapa orang meminta dibuatkan alat komunikasi antar gardu ronda di kompleks perumahannya, maka jadilah interkom ini.

Interkom ialah alat komunikasi yang memakai kabel tunggal. Interkom sempat marak di selesai masa 80-an sebagai alat kounikasi antar rumah sampai mewabah di banyak sekali kota.
Banyak rumah-rumah di dalam satu desa atau satu kelurahan terhubung dengan interkom meskipun berjarak sampai beberapa kilometer.

Beberapa orang meminta dibuatkan alat komunikasi antar gardu ronda di kompleks perumahanny Interkom

Namun kini ini interkom sudah dilupakan orang.
Sebenarnya interkom ini adakalanya masih layak untuk digunakan.
Salah satu rujukan ialah penggunaan interkom untuk komunikasi antar gardu ronda di dalam satu kompleks perumahan yang agak besar di mana terdapat lebih dari satu pos jaga. Interkom terasa lebih internal daripada penggunaan HT 2 meter-band. Pembuatannya pun mudah, seorang praktisi pemula bahkan sanggup membuatnya.
Yang dibutuhkan hanyalah menarik rentangan kabel “Line” (kabel jalur) antara daerah yang satu dengan daerah lainnya supaya sanggup berkomunikasi. Dalam prakteknya rentangan kabel ini sanggup lewat bawah (lewat gorong-gorong atau lewat pendaman dalam tanah) atau melekat di sepanjang tembok pembatas perumahan sehingga tidak mengganggu. Jika ada satu atau dua rumah yang juga ingin ikut memantau atau berkomunikasi dengan petugas pos jaga, tinggal menautkan kabel saja dari rumah tersebut ke satu titik pada kabel Line yang terentang.

Skema rangkaian interkom .

Beberapa orang meminta dibuatkan alat komunikasi antar gardu ronda di kompleks perumahanny Interkom

Daftar komponen rangkaian interkom :
R1 = 10k
R2 = 390k
R3 = 1k5
R4, R8 = 220Ω
R5, R7 = 1k
R6 = 2k2
R9 = 5,6Ω
C1 = 104
C2 = 1µF/50V
C3 = 100µF/16V
C4 = 223
C5 = 103
C6 = 2,2µF/50V
C7, C8 = 470µF/16V
C9 = 1000µF/16V
T1 = C945
D1 = 1N4002
IC1 = TDA2002 (dengan keping pendingin)
VR1 = 20k
VR2 = 10k
Sw1 = Push switch 6 pin
Sw2 = on-off switch (togel atau geser)
Spkr = Speaker 8Ω
ECM = Kondensor mic besar

Interkom terdiri dari dua unit penguat/amplifier. Yang pertama ialah pre-amp mic dan yang kedua ialah po-amp (penguat akhir).
Pre-amp mic sederhana dibangun oleh T1 beserta komponen pasif di sekitarnya. Di sini mic yang dipakai ialah jenis ECM (Elektret Condenser Mic) untuk mendapat kepekaan yang lebih baik. Keluaran pre-amp mic disambungkan ke pin 4 Sw1 yang berfungsi sebagai saklar “dengar-bicara”.
Penguat selesai memakai IC po-amp TDA2002. IC ini dipakai alasannya ialah pertimbangan relatif gampang didapat, harganya tidak mahal, dan rangkaiannya pun tidak rumit.
Inputnya dihubungkan ke pin 5 Sw1 dan outputnya dihubungkan ke pin 2 Sw1.
Apabila interkom dalam posisi terima (receive) maka input IC dihubungkan oleh Sw1 untuk memungut sinyal dari kabel Line. Level penerimaan diatur oleh VR2.
Output IC dihubungkan ke speaker untuk mendengarkan suara.
Apabila interkom dalam posisi kirim (trans) maka input IC dihubungkan ke penguat mic oleh Sw1. Level sinyal bicara diatur oleh VR1. Sementara itu output IC dihubungkan ke kabel Line untuk mengirimkan sinyal bicara.
Jadi, setiap kali hendak bicara Sw1 perlu ditekan terlebih dahulu, sesudah selesai bicara dan hendak mendengarkan maka Sw1 ditekan kembali.

Untuk power-supply sanggup memakai sumber DC khusus ibarat aki atau baterai 12V, atau sanggup juga menciptakan rangkaian sebagaimana yang diperlihatkan pada gambar berikut ini :

Beberapa orang meminta dibuatkan alat komunikasi antar gardu ronda di kompleks perumahanny Interkom

Daftar komponen rangkaian power-supply :
R10 = 1k
C10 = 2200µF/25V
D2, D3 = 1N4002
Bridge = Dioda bridge 1A
LED1 = Led indikator merah
Trf1 = Transformator 2x12V / CT, 1A atau transformator 0 – 12V, 1A
Sw3 = on-off switch (togel atau geser).

Power-supply memakai transformator dengan penyearahan gelombang penuh oleh dioda-dioda dan perataan tegangan oleh kondensator filter (kondensator perata). Ini ialah power-supply standar yang umum dan sederhana.
Pada gambar (A) diperlihatkan rangkaian power-supply yang memakai transformator CT, sedangkan pada gambar (B) diperlihatkan rangkaian power-supply yang memakai transformator nol.
Khusus wacana ini telah dibahas dalam : Penyearahan gelombang penuh dengan kondensator perata

Tentang kabel Line dan ground interkom .
Untuk kabel Line yang terbaik ialah memakai kabel isi tunggal kecil (bukan kabel isi serabut) yang terbungkus dengan lapisan kulit kabel yang bagus, supaya tidak gampang terkelupas kalau terkena gesekan.
Ground sanggup dibentuk dengan menancapkan sebatang besi bangunan pada tanah yang lembab. Pada besi tersebut ditautkan kabel ground dan kemudian dihubungkan ke interkom. Semakin dalam penancapan besi akan semakin baik pula kwalitas ground.

Komunikasi lewat interkom relatif lebih aman, bebas radiasi frekwensi tinggi alasannya ialah memakai frekwensi audio dan tidak mengganggu peralatan elektronik lainnya ibarat yang sering terjadi kalau memakai pemancar radio.
Interkom juga bebas biaya pulsa seluler meskipun sepanjang hari dan sepanjang malam selalu dalam keadaan stand-by atau dipakai berkomunikasi tanpa henti.
Kelemahannya ialah ruang lingkupnya yang terbatas.

Keep happy soldering!

Memperbaiki Amplifier Otl

Memperbaiki audio-amplifier OTL tidaklah terlalu sulit, baik yang berbentuk IC ataupun yang berbentuk rangkaian dengan komponen-komponen terpisah.  Berikut ini ulasannya.
Namun sebelumnya perlu difahami terlebih dahulu wacana apa itu amplifier OTL, lantaran memperbaiki sesuatu yang sudah dimengerti tentu akan lebih baik dan lebih sanggup menghasilkan kerja yang efisien.

Sekilas wacana OTL.
OTL ialah kependekan dari Output Transformer Less, sebuah sistem audio amplifier yang meniadakan penggunaan transformator audio untuk menyesuaikan impedansi di jalur output-nya.
Di masa-masa yang kemudian sisterm amplifier ini sempat menjadi favorit lantaran bisa menghasilkan penguatan sinyal audio dalam spektrum hi-fi yang lebih baik dibandingkan dengan sistem pendahulunya, yaitu sistem OT (Output Transformer) yang memakai transformator audio di pecahan output-nya untuk menyesuaikan impedansi keluaran/output amplifier dengan impedansi speaker.
Amplifier OTL memerlukan power-supply tegangan tunggal, Contohnya ibarat pada gambar berikut :

 baik yang berbentuk IC ataupun yang berbentuk rangkaian dengan komponen Memperbaiki Amplifier OTL

Ciri dari amplifier OTL ialah :
  • Menggunakan power-supply tegangan tunggal, yaitu positif saja (terhadap 0Volt/ground) atau negatif saja (terhadap 0V atau ground)
  • Terdapat kondensator (elco) berkapasitas besar di jalur output untuk kopel sinyal ke speaker
  • Terdapat titik tengah ½ Vcc di mana terdapat tegangan DC sebesar (kira-kira) ½ dari tegangan suplai (Vcc).
Pada gambar yang pertama di atas diperlihatkan denah rangkaian amplifier OTL kecil dari sebuah radio Philips keluaran lama.  Suplai memakai tegangan tunggal minus (negatif).
Rangkaian dengan suplai tegangan negatif sering disebut dengan rangkaian “grounding positif”, meskipun yang menjadi ground ialah jalur netral (0V).  Di masa kini rangkaian dengan ground positif sudah hampir tidak ada, rata-rata memakai ground negatif.
Pada rangkaian ini tegangan ½ Vcc ditentukan oleh nilai resistor-resistor pada basis transistor depan AC179 yaitu 150Ω, 15k dan 15k.  Kondensator kopel ke speaker ialah yang berkapasitas 320µF.
Transistor depan menguatkan sinyal input ke taraf yang lebih besar kemudian risikonya diberikan kepada dua transistor final (transistor daya),yaitu pasangan komplementer AC127 dan AC128.  Kedua transistor ini bekerja menguatkan sinyal ac audio secara bergantian pada setengah putaran lebih dari periode sinyal dan risikonya ialah sinyal audio yang utuh yang telah memenuhi taraf untuk bisa membunyikan speaker.  Sinyal audio ini kemudian dilimpahkan ke speaker melalui kondensator 320µF.

Pada gambar kedua diperlihatkan denah rangkaian OTL yang lebih besar (di atas 20W) dari audio-amplifier Sansui.  Suplai memakai tegangan positif 52V, nilai yang tertera ini merupakan harga maksimal atau diistilahkan dengan Vmax.
Tentang Vmax tidak dibahas di sini, tetapi bisa diikuti lebih terperinci dalam : Penyearahan gelombang penuh .

Pola rangkaian yang kedua ini agak berbeda dengan yang pertama dan tegangan ½ Vcc ditentukan oleh susunan seri R801 dan R819.  R801 dibentuk variabel semoga bisa dilakukan penyetelan terhadap tegangan ½ Vcc dengan tepat.  Jika tinggi tegangan untuk rangkaian ini ialah 52V maka pada titik ½ Vcc akan terukur tegangan sekitar 25V atau lebih sedikit.
TR805 dan TR807 ialah dua transistor driver sedangkan TR809 dan TR811 ialah dua transistor akhir/transistor daya.  Kedua transistor driver dalam amplifier OTL dan OCL selalu merupakan pasangan komplementer walaupun transistor final ada kalanya bukan pasangan komplementer sebagaimana pada rangkaian ini, yaitu hanya dua transistor daya NPN yang bertipe sama.
D801 berperan sebagai sensor panas, lantaran sifat dioda yang menurun tegangan majunya (VFD) apabila terkena panas pada batas suhu tertentu.
Dioda ini berada erat dengan pecahan pendingin transistor akhir.  Apabila transistor final menjadi terlalu panas saat bekerja (menarik arus yang besar) maka dioda akan ikut terpanasi dan menjadi turun tegangan majunya.  Karena dioda dipasang di sirkit basis transistor driver maka efeknya ialah arus stasioner (arus kecil yang mengalir saat tanpa sinyal input) bagi transistor driver dan transistor final menjadi dikurangi, sehingga arus yang mengalir pada transistor-transistor final juga menjadi turun dan dengan demikian panas pun bisa berkurang.
VR803 menyetel besar arus stasioner bagi transistor final sekitar 20... 35mA.

Hasil penguatan sinyal oleh amplifier secara keseluruhan dilimpahkan/dikopel kepada speaker melalui kondensator C817.  Dengan adanya kondensator ini tegangan DC yang ada pada titik ½ Vcc tidak terhubung singkat ke ground oleh speaker.

Kerusakan umum pada amplifier OTL.
Di antara kerusakan yang paling sering terjadi ialah :
1.Tidak ada bunyi sinyal, kecuali hanya dengung (suara getaran listrik)
2.Suara ada tetapi kecil dengan disertai dengung
3.Suara ada tetapi terdengar cacat
4.Tidak ada bunyi dan tidak ada dengung

Kerusakan pertama biasanya disebabkan oleh rusaknya transistor-transistor driver dan transistor akhir.  Jika mereka rusak kemungkinan ikut rusak juga resistor-resistor di emitornya, dalam referensi rangkaian Sansui di atas ialah R835 dan R837.
Dengan demikian semua transistor driver dan transistor final perlu diperiksa untuk dipastikan kerusakannya kemudian diganti dengan yang baru.
Untuk transistor NPN lihat cara pemeriksaannya dalam : Pengetesan transistor NPN .
Sedangkan untuk transistor PNP lihat dalam : Pengetesan transistor PNP .

Resistor R825, R827, R829, R835 dan R837 perlu diperiksa juga, begitupun dioda D801.
Jika rusak diganti dengan yang baru.

Kerusakan kedua biasanya disebabkan oleh transistor-transistor final yang rusak.  Menyertai kerusakannya biasanya rusak pula R835 dan R837.

Kerusakan ketiga sering disebabkan oleh salah satu driver atau salah satu dari transistor final yang rusak, yaitu putus basis-emitornya.  Perlu dicari transistor manakah yang rusak dengan memeriksanya satu-persatu.
Kerusakan seperi ini juga bisa disebabkan oleh kondensator kopel ke speaker yang rusak.  Jika kondensator telah rusak maka cacat disertai juga dengan bunyi yang agak mengecil.

Kerusakan keempat bisa disebabkan oleh kerusakan sebagaimana poin yang pertama atau yang kedua ditambah dengan putusnya sikring (fuse) pada pecahan power-supply.
Apabila komponen-komponen yang rusak telah diganti, perlu diperiksa juga pecahan power-supply dari mulai trafo sampai dioda-dioda penyearah, lantaran tidak tertutup kemungkinan mereka ikut rusak.
Dan investigasi yang juga cukup penting ialah memastikan bahwa tegangan ½ Vcc memang benar, meskipun tidak harus sempurna ½ dari tegangan suplai (mungkin lebih sedikit atau kurang sedikit).  Gunakan AVO-meter pada posisi pengukuran tegangan DC (DCV) sesuai tinggi tegangannya untuk mengukur Vcc dan ½ Vcc-nya.
Pada amplifier yang memakai IC OTL investigasi terhadap tegangan ½ Vcc malah menjadi investigasi awal.  Apabila sebuah IC OTL amplifier saat diperiksa tegangan ½ Vcc-nya ternyata jauh melenceng dari yang seharusnya, maka sudah niscaya IC amplifier tersebut memang sudah rusak, perlu diganti dengan yang baru.  Tetapi apabila tegangan ½ Vcc ternyata benar namun amplifier tidak mengeluarkan suara, maka permasalahannya mungkin hanya pada sambungan perkabelan, saklar/switch atau socket speaker yang tidak benar.

 baik yang berbentuk IC ataupun yang berbentuk rangkaian dengan komponen Memperbaiki Amplifier OTL

Pada gambar di atas diperlihatkan referensi denah rangkaian IC OTL stereo seri STK43xx dan STK44xx yang disalin dari sumber datasheet-nya. Perhatikanlah bahwa titik tegangan ½ Vcc untuk jalan masuk L (Left, kiri) berada pada pin 5 dengan kondensator kopel ke speaker ialah Cx1 (1000µF).  Untuk jalan masuk R (Right, kanan) titik tegangan ½ Vcc berada pada pin 11 dengan kondensator kopel Cx2.  Tegangan suplai (Vcc) tersambung ke pin 7.
Khusus untuk rangkaian IC OTL ini, resistor 100Ω yang terhubung antara pin 7 dan pin 9 biasanya ialah resistor yang gampang rusak.  Ketika resistor ini putus amplifier tidak akan mengeluarkan bunyi meskipun bergotong-royong IC tidak rusak.

Demikianlah sedikit wacana Memperbaiki Amplifier OTL .
Selain dari apa-apa yang telah dicontohkan itu, hendaknya sanggup dikenali manakah jalur Vcc dan manakah jalur ½ Vcc-nya pada setiap IC OTL yang manapun semoga sanggup dilakukan pengukuran tegangan terhadapnya.

Sebagai pecahan akhir, perlu untuk dikemukakan bahwa ketelitian merupakan modal yang sangat penting. Dan orang yang teliti itu bukanlah orang yang malas untuk berfikir dan melaksanakan pemeriksaan-pemeriksaan, lantaran orang yang teliti itu ialah orang yang rajin untuk memastikan bahwa langkahnya memang sudah benar...

Happy repairing!

Keluarga Ic Regulator 78Xx Dan 79Xx

xx yakni IC regulator yang mengeluarkan tegangan DC yang stabil dengan arus maksimal  Keluarga IC regulator 78xx dan 79xx
IC 78xx dan 79xx yakni IC regulator yang mengeluarkan tegangan DC yang stabil dengan arus maksimal 1A.  Keluarga IC ini banyak dibentuk oleh aneka macam perusahaan besar, alasannya itu terdapat banyak label pada goresan pena awal inisialnya.
Contoh : LM78xx (National Semiconductors), KA78xx (Samsung), uPC78xx (NEC), uA78xx (Fairchild), TL78xx (Texas Instruments), dan lain-lain.

78xx mengeluarkan tegangan + (positif) yang relatif stabil pada jalur keluarannya (out) dengan tinggi tegangan sebesar “xx”.
Contoh : 7809 mengeluarkan tegangan stabil sebesar +9V
7812 mengeluarkan tegangan stabil sebesar +12V
7824 mengeluarkan tegangan stabil sebesar +24V, dan seterusnya.

79xx mengeluarkan tegangan – (negatif) yang relatif stabil dengan tinggi tegangan sebesar “xx”.
Contoh : 7909 mengeluarkan tegangan stabil sebesar -9V
7912 mengeluarkan tegangan stabil sebesar -12V
7924 mengeluarkan tegangan stabil sebesar -24V, dan seterusnya.

Dengan adanya keluarga IC regulator 78xx dan 79xx pembuatan sebuah DC regulator dengan satu tegangan keluaran yang stabil menjadi lebih mudah dan mudah, dibandingkan dengan menciptakan rangkaian regulator yang melibatkan banyak komponen ibarat transistor, dioda zener, resistor, kondensator dan lain-lain. Akan tetapi ada persyaratan-persyaratan tertentu sehubungan dengan penerapannya biar ia bisa berfungsi dengan baik sebagai DC regulator. Berikut ini di antaranya :

78xx atau 79xx memerlukan tegangan masukan (in) setidaknya 2V lebih tinggi dari tegangan keluarannya (out). Persyaratan ini untuk lebih menjamin biar IC bisa bekerja dengan baik.
Contoh : 7809 memerlukan tegangan masukan setidaknya +11V
7812 memerlukan tegangan masukan setidaknya +14V
7915 memerlukan tegangan masukan setidaknya -17V
7924 memerlukan tegangan masukan setidaknya -26V, dan seterusnya.
Mengenai tegangan masukan maksimal yang diperbolehkan sanggup dilihat secara spesifik di dalam datasheet yang bersangkutan. Ada kalanya lain merek akan lain pula nilainya. Namun yang kondusif yakni mengambil tegangan maksimal sebesar tegangan masukan dikalikan dengan faktor 1,41.
Contoh : Pada 7809 tegangan masukan maksimal yang kondusif yakni : 11 x 1,41 = 15,5V, dibulatkan menjadi +16V.
Pada 7812 tegangan masukan maksimal yang kondusif yakni : 14 x 1,41 = 19,74V, dibulatkan menjadi +20V.
Pada 7915 tegangan masukan maksimal yang kondusif yakni : 17 x 1,41 = 23,97V, dibulatkan menjadi -24V.

Tinggi tegangan masukan maksimal diijinkan saat IC tidak dalam keadaan dibebani. Ketika IC sudah mulai dibebani sampai ditarik arus yang mendekati maksimal maka tegangan masukan akan turun sampai yang terendah hanyalah 2V lebih tinggi dari tegangan keluaran.

Contoh-contoh penerapan 78xx dan 79xx sebagai DC-regulator :

xx yakni IC regulator yang mengeluarkan tegangan DC yang stabil dengan arus maksimal  Keluarga IC regulator 78xx dan 79xx

Pada dua pola di atas dikemukakan rangkaian 7812 dan 7912 dengan didahului rangkaian catu-daya yang melibatkan transformator dan dioda-dioda penyearah. Rangkaian catu-daya ibarat itu akan memiliki besar tegangan nominal/efektif dan besar tegangan maksimal (Vmax) yang merupakan besar tegangan masukan bagi IC.
Tentang ini telah dibahas sebelumnya dalam : Penyearahan gelombang penuh dengan kondensator perata .

Dan juga dalam : Catu-daya tegangan terbelah .

Catatan bahwa dalam setiap rangkaian 78xx atau 79xx pemasangan kondensator kecil cx dan cz dihentikan diabaikan. Kedua kondensator ini berfungsi untuk mencegah osilasi yang mungkin saja bisa terjadi. Kedua kondensator ini dipasang sedekat mungkin dengan IC.
Untuk penggunaan mulai dari 100mA atau lebih IC perlu diberi keping pendingin sesuai keperluan.

Happy learning!

Audio-Amplifier Btl 22W Dengan Ta7280p

Rangkaian audio-amplifier berikut ini cocok untuk dipakai sebagai amplifier perangkat mp3 player, amplifier di rumah, amplifier kendaraan beroda empat atau sebagai unit amplifier untuk speaker aktif.
Rangkaiannya memakai IC TA7280p keluaran Toshiba.
IC ini cukup bisa diandalkan lantaran tergolong memiliki daya keluaran yang besar di kelasnya, yaitu 5,8W pada dual-mode dan tipikal 22W pada BTL-mode (Tegangan suplai 14,4V, speaker 4Ω).
Keistimewaan lain dari IC ini yaitu memiliki penguatan yang besar sehingga sanggup eksklusif dikoneksikan sebagai amplifier dari level sinyal ‘auxiliary’. Dengan demikian rangkaian amplifier menjadi lebih sederhana namun secara fungsional tetap berfungsi normal.

Rangkaian BTL TA7280p.

amplifier berikut ini cocok untuk dipakai sebagai amplifier perangkat mp Audio-amplifier BTL 22W Dengan TA7280p

Daftar komponen :
R1, R5, R6 = 1k
R2, R3 = 82Ω
R4 = 12Ω
R7, R8 = 1Ω
VR3/volume = potentiometer 20k
C1, C6 = 2,2uF/50V
C2 = 472
C3, C4, C7, C8, C13 = 100uF/16V
C5 = 104
C9, C10, C11 = 224
C12 = 1000uF/25V
IC1 = TA7280p
Spkr = Speaker 4Ω

Produsen yang memproduksi IC ini (Toshiba) memperlihatkan akomodasi untuk disain layout PCB dengan menyediakan pasangannya, yaitu TA7281p. Namun demikian tidak duduk masalah bila memakai dua IC TA7280p untuk versi stereo, atau sebaliknya yaitu memakai dua IC TA7281p selama sambungan-sambungannya ditata dengan benar.

Modul amplifier TA7280p terdiri dari dua penguat dengan input non-inverting penguat pertama pada pin 1 dan input invertingnya terdapat pada pin2. Keluaran (output) penguat pertama terdapat pada pin 12.
R7 memilih penguatan penguat pertama yang nantinya juga akan memilih pula penguatan amplifier secara keseluruhan.
Melalui sebuah potentiometer pengatur volume, sinyal audio dimasukkan ke input non-inverting penguat pertama. Sebagian sinyal keluaran disadap melalui pembagi tegangan R12 + R13 dan R9 untuk diumpankan ke input inverting penguat kedua pada pin 4, sementara itu input non-inverting penguat kedua (pin 3) di-ground-kan melalui C8.
Hasil pengumpanan sinyal audio kepada input inverting penguat kedua menghasilkan output sinyal audio pada pin 7 dengan level yang kira-kira sama dengan output dari penguat pertama, namun fasa dari keduanya berbeda 180º.
Dengan demikian tegangan sinyal yang dibebankan ke speaker menjadi dua kali lipat, inilah prinsip dasar penguat BTL yang diterapkan.

PCB.
Pola layout PCB untuk rangkaian ini beserta tata-letak komponennya sanggup diunduh di sini : PCB BTL amplifier TA7280 .

Apabila PCB telah dibentuk dan semua komponennya sudah terpasang di tempatnya, sambungan-sambungan perkabelannya digambarkan kira-kira menyerupai ini :

amplifier berikut ini cocok untuk dipakai sebagai amplifier perangkat mp Audio-amplifier BTL 22W Dengan TA7280p

Gambar di atas yaitu sambungan perkabelan PCB untuk modul BTL TA7280 versi mono (tampak atas). Untuk versi stereo sanggup dibentuk dua kali modul yang sama.
Perhatikanlah bahwa R5 dan R6 digabung secara seri terlebih dahulu, gres kemudian dipasang di PCB.

Perakitan.
Semua kondensator non-elektrolit sebaiknya memakai jenis milar atau mika lantaran memiliki performa yang lebih baik dibandingkan dengan kondensator keramik.
Pendingin/heatsink untuk IC perlu mendapat perhatian yang serius.
Ketika IC dibebankan untuk mengeluarkan daya maksimal IC akan cukup panas, apabila heatsink terlalu kecil maka IC akan segera rusak tanpa aba-aba.  Permukaan heatsink di mana IC ditempelkan juga harus dipastikan datar, supaya permukaan penyalur panas pada IC benar-benar melekat secara merata kepada heatsink.
Untuk power-supply rangkaian bisa dipakai sumber DC dari aki/baterai atau unit power-supply 12V dengan trafo dan dioda-dioda penyearah yang berkemampuan arus 4A (versi stereo).
Bagi yang belum terperinci dan ingin lebih serius mengikuti ulasan khusus wacana itu bisa disimak dalam :
Penyearahan gelombang penuh dengan kondensator perata .

Terakhir, gunakan speaker 4 Ω sebagai beban dengan ukuran fisik sebaiknya antara 4,5 hingga 6 inch supaya 'power' yang dikeluarkan amplifier benar-benar sanggup mencapai maksimal.
Setelah semuanya jadi, jangan lupa juga untuk menempatkan stereo-speaker dengan tepat, alasannya yaitu dari penempatan yang kurang sempurna saja bisa mengesankan seakan-akan amplifier yang dipakai bersuara tidak bagus.
Tentang ini silakan simak ulasan lengkapnya dalam :
Menempatkan stereo speaker .

Keep happy soldering!

Dc-Regulator Sederhana Dengan Tegangan Variabel 3V-12V, Arus 5A-10A

 yang tidak rumit tetapi bisa menghasilkan arus hingga  DC-Regulator Sederhana Dengan Tegangan Variabel 3V-12V, Arus 5A-10A
Rangkaian DC-regulator (catu daya teregulasi) yang tidak rumit tetapi bisa menghasilkan arus hingga 10A dengan tegangan stabil 3V, 4,5V, 6V, 7,5V, 9V, dan 12V.
Rangkaian ini cocok untuk dipakai sebagai power-supply banyak sekali perangkat elektronik yang biasa memakai baterai dengan cukup baik lantaran memiliki derau dan faktor ripple yang rendah, tegangannya pun relatif stabil.
Bagi para praktisi dan hobbyst elektro rangkaian DC-regulator ini cukup berkhasiat sebagai power-supply untuk keperluan test rangkaian yang sedang dibuat.

Dasarnya ialah rangkaian IC regulator LM317 yang ditambahkan transistor daya sebagai penguat arus keluaran.
Sejak beredarnya banyak IC regulator tegangan termasuk LM317, menciptakan rancangan sebuah DC-regulator menjadi lebih gampang lantaran tidak banyak pernak-pernik pemanis yang rumit.
IC LM317 ialah IC regulator tegangan faktual yang memiliki arus output maksimal sebesar 1,5A.  Lebih terperinci wacana data spesifik LM317 silahkan lihat di sini :
Datasheet LM317 .

Dengan arus keluaran sebesar itu (1,5A max) bekerjsama tidak perlu lagi menghitung seberapa besar arus basis bagi transistor daya bila hanya untuk menghasilkan arus keluaran sebesar 5A atau 10A, lantaran masih terdapat toleransi yang longgar dari arus yang bisa dihasilkan oleh LM317. Sembarang transistor daya dengan banyak sekali besaran hFE pun sanggup saja dipasang di bab alhasil selama kemampuan arusnya memenuhi persyaratan.
Namun demikian tidak ada salahnya untuk tetap dikemukakan di sini wacana perhitungan arus keluaran semoga lebih jelas, yaitu :

Iout = IbT x hFET

Iout ialah arus keluaran regulator, IbT ialah arus basis transistor dan hFET ialah besarnya faktor penguatan arus transistor.
Di sini IbT ialah juga arus output yang dihasilkan oleh IC1 (LM317) lantaran basis transistor terangkai pribadi dengan bab output IC1 (pin 2).  Dari persamaan di atas arus basis bagi transistor daya sanggup diketahui :

IbT = Iout / hFET.

Jika transistor yang dipakai ialah type 2N3055 dengan hFE sebesar 20, maka arus basis-nya semoga arus keluaran regulator mencapai 5A ialah sebesar : IbT = 5 / 20 = 0,25A.
Untuk arus keluaran hingga 10A arus basis akan dua kali dari itu, dan ini masih tetap berada di bawah arus maksimal yang bisa dihasilkan oleh IC1, yaitu 1,5A.

Rangkaian DC-regulator 3-12V dengan LM317 plus.

 yang tidak rumit tetapi bisa menghasilkan arus hingga  DC-Regulator Sederhana Dengan Tegangan Variabel 3V-12V, Arus 5A-10A

Daftar komponen :
R1 = 3k6 (3k3 + 330 disambung seri)
R2 = 200Ω (100Ω + 100Ω disambung seri)
R3a = 1k
R3b = 470Ω
R3c = 270Ω
R3d = 180Ω
R3e = 100Ω
R4 = 680Ω/0,6W
R5, R6 = 0,1Ω/7W
R7 = 300Ω/2W
C1, C2 = 100µF/25V
C3 = 470µF/25V
D1 = 1N4002
T1, T2 = 2N3055 / TIP3055
IC1 = LM317
Fuse = sikring 5A untuk versi 5A atau 10A untuk versi 10A
Sw1 = Rotary-switch 6 posisi

Pada gambar di atas diperlihatkan dua versi rangkaian DC-regulator.  Gambar bab (A) ialah rangkaian untuk versi 5A dan gambar bab (B) ialah rangkaian untuk versi 10A.  Perbedaan antara versi 5A dengan versi 10A terdapat pada penggunaan transistor daya, yaitu satu transistor daya untuk versi 5A dan dua transistor daya untuk versi 10A (tersusun paralel).
Dua resistor pemanis dipasang di emitor setiap transistor untuk mengupayakan semoga kedua transistor itu akan bekerja seimbang tolong-menolong ketika mengeluarkan arus yang besar.

Pin untuk pengaturan tegangan keluaran/output pada LM317 terdapat pada pin 1 (adjust).
Perbandingan nilai dari resistor-resistor pembagi tegangan pada pin 1 akan menentukan besarnya tegangan keluaran.
Dengan nilai-nilai resistansi yang tertera tegangan keluaran akan sanggup dipilih sesuai tegangan standar yang umumnya diperlukan, yaitu 3V, 4,5V, 6V, 7,5V, 9V dan 12V.
Di sini sengaja dipakai saklar putar (rotary-switch) 6 posisi untuk memudahkan dalam menentukan tegangan keluaran yang dibutuhkan, tinggal arahkan saja posisi saklar ke tegangan yang diinginkan maka regulator sudah siap untuk digunakan.
Menggunakan potentiometer untuk menentukan tegangan keluaran terasa kurang praktis, lantaran sebelum regulator dipakai harus dilakukan penyetelan tegangan keluaran terlebih dahulu sambil mengukur besar tegangan keluaran itu dengan Volt-meter DC.  Sedangkan tegangan keluaran yang dibutuhkan untuk banyak sekali keperluan umumnya sudah standar, yaitu pada angka-angka yang telah disebutkan di atas.

Dalam pengaturan tegangan keluaran, resistor yang dibentuk variabel ialah R2+R3 dan bukan R1 sebagaimana banyak rancangan DC regulator dengan LM317 yang telah dibentuk orang.  Ini dimaksudkan semoga apabila kontak-kontak pada Sw1 suatu ketika mengalami permasalahan (kondisi kontak memburuk lantaran faktor usia atau lantaran yang lainnya), efeknya ialah tegangan keluaran hanya akan drop (turun mengecil).   Jika yang dibentuk variabel ialah R1 maka apabila kontak-kontak pada Sw1 suatu ketika bermasalah efeknya ialah tegangan keluaran akan membesar hingga mendekati harga Vin maksimal (sekitar 24V), dan itu bisa merusakkan perangkat elektronik bila sedang tersambung kepada regulator dengan seketika!
Cara yang ditempuh ini mudah-mudahan akan lebih baik dan sanggup lebih menjamin keamanan bagi perangkat elektronik yang disambungkan kepada regulator.
Berkaitan dengan itu disarankan semoga memakai rotary-switch berkwalitas bagus, atau senantiasa menyemprot bab kontak pada rotary-switch dengan “contact-cleaner” secara terjadwal ketika regulator telah dibentuk dan telah digunakan.

Tentang komponen dan perakitan DC-regulator.
Untuk R1 hingga dengan R3 yang terbaik ialah memakai resistor bertoleransi kecil, contohnya 1%. Namun bila sulit mendapat resistor bertoleransi kecil, tidak terlalu bermasalah memakai resistor dengan toleransi standar 5%.
R7 perlu dipasang untuk mengalirkan sedikit arus keluaran dari IC1 untuk menjaga kestabilan, begitu pula dengan R4.
Hal yang perlu diketahui sehubungan dengan ini dalam rancangan DC-regulator memakai LM317 ialah bahwa IC harus mengeluarkan arus minimal sebesar 10mA semoga pengaturan tegangan melalui pin 1 beroperasi secara normal.  Dengan dipasangnya resistor 300Ω (R7) IC1 akan masih memiliki arus output sebesar 10mA meskipun tegangan keluaran ialah yang terendah, yaitu 3V.
T1 dan T2 memerlukan heatsink (keping pendingin) yang cukup lantaran akan panas ketika regulator dipakai mulai dari 2A atau lebih.  Kedua transistor dilekatkan pada heatsink dengan dilapisi isolator mika terlebih dahulu semoga tidak terjadi kontak elektrik antara kolektornya dengan heatsink yang biasanya dihubungkan ke ground.
IC1 juga memerlukan heatsink. Ketika regulator mengeluarkan arus yang cukup besar IC akan ikut panas.

Perlu dikatakan bahwa secara perhitungan regulator ini memang bisa mengeluarkan arus hingga 5A (dengan satu transistor daya) atau 10A (dengan dua transistor daya); di antara pertimbangannya ialah dengan melihat karakteristik SOAR (Safe Operating Area) dari transistor daya yang digunakan.  Namun lantaran banyaknya transistor daya yang beredar tidak memenuhi syarat sebagaimana yang tercantum di dalam datasheet-nya, maka sebaiknya regulator ini tidak dipakai untuk konsumsi arus yang mendekati bilangan maksimal.  Regulator akan cukup kondusif untuk penggunaan yang mengkonsumsi arus 3A (untuk versi 5A) atau 6A (untuk versi 10A). Batasi saja pemakaian arus dengan fuse 3,5A atau 7A.
Solusi lainnya untuk permasalahan ini ialah dengan menambahkan satu lagi transistor daya diparalel-kan bersama dengan transistor daya yang sudah ada semoga tidak terlalu banyak timbul panas.

Untuk unit trafo dan dioda-dioda penyearah bisa dipakai rangkaian berikut ini :

 yang tidak rumit tetapi bisa menghasilkan arus hingga  DC-Regulator Sederhana Dengan Tegangan Variabel 3V-12V, Arus 5A-10A

Komponen pemanis :
R8 = 2k7
C4 = 6800µF ... 10000µF/35V
D2, D3 = Dioda 6A (versi 5A) atau dioda 12A (versi 10A)
D4 = Led indikator merah
Trf1 = Transformator 2x18V CT, 5A atau 10A
Sw2 = Switch on-off (terserah pilihan)

Tentang unit transformator dan dioda-dioda penyearah tidak dibahas lagi di sini.  Bagi yang lebih serius ingin mengerti wacana itu bisa mengikuti ulasannya secara khusus di :
Penyearahan gelombang penuh dengan kondensator perata .

Terakhir, perlu juga untuk disampaikan bahwa fuse dihentikan diganti dengan yang diluar ketentuan apalagi menyambungkannya secara pribadi dengan beberapa serabut kabel.
Cara ibarat itu ialah cara “barbar” yang lebih banyak merugikannya dari pada menguntungkan.
Rangkaian DC-regulator ini memang belum dilengkapi dengan perlindungan otomatis terhadap hubung-singkat. Karena itu perlindungan dilakukan dengan penggunaan sikring.
Jika menginginkan versi lain DC-regulator yang telah dilengkapi dengan perlindungan terhadap hubung-singkat silahkan ikuti ulasannya di :
DC regulator dengan tegangan yang bisa dipilih dan tahan terhadap terjadinya hubung singkat .

Rangkaian DC-regulator LM317-plus ini telah ditest dan dicoba, yaitu pada versi 5A dan berfungsi secara normal.

Keep happy soldering!