Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri mengenal-ic. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri mengenal-ic. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Mengenal Ic

part elektronik di mana di dalamnya terangkai transistor Mengenal IC
IC ialah abreviasi dari Integrated-Circuits, artinya rangkaian/sirkit terintegrasi.
IC ialah komponen/part elektronik di mana di dalamnya terangkai transistor-transistor, dioda, resistor, kondensator keramik, dan lain-lainnya dalam suatu pola rangkaian tertentu untuk tujuan penggunaan tertentu.  Jadi, IC bekerjsama ialah rangkaian elektronik yang sudah jadi dalam packing ketat dengan bentuk lebih kecil dan lebih kompak.  Untuk variasi penambahan komponen eksternal atau untuk koneksi IC kepada power-supply, input, output dan lain-lainnya terdapat pin-pin (kaki-kaki elektroda) yang memiliki fungsi-fungsi tertentu, tergantung rangkaian di dalamnya.  Fungsi dari pin-pin ini sanggup diketahui dari datasheet IC yang bersangkutan.

Setiap IC dibentuk dengan pola rangkaian tertentu untuk tujuan penggunaan tertentu, contohnya IC LA 3160 ialah IC yang di dalamnya terdapat rangkaian pre-amplifier untuk pick-up magnetik, IC TA8167 ialah IC yang di dalamnya terdapat rangkaian peserta radio AM/FM, dan lain-lain.
Namun setiap IC juga dibentuk dengan karakteristik yang tersendiri masing-masing.
Sebagai pola IC TDA2003 berbeda kartakteristik dengan IC TDA2030 meskipun keduanya ialah sama-sama IC audio amplifier dan diproduksi oleh perusahaan yang sama pula.  Kedua IC itu berbeda dalam hal penggunaan tegangan suplai, daya output, komponen pelengkap eksternal dan lain-lain.

Pembagian jenis IC.
Ditinjau dari pengoperasian sinyalnya IC terbagi menjadi dua bagian, yaitu IC analog dan IC digital.

IC analog
ialah IC yang dioperasikan untuk sinyal-sinyal analog, atau sering juga diistilahkan dengan IC linier. Termasuk di antaranya :
  • IC radio (receiver, transmitter, RF-amplifier, modulator-demodulator, dan lain-lain).  Contoh : TA7640AP, KIA6040, BA4116, LA2110, MC3361, MC1496, HA12413 dan lain-lain.
  • IC audio (pre-amplifier, power-amplifier, tone-control, stereo decoder, chroma TV, dan lain-lain).  Contoh : TA7137, M5152, LM386, BA5412, TDA1524, STK4140, dan lain-lain.
  • IC regulator (switching-regulator, DC voltage-stabilizer, motor-regulator).  Contoh : STRS6707, STRW6753, 7812, LM317, LM1084, TL431, dan lain-lain.
  • IC op-amp (operational-amplifier).  Contoh : uA741, LM324, LM3900, TL074, BA4558, MC358, NE5534, dan lain-lain.
  • IC komparator.  Contoh : LM339, LM393, LM111, LP2901, MAX944, TLC352, dan lain-lain.
  • IC timer. Contoh : NE555, NE556.
IC digital
ialah IC yang dioperasikan untuk sinyal-sinyal digital. Termasuk di antaranya :
  • IC digital (umum). IC digital umum yang banyak beredar biasa diawali dengan angka “40”.  Contoh : 4011, 4017, 4020, 4050, dan lain-lain.
    Sebagian IC digital ada juga yang diawali dengan angka “41” dan “45”.  Contoh : 4104, 4508, 4522, 4556, dan lain-lain.
  • IC TTL (Transistor-Transistor Logic). IC ini biasa diawali dengan angka “74”.  Contoh : 7400, 74LS04, 74LS107, 74HC32, 74ACT20, dan lain-lain.
  • IC memory dan RAM (Random Access Memory).  Contoh : 24C01, MCM44G64, M58659p, uPD41464, UT61256, dan lain-lain.
  • IC jadwal dan microcomputer.  Contoh : uPD78001B, TMP47C834N, MB88401-P, HD44840, HMCS46CL, P8748H, dan lain-lain.
Ditinjau dari pengoperasian dayanya IC dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu IC monolitik dan IC hybrid.

IC monolitik
ialah IC tunggal untuk pengoperasian daya kecil.
Semua IC berbentuk kecil dan dengan konsumsi daya kecil sampai menengah dari banyak sekali fungsi tergolong ke dalam kelompok IC ini.  Contoh : KA22429 (portable FM radio), TDA8140 (horizontal deflection power driver), BA6564A (tone ringer), W91312A (pulse dialer), LA4192 (2,3W stereo amplifier), dan lain-lain.

IC hybrid
ialah IC besar untuk pengoperasian daya yang besar.
Semua IC berbentuk besar dan dengan konsumsi daya yang besar dari banyak sekali fungsi tergolong ke dalam kelompok IC ini.  Contoh : STK465, STK4141 II (audio stereo amplifier), STK6712AMK4 (4-phase stepping motor driver), dan lain-lain.

Bentuk IC dan nomor pin IC.
Ada banyak sekali bentuk IC dan kemungkinan masih sanggup bertambah lagi di waktu yang akan datang.  Jika membahas semua bentuk IC yang ada secara lengkap mungkin tidak akan cukup meskipun dibentuk dua goresan pena artikel tersendiri.  Karena itu di sini hanya akan dicontohkan beberapa bentuk IC yang umum dan paling banyak beredar saja, di antaranya :

part elektronik di mana di dalamnya terangkai transistor Mengenal IC

SIL (Single in Line)
ialah bentuk IC dengan susunan pin dalam satu barisan.
Penomoran pin dimulai dari kiri ke kanan dengan sisi di mana terdapat goresan pena tipe IC menghadap ke depan.

DIL (Dual in Line)
ialah bentuk IC dengan dua barisan pin.
Penomoran pin dimulai dari tanda “dot” (titik) berlawanan arah jarum jam dengan sisi goresan pena tipe IC menghadap ke atas.

Pentawatt
ialah bentuk IC yang memiliki 5 pin dengan satu barisan pin yang berselang-seling depan-belakang. Penomoran pin dimulai dari pin bab depan paling kiri dengan sisi goresan pena menghadap ke depan.

TO220
ialah bentuk IC yang memiliki 3 pin, ibarat bentuk transistor daya menengah.

Multiwatt
ialah bentuk IC yang memiliki lebih dari 5 pin dengan satu barisan pin yang berselang-seling depan-belakang.

Nama type IC.
Nama type pada IC mengatakan perusahaan pembuat IC tersebut. Misalnya IC dengan inisial awal TL dibentuk oleh perusahaan Texas Instruments, BA dibentuk oleh perusahaan Rohm, MB dibentuk oleh perusahaan Fujitsu Semiconductor, W dibentuk oleh perusahaan Winbond, dan lain-lain.  Contoh : TL494, BA5412, MB3614, W91312A.
Umumnya setiap tipe IC ialah khas, dibentuk dengan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh perusahaan pembuatnya.
Namun ada beberapa IC tipe tertentu yang dibentuk oleh banyak perusahaan yang semuanya sama, dengan nomor seri yang sama pula, hanya inisial awalnya saja berbeda alasannya ialah mengatakan perusahaan pembuatnya.  IC yang ibarat ini ialah IC yang sangat terkenal dan sangat banyak penggunaannya di banyak sekali penerapan pada sirkit-sirkit elektronik.
Contohnya ialah IC quad op-amp 324.
National Semiconductor memproduksi IC ini dengan label LM324, Hitachi memproduksi IC ini dengan label HA17324, Perusahaan Rohm menciptakan dengan label BA324, Fairchild menciptakan juga dengan label uA324. Beberapa perusahaan yang lain juga memproduksi dengan inisialnya masing-masing.
Contoh lainnya ialah IC timer 555.
Beredar IC tipe ini dengan banyak label, ibarat : NE555, LM555, BA555, TL555, HA17555, uA555, dan lain-lain.
Karena itu untuk IC terkenal ibarat ini atau yang semisal dengannya, biasanya hanya disebutkan nomor serinya saja.  Misalnya apabila disebutkan IC “741”, maka dalam prakteknya sanggup memakai LM741, uA741, BA741 dan sebagainya.

Happy learning!


Tulisan lain ihwal IC :
Keluarga IC regulator 78XX dan 79XX
Komponen opto-elektronik .

20W Btl Amplifier Dengan Tda2005

 yang sanggup dikonfigurasi sebagai penguat OTL stereo 20W BTL Amplifier Dengan TDA2005
TDA2005 merupakan IC ‘dual’ yang sanggup dikonfigurasi sebagai penguat OTL stereo, atau sebagai penguat BTL tunggal.
Ia ialah IC audio yang cukup populer, pernah sangat marak menjadi IC po-amp di banyak rancangan audio kendaraan beroda empat dari banyak sekali merek.
Meskipun rancangan po-amp audio kendaraan beroda empat kini ini sudah jauh bergeser, tetapi IC ini ternyata masih tetap banyak beredar di pasaran umum.
Para hobbyst dan para praktisi elektro tampaknya masih banyak yang suka dengan IC ini, meskipun bukan untuk keperluan audio kendaraan beroda empat lagi.
IC ini pertamakali muncul sekitar tahun 1985-1986, dan selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali revisi pendokumentasian. Namun perusahaan SGS-Thomson (ST) semenjak awal mengeluarkan IC ini tetap dalam casing yang tidak pernah berubah, yaitu ‘Multiwatt11’.

TDA2005 dirancang untuk penggunaan kondisi tegangan DC di kendaraan beroda empat yang kasar, karenanya ia sanggup bertahan pada tegangan suplai yang melonjak hingga +28V (dalam keadaan tanpa sinyal input).
Normalnya, ia bekerja pada tegangan suplai (V+) 12V. Ketika bekerja untuk mengeluarkan daya output maksimal 20W pada beban speaker 4 Ohm, tegangan V+ (maks.) ialah 14,4V.
Power-supply konvensional sederhana sanggup saja digunakan, namun yang terbaik untuk keperluan ini ialah memakai DC regulator 14,4V khusus sebagaimana dibahas di dalam goresan pena ini : Sumber tegangan 13,2V dan 14,4V DC .

Rangkaian BTL TDA2005.

 yang sanggup dikonfigurasi sebagai penguat OTL stereo 20W BTL Amplifier Dengan TDA2005

Daftar komponen :
R1 = 120k
R2 = 1k
R3 = 2k
R4, R5 = 12Ω
R6, R7 = 1Ω
C1, C2 = 2,2uF/50V
C3, C9, C10 = 104 (mika/mylar/MKT)
C4 = 10uF/50V
C5, C7 = 100uF/16V
C6, C8 = 220uF/16V
IC1 = TDA2005 atau TDA2005s
Spkr = speaker 4Ω.

Gambar rangkaian beserta daftar komponen yang diterakan ialah untuk versi mono (tunggal). Untuk versi stereo rangkaian dibentuk dua kali yang berarti semua komponennya menjadi dua kali lipat.
Input rangkaian BTL TDA2005 ini sanggup disambungkan ke output banyak sekali rangkaian tone-control bertransistor. Dengan demikian ia menjadi power-amplifier dalam sebuah sistem amplifier lengkap.
Jika didahului dengan sebuah potentiometer 20k maka ia sanggup juga pribadi digunakan sebagai penguat/amplifier dari banyak sekali output audio meskipun tanpa perhiasan pengaturan nada.

Petunjuk perakitan amplifier TDA2005.
IC1 memerlukan keping pendingin/heatsink alumunium yang cukup memadai.
Ketika IC ini digunakan untuk mengeluarkan daya maksimal atau mendekati daya maksimal dalam waktu lama, panasnya harus tersalurkan dengan baik. Jika tidak maka IC akan gampang rusak.
Speaker yang digunakan haruslah speaker berimpedansi 4Ω bila diinginkan daya maksimal sanggup dicapai secara optimal. Ukuran diameter speaker terserah saja, tapi sebaiknya antara 4,5 inch hingga dengan 6 inch.
Apabila sulit mendapat speaker 4Ω, dua speaker 8Ω sanggup saja diparalel untuk mendapat impedansi 4Ω. Dalam hal ini setiap speaker dipandang sebagai sebuah resistor alasannya memiliki nilai resistansi ‘Ohm’.
Ketika disambungkan secara paralel maka balasannya (dalam hal impedansi) ialah sama saja ibarat speaker 4Ω. Lihat klarifikasi teknis ihwal ini dalam ulasan yang lebih spesifik : Mengenal Resistor .

Untuk melengkapi proyek praktek ini, berikut disertakan juga rancangan PCB yang sanggup diusahakan untuk dibuat.
File-nya (dengan ukuran aktual) sanggup diunduh di sini : PCB BTL TDA2005 .

Silakan diunduh file layout PCB-nya dan di-print untuk pembuatan PCB.
Jika PCB sudah dibuat, tata-letak komponen serta sambungan perkabelannya kira-kira ibarat ini :

 yang sanggup dikonfigurasi sebagai penguat OTL stereo 20W BTL Amplifier Dengan TDA2005

Gambar yang diperlihatkan ialah tata-letak komponen pada PCB 20W BTL amplifier dengan TDA2005, serta penyambungan-penyambungan perkabelannya dalam tampak atas.

Happy soldering!

Mp3-Player Mini Dengan Suplai 12V

MP3-player saku yang murah dan biasa dipakai bersama headset, sanggup dimodifikasi menjadi MP3-player untuk tegangan 12V dari baterai/aki. Keluarannya pun sanggup diambil untuk dimasukkan ke sebuah amplifier tunggal atau stereo, tak perduli seberapa besar daya output amplifier yang dipakai untuk menguatkannya.
Bagaimana kwalitas suaranya?
Ternyata tidak buruk. Masih standar.
MP3-player murah meriah ini sanggup dipakai untuk majemuk keperluan, contohnya untuk tambahan stereo-set di rumah, untuk para pedagang keliling (menyuarakan dagangan lewat pengeras bunyi horn kecil), untuk pelantun ayat-ayat Al-Qur’an di masjid, atau untuk yang lainnya.
Berikut ini ulasan lengkap bagaimana membuatnya.

Mengenal bab dalam MP3-player mini.

player saku yang murah dan biasa dipakai bersama headset MP3-Player Mini Dengan Suplai 12V

Gambar di atas memperlihatkan MP3-player mini yang sudah dikeluarkan dari casingnya dan sudah dicopot baterainya. Kenalilah bagian-bagiannya.
Pada sisi bab bawah, jikalau tempelan tombol-tombol dibuka, akan tampak lima koneksi tombol. Sedangkan pada sisi atas, bagian-bagiannya yaitu sebagai berikut :

-Terminal V+ dan terminal 0V/gnd yaitu dua sambungan untuk tegangan suplai.
-Soket mini SD-card yaitu kawasan untuk memasukkan SD-card mini (SD-card yang biasa dipakai untuk memori eksternal HP) yang sudah diisi dengan file-file MP3.
-Switch kecil on-off, untuk menghidupkan rangkaian. Switch ini hendaknya ditaruh pada posisi ‘on’ alasannya yaitu nantinya fungsinya digantikan dengan switch on-off tambahan di luar.
-Soket jack output, yaitu lubang kawasan mencolokkan jack kecil stereo. Dari sini sinyal audio diambil untuk diumpankan ke amplifier.

Membuat power-supply 12V untuk MP3-player mini.
Aslinya, MP3-player mini memakai baterai kecil 3,7V. Namun dalam prakteknya, ternyata rangkaian elektroniknya masih sanggup disuplai dengan tegangan 5V. Agar sanggup dipakai dengan tegangan 12V, maka perlu dibentuk power-supply khusus tambahan terlebih dahulu, yaitu power-supply penurun tegangan dari 12V ke 5V.
Sebuah penurun tegangan sederhana sanggup saja dibentuk memakai IC regulator tunggal 7805. Cukup mudah memang, alasannya yaitu arus yang dibutuhkan kecil saja.
Bagi yang ingin lebih jauh mengenal perihal IC ini, silakan simak ulasan khususnya dalam : Keluarga IC regulator 78xx dan 79xx .

IC 7805 sanggup mendapatkan input tegangan hingga 15V, alasannya yaitu itu masih sanggup jikalau inputnya yaitu tegangan baterai/aki 12V. Adapun outputnya berupa tegangan DC 5V yang stabil. Tegangan 5V ini kemudian diberikan untuk menyuplai MP3-player mini.
Perhatikan denah rangkaian serta pola penyolderan pada sepotong kecil PCB titik berikut ini :

player saku yang murah dan biasa dipakai bersama headset MP3-Player Mini Dengan Suplai 12V

Gambar pola sambungan yang diperlihatkan yaitu dalam tampak bawah (bagian tersolder), sanggup dibentuk dengan gampang pada sepotong PCB titik kecil. Komponen-komponen yang diharapkan yaitu :
C1, C2 = 10uF/25V
IC1 = 7805
Sw1 = Switch togel kecil
Catatan bahwa IC 7805 memerlukan keping pendingin (heatsink) tambahan, alasannya yaitu dalam penggunaan yang berlama-lama IC ini akan panas juga.

Apabila rangkaian power-supply penurun tegangan sudah dibuat, sekarang dipersiapkan bab MP3-playernya.
Pada setiap koneksi tombol disolderkan dua kabel halus dengan panjang secukupnya, kemudian dari setiap dua kabel halus itu disambungkan sebuah tombol “push-on”. Jadi, tombol push-on eksternal ini akan menggantikan fungsi tombol-tombol aslinya.
Di sini dicontohkan, tombol push-on yang dipakai yaitu tombol push-on kecil (miniatur). Namun sanggup saja memakai tombol push-on yang lebih besar.
Tandailah dari tombol-tombol itu, manakah tombol vol+ (untuk membesarkan volume), vol- (untuk mengecilkan volume), prev (mundur) dan next (maju). Jika perlu, beri tulisan.

player saku yang murah dan biasa dipakai bersama headset MP3-Player Mini Dengan Suplai 12V

Jika tombol-tombol push-on sudah terpasang, tinggallah menyambungkan tegangan suplainya.
Tegangan +5V keluaran dari rangkaian power-supply/penurun tegangan disambungkan (dengan kabel) ke terminal V+ pada MP3-player mini, sedangkan bab 0V/gnd nya disambungkan ke terminal 0V/gnd MP3-player mini.
Setelah itu buatlah sambungan untuk jack stereo kecil dengan kabel coax kecil isi 3 (boleh juga memakai 3 kabel halus yang dipilin bersama). Ujung dari tiga kabel ini bermuara di soket jack RCA stereo (L dan R). Kenalilah mana sambungan L, R, dan ground, jangan hingga salah menciptakan sambungan.

player saku yang murah dan biasa dipakai bersama headset MP3-Player Mini Dengan Suplai 12V

Sampai di sini, final sudah.
Tinggal ditest hasilnya.

Pengetesan.
Untuk pengetesan ini, diharapkan sebuah amplifier stereo (apa saja) berikut speaker-set nya.
Masukkan mini SD-card yang sudah diisi dengan file MP3. Sambungkan V in power-supply ke terminal + (positif) aki 12V, dan 0V/gnd power-supply ke terminal negatif aki. Jangan lupa, on-off kecil di tubuh MP3-player harus dalam posisi on.
Colokkan jack stereo kecil ke lubang jack MP3-player mini, kemudian pada soket RCA dicolokkan kabel jack RCA stereo dan disambungkan ke amplifier.
Nyalakan amplifier dan on-kan Sw1 power-supply.
Besarkan volume MP3 player dengan menekan tombol vol+ dan atur volume kontrol pada amplifier.
Jika tidak terjadi kesalahan penyambungan, seharusnya sudah keluar bunyi yang manis di speaker.

Apabila sudah selesai, MP3-player mini beserta power-supply nya sanggup ditempatkan di satu box khusus secara bersama-sama. Penempatan Sw1, soket RCA dan tombol-tombol MP3-player sanggup diatur sesuai kreatifitas masing-masing.

Try it, keep happy soldering!

Tulisan lain sehubungan dengan MP3-player : Merakit MP3-player Sederhana .

Komponen Opto-Electronic, Apakah Itu?

Istilah komponen 'opto-electronic' lazim dipakai untuk penyebutan bagi komponen-komponen/parts elektronik yang sanggup menghasilkan cahaya, atau yang sanggup bereaksi atas keberadaan cahaya dan intensitasnya.
Komponen aktif elektronik yang sanggup menghasilkan cahaya ialah LED (Light Emitting Diode) dan komponen elektronik yang sanggup bereaksi atas cahaya (peka cahaya) ialah : LDR (Light Dependant Resistor), Photo-dioda, dan photo-transistor. Khusus bagi komponen peka cahaya ibarat LDR, photo-dioda dan photo-transistor disebut juga sebagai komponen 'photo-electronic'.

LED.
LED bahwasanya ialah sebuah dioda. Karena itu ia memiliki sifat-sifat khas dari dioda ibarat sifat menghantarkan tegangan hanya ke satu arah, dan memiliki besar FVD (Forward Voltage Drop) yang tetap. Akan tetapi dari semenjak awal LED tidak dibentuk untuk difungsikan sebagai sebuah dioda, tetapi lebih sebagai komponen penghasil cahaya untuk indikator. Namun demikian ada kalanya LED dimanfaatkan juga sebagai dioda dan sekaligus sebagai indikator.

LED sanggup menghasilkan emisi cahaya sebab adanya pedoman listrik yang mengalir pada dua materi semikonduktor bercampuran khusus yang membentuknya. Dengan berkembangnya LED hingga ditemukan pembuatan LED dengan materi organik, belakangan penggunaan LED meluas hingga sebagai lampu penerangan dan penghasil cahaya infra merah. Pada kelanjutannya dikembangkan juga jenis dioda lain yang similar dengan LED untuk menghasilkan sinar yang dipompakan lebih kuat, yaitu laser-diode (LD).
LED sebagai lampu penerangan dengan intensitas cahaya yang cukup berpengaruh telah banyak dipakai untuk keperluan umum. Kini telah banyak beredar lampu-lampu LED untuk penerangan rumah, lampu kendaraan, lampu darurat, hingga penerang latar pada layar datar LCD.
LED infra merah (IR-LED) dipakai pada remote-control, sedangkan LD dipakai pada optic CD/DVD-player, mainan bawah umur dan lain-lain.

Seven-segment.
Seven-segment ialah display yang terdiri dari tujuh segmen yang sanggup membentuk angka dari 0 hingga dengan 9. Sebagian seven-segment dibentuk dari monochrome LCD (Liquid Crystal Display) dan sebagian lagi disusun dari tujuh LED dengan penampang dan posisi sedemikian rupa.
Seven-segment yang disusun dari tujuh LED sanggup digambarkan sebagai berikut :

 lazim dipakai untuk penyebutan bagi komponen Komponen Opto-Electronic, Apakah Itu?

Pada gambar (a) diperlihatkan satu unit seven-segment dengan suplemen LED indikator dan pada gambar (b) diperlihatkan bagan rangkaiannya.
Apabila pada pin 1 diberikan tegangan maka LED1 (indikator berbentuk titik) akan menyala.
Apabila tegangan diberikan kepada pin 2, pin 4, pin 5, pin 6, pin 7 dan pin 9 maka setiap LED yang terhubung dengan pin-pin tersebut akan menyala, display pun akan menawarkan angka 0.
Apabila tegangan diberikan kepada pin 2 dan pin 6 maka display akan menawarkan angka 1.
Apabila tegangan diberikan kepada pin 4, pin 5, pin 6, pin 7 dan pin 10 maka display akan menawarkan angka 2.
Demikianlah seterusnya, kombinasi santunan tegangan pada LED yang lainnya akan membentuk tampilan angka yang lain pula.

KOMPONEN PHOTO-ELECTRONIC.
Beberapa komponen photo-electronic yang telah disebutkan di dalam goresan pena ini telah disinggung secara singkat di dalam beberapa goresan pena ibarat : Jenis-jenis resistor, Jenis-jenis dioda, dan Jenis-jenis transistor.
Silahkan lihat dalam label : Pengenalan Komponen / parts elektronik .

Dalam perkembangannya penerapan komponen photo-electronic menjadi semakin meluas pula hingga muncullah parts gres di dalam dunia elektronik ibarat IR-sensor (sensor infra merah) dan opto-coupler.

IR-sensor (sensor infra merah).
Ini ialah komponen yang peka terhadap cahaya infra merah. IR-sensor (sering juga disebut dengan sensor-remote) ialah unit di mana di dalamnya terdapat komponen photo-electronic ibarat photo-dioda atau photo-transistor yang dirangkai dengan sebuah sirkit buffer (penyangga). Ia menangkap bentuk perubahan-perubahan cahaya infra merah yang dipancarkan oleh dioda infra merah dari sebuah remote-control yang diarahkan kepadanya. Keluaran IR-sensor berupa sinyal analog atau digital yang mengandung informasi sebagaimana perubahan-perubahan cahaya infra merah yang telah ditangkapnya.

IR-sensor umumnya memiliki 3 pin elektroda, yaitu : pin +, pin out dan pin gnd.
Pin + ialah pin untuk santunan tegangan supply, besarnya tegangan supply bervariasi (tergantung jenis/model IR-sensor yang bersangkutan) biasanya antara 3V – 5V.
Pin out ialah pin keluaran (output) dan pin gnd ialah sambungan untuk ground.
Berikut ini ialah beberapa bentuk fisik IR-sensor beserta susunan pin-nya yang banyak beredar :

 lazim dipakai untuk penyebutan bagi komponen Komponen Opto-Electronic, Apakah Itu?

Gambar (1) ialah untuk IR-sensor ibarat PNA4602, IS1U60, TSOP382, TSOP4840, TK1836, SFH5110-38 dan lain-lain.
Gambar (2) ialah untuk IR-sensor ibarat PIC12043S
Gambar (3) ialah untuk IR-sensor ibarat SFH505A
Gambar (4) ialah untuk IR-sensor ibarat TSOP31236, TSOP31138, TSOP1736, TFMS5360, SFH506 dan lain-lain.

Opto coupler.
Opto coupler ialah komponen photo-electronic khusus di mana di dalamnya terdapat LED dan komponen peka cahaya serta (biasanya) dilengkapi pula dengan sirkit fungsionalnya. Karena itu opto coupler digolongkan juga sebagai IC. Susunan pin pada opto coupler tidak ubahnya sebagai susunan pin pada IC.
Untuk ini silahkan lihat : Mengenal IC .

Opto coupler mengkopel sinyal antara dua sirkit yang “tersekat” secara sambungan elektrikal. Pengkopelan sinyal dilakukan dengan memasukkan tegangan sinyal kepada sebuah LED sehingga emisi cahaya LED akan bervariasi mengikuti bentuk variasi tegangan sinyal. Di bersahabat LED terdapat komponen peka cahaya (LDR, photo-dioda atau photo-transistor) yang akan menangkap variasi emisi cahaya LED menjadi variasi hantaran pada komponen peka cahaya tersebut. LED dan komponen peka cahaya berada dalam satu casing tertutup sehingga bebas terhadap imbas cahaya dari luar. Dalam hal ini LED di dalam opto coupler disebut sebagai “emitter” (penghasil emisi) dan komponen peka cahaya disebut sebagai “detector” (pendeteksi).
Variasi hantaran komponen peka cahaya lalu dirubah oleh sebuah sirkit di dalam opto coupler menjadi variasi dalam bentuk lain, sesuai dengan fungsi opto coupler yang bersangkutan. Berikut ini beberapa referensi di antaranya :

 lazim dipakai untuk penyebutan bagi komponen Komponen Opto-Electronic, Apakah Itu?

Pada gambar (1) diperlihatkan opto coupler dengan LED sebagai emitter dan photo-transistor sebagai detector. Yang termasuk opto coupler jenis ini contohnya : PC817, PS2501-1, TLP621, 4N25, dan lain-lain
Pada gambar (2) diperlihatkan opto-coupler dengan LDR sebagai detector. Contoh opto coupler jenis ini ialah : VTL5C.
Pada gambar (3) tampak empat unit opto coupler dengan phopto transistor sebagai detector dalam satu casing. Contoh opto coupler jenis ini ialah : PS2501-4, SDT1600.
Pada gambar (4) tampak opto coupler dengan photo-transistor sebagai detector namun ada perlengkapan untuk sambungan basis tersendiri pada transistor detector. Contoh : CNY17, 4N35.
Pada gambar (5) diperlihatkan opto coupler dengan dua susunan FET, referensi untuk ini ialah : PVG612.
Pada gambar (6) tampak opto coupler dengan detector yang mengendalikan SCR. Contoh : MCS2.
Gambar (7) ialah opto coupler dengan detector transistor darlington (transistor berpenguatan tinggi). Contoh : SFH612A.
Gambar (8) ialah opto coupler dengan detector diac. Contoh : TLP3051.

Selain dari yang telah dikemukakan itu masih banyak jenis atau model opto coupler yang telah dibentuk orang. Sebagaimana halnya IC, opto coupler kemungkinan juga akan terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Happy learning!

Mengenal Dc

  Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap Mengenal DC
DC yaitu abreviasi dari Direct Current, artinya arus searah.   Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap, tidak terjadi perubahan-perubahan polaritas di sepanjang waktunya, alasannya yaitu itu pada DC tidak ada istilah frekwensi.
Tegangan DC yang tepat yaitu tegangan dengan kurva yang lurus.  Tegangan DC yang menyerupai ini terdapat secara alamiah pada segala bentuk baterai.
Polaritas atau potensial tegangan DC bisa berupa :
  • Tegangan + (positif) terhadap nol volt (0V)
  • Tegangan – (negatif) terhadap 0V
  • Tegangan positif dan tegangan negatif terhadap 0V
  • Tegangan positif terhadap negatif.
  Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap Mengenal DC
Nol Volt (0V) yaitu titik netral, biasanya difungsikan sebagai ground.
Gambar (1) menawarkan referensi tegangan + terhadap 0V. Antara (a) dan 0V terdapat tegangan sebesar +9V.
Gambar (2) menawarkan referensi tegangan – terhadap 0V. Antara (b) dan 0V terdapat tegangan sebesar -9V.
Gambar (3) menawarkan referensi tegangan + (positif) dan tegangan – (negatif) terhadap 0V.  Ada dua tegangan yang sama besar terhadap 0V, namun berlawanan polaritas, yaitu polaritas + dan -.
Dua tegangan DC dengan dua polaritas terhadap 0V yang menyerupai ini disebut tegangan terbelah (split-voltage).  Ketika dua tegangan itu memiliki angka yang sama maka disebut juga tegangan simetrik.
Gambar (3) juga menawarkan referensi tegangan + (positif) terhadap – (negatif) jikalau titik 0V diabaikan. Karena kedua tegangan itu masing-masing memiliki besaran angka 9V (terhadap 0V), maka antara (a) dan (b) terdapat tegangan setinggi 18V.

DC untuk tenaga (power).
Tegangan berbentuk DC lebih diharapkan untuk menyuplai perangkat-perangkat yang mengandung rangkaia-rangkaian elektronik di dalamnya.  Setiap rangkaian elektronik di mana di dalamnya terdapat komponen-komponen aktif menyerupai transistor, dioda dan IC selalu memerlukan suplai tegangan DC.  Apabila tegangan yang tersedia berbentuk AC (misalnya dari transformator) maka perlu dilakukan penyearahan terlebih dahulu semoga menjadi berbentuk DC.   Tentang ini telah dibahas di dalam ulasan sebelumnya :
Penyearahan gelombang penuh dengan kondensator perata .

Biasanya sumber tenaga listrik DC banyak mengandalkan dari baterai sedangkan baterai hanya memiliki tegangan yang rendah.  Daya yang bisa dihasilkan juga hanyalah daya dalam level yang tidak besar. Karena itu sistem tenaga listrik DC lebih dikenal sebagai sistem daya terbatas bertegangan rendah.
Sebagai contoh, daya pada sistem AC 220V sebesar 1300W yaitu daya untuk keperluan rumah yang dikala ini sudah lumrah.  Daya sebesar itu gampang dihasilkan oleh generator dan relatif gampang didapatkan oleh setiap rumah pada sistem AC tegangan tinggi.  Dan daya sebesar itu memang diharapkan alasannya yaitu rata-rata di setiap rumah pada dikala ini terdapat banyak sekali peralatan elektronik menyerupai lemari es, TV, rice-cooker, setrika listrik, water-dispenser, mesin cuci, komputer (PC), lampu penerangan yang banyak dan lain-lain.
Akan tetapi daya sebesar 1300W itu bukanlah hal yang gampang bagi sistem DC tegangan rendah.
Untuk menghasilkan daya sebesar itu dari sumber tegangan 12V atau 24V (tegangan aki/baterai) harus berapa Ampere arus yang bisa dihasilkan oleh baterai?
Daya 1300W dari tegangan 12V memiliki besar arus 108 Ampere, sedangkan dari tegangan 24V arusnya yaitu 54 Ampere.  Bisa dibayangkan betapa tebal kabel-kabel instalasinya.  Selain itu baterai tampungan yang diharapkan (apabila memakai baterai konvensional yang ada) yaitu baterai yang sebesar lemari pakaian anak-anak!
Ya... niscaya sangat mahal harganya.
Belum lagi dilema pengisian ulang baterai, apakah penghasil listrik rumahan yang ada memang bisa mengisi ulang baterai sebesar itu hanya dalam waktu beberapa jam?
Inilah yang dimaksud dengan “daya terbatas”.
Namun biar bagaimanapun kelebihan dari sistem DC tegangan rendah tetap ada. Listrik DC yaitu listrik yang bisa disimpan.  Penyimpanan dilakukan di dalam “bank” power, yaitu baterai-baterai yang tersedia. Semua perangkat elektronik portabel (tentengan) dan yang bersifat “mobile” disuplai dari sumber DC, yaitu baterai.
Kelebihan lainnya yaitu bahwa di dalam sistem kelistrikan DC murni yang tidak melibatkan inverter (perubah DC ke AC tegangan tinggi) tidak ada resiko terkena sengatan listrik.

Penggunaan DC untuk keperluan tenaga listrik umum bukan tidak pernah dikemukakan orang untuk digunakan.
Pada tahun 1880 seorang insinyur tenaga kelistrikan dari Swiss Rene Thury telah mendemonstrasikan penggunaan motor-seri sebagai generator untuk menghasilkan DC tegangan tinggi (High-Voltage DC). Tegangan tinggi memang menjadi solusi dilema transfer daya bekaitan efisiensi di dalam biaya instalasi.
Kemudian pada tahun 1887 Thomas Edison pernah menciptakan rancangan stasiun pendistribusian tenaga listrik DC di Amerika Serikat.  Edison mengemukakan sistem distribusi tenaga listrik DC pada tegangan simetrik +110V, 0V dan -110V.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, sistem AC dengan perangkat pendukungnya yaitu transformator ternyata terbukti lebih efisien dalam hal transfer daya listrik yang besar ke tempat-tempat yang lebih jauh.

Tentang tegangan, daya dan arus dalam DC.
Pada DC yang agak rumit dengan tegangan yang berbentuk denyut-denyut (misalnya tegangan dari hasil penyearahan AC ke DC oleh dioda-dioda penyearah) terdapat pembahasan perihal tegangan maksimal (Vmax), tegangan rata-rata (V-average), arus rata-rata (I-average), dan faktor ripple.   Itu semua telah dibahas dalam :
Penyearahan setengah gelombang
atau
Penyearahan gelombang penuh .
Namun DC murni dengan kurva tegangan yang berbentuk garis lurus bukanlah tegangan yang rumit.  Karena itu jikalau di dalam AC ada pembahasan perihal tegangan RMS (Root Mean Square), arus RMS, daya rata-rata (average-power), satuan tenaga VA (Volt-Ampere), satuan frekwensi dan lain-lain maka di dalam DC pembahasan perihal itu semua tidak ada.
Yang ada hanyalah sebagaimana pada hukum-hukum dasar kelistrikan :

V = I x R dan W = V x I.

Happy learning!

Membuat Flasher Lampu Sein Motor

Flasher sepeda motor ini sanggup dibentuk sendiri dari komponen umum yang banyak dijual di tok Membuat Flasher Lampu Sein Motor
Flasher sepeda motor ini sanggup dibentuk sendiri dari komponen umum yang banyak dijual di toko-toko parts elektronik.

Flasher di sini ialah flasher elektronik (bukan flasher mekanik yang memakai relay atau flasher bi-metal) dan lampu yang digunakan ialah lampu sein sepeda motor normal (jenis bulb atau bohlam 12V, daya 5W atau lebih).
Rangkaiannya cukup sederhana.
Prinsipnya ialah pangaktifan dan penon-aktifan sebuah transistor daya alasannya adanya pengisian dan pengosongan muatan kondensator.
Untuk melengkapi hal itu, ditambahkan sebuah transistor berdaya kecil.

Inilah bagan rangkaiannya :

Flasher sepeda motor ini sanggup dibentuk sendiri dari komponen umum yang banyak dijual di tok Membuat Flasher Lampu Sein Motor

Daftar komponen :
R1 = 4k7
R2 = 1k8
R3 = 8k2
R4 = 2k2
R5 = 10Ω
C1 = 22µF/25V
C2 = 100µF/25V
T1 = FCS 9012
T2 = Transistor MOSFET 60N03
D1 = 1N4002

Semua resistor 1/4W. Untuk T2 bisa memakai transistor MOSFET lain menyerupai IRF510, IRF511, BUZ70, BUZ71, IRF630, IRF740, IRFZ44, dan lain-lain. Tipe MOSFET yang digunakan di sini tidaklah kritis, tetapi penggunaan MOSFET berbentuk kecil tentu lebih irit tempat.

Cara kerja rangkaian flasher sein-motor.
Jika pada B terdapat tegangan +12V dan antara L dengan ground terdapat lampu bohlam 12V (dengan daya 5W atau lebih), maka yang akan terjadi ialah sebagai berikut:
  • C1 akan diisi muatan dengan cepat melalui tegangan dari dioda D1. Ini alasannya lampu memiliki resistansi kecil terhadap tegangan DC. Tinggi tegangan pada C1 akan sekira 12V.
  • C2 akan mulai diisi muatan, namun ini memakan waktu alasannya adanya tugas R1. Selama waktu pengisian C2 ini lampu belum menyala.
    Ketika C2 sudah mulai terisi dan tegangan padanya telah mencapai 0,6V lebih tinggi dari tegangan di basis T1, maka T1 akan aktif. Aktifnya T1 menciptakan gate T2 mendapat tegangan positif sehingga T2 menjadi aktif/menghantar, kesudahannya lampu pun menyala.
  • pada ketika lampu menyala, tegangan antara drain dan source T2 simpel nol Volt. C1 tidak mendapat tegangan dari dioda lagi, maka ia pun membuang muatan melalui R1 dan R2. C2 juga membuang muatan melalui emitor T1, dan ketika tegangan pada C2 telah merosot menciptakan T1menjadi tidak aktif lagi. Ini menciptakan gate T2 terhenti mendapat tegangan positif maka ia pun kemudian menjadi tidak aktif. Dengan demikian lampu kembali padam.
Proses selanjutnya ialah berulangnya insiden pengisian C1 dan C2 sebagaimana diterangkan di atas, begitulah seterusnya sehingga lampu menyala dan padam secara periodik.
Jika diinginkan kedipan yang lebih lambat, R1 bisa diganti dengan 5k6, dan C1 diganti dengan 47µF/25V.

Konstruksi/pembuatan rangkaian flasher sein-motor.
Pada teladan yang telah dibuat, digunakan casing sein-motor bekas. Karena itu sebelum menyusun komponen di PCB dengan sambungan-sambungannya, luas PCB ditentukan dan dipotong terlebih dahulu biar bisa masuk ke dalam casing. Setelah itu barulah dipasang komponen-komponennya serta dibentuk jalur-jalur sambungannya.
Inilah teladan jalur-jalur sambungannya, dibentuk pada sepotong PCB titik kecil (PCB titik untuki IC). Gambar yang terlihat ialah gambar tampak bawah.

Flasher sepeda motor ini sanggup dibentuk sendiri dari komponen umum yang banyak dijual di tok Membuat Flasher Lampu Sein Motor

Perhatikanlah sambungan pin/kaki T1, pastikan tidak salah pasang. Bagi yang belum terperinci silahkan simak : Mengenal transistor .

T2 tidak memerlukan heatsink untuk menyalurkan panas. Ketika bekerja, transistor ini hanya hangat saja.
Semua resistor dipasang berbaring, kecuali R2 dipasang berdiri.
Setelah semua komponen disolderkan sesuai jalur-jalurnya, akan ada dua koneksi sambungan, yaitu B (sambungan ke tegangan suplai), dan L (sambungan ke lampu, sesudah melalui saklar lampu sein di stang motor).
Pastikan bahwa casing tertutup dengan rapat, biar komponen di dalamnya tidak terkena air jikalau sepeda motor suatu waktu dicuci atau digunakan berkendara ketika hujan. Untuk merapatkan tepi-tepi epilog casing, sanggup digunakan lem bakar.

Petunjuk pemasangan rangkaian flasher sein-motor.
Kebanyakan sepeda-motor memiliki pola pemasangan flasher lampu sein yang sama.
Rangkaian flasher sein buatan sendiri ini juga dipasang sebagaimana layaknya flasher sein biasa, disambungkan saja ke soket konektornya yang tersedia di sepeda motor (sambungan B dan L).

Flasher sepeda motor ini sanggup dibentuk sendiri dari komponen umum yang banyak dijual di tok Membuat Flasher Lampu Sein Motor

Flasher lampu sein ini telah di-test di sepeda motor Honda Supra-X 125 tanpa ada keluhan.
Karena kemampuan dayanya yang tidak mengecewakan besar, flasher ini sanggup dibebankan lampu sampai 60W sehingga memungkinkan digunakan sebagai flasher mobil. Namun penulis belum sempat mencobanya, mungkin cara penyambungannya sedikit dirubah.
Catatan terakhir bahwa flasher lampu sein ini dibentuk untuk penggunaan lampu bulb/bohlam, bukan untuk penggunaan lampu modifikasi dengan LED. Untuk flasher yang sanggup digunakan dengan lampu bulb maupun LED silahkan berkunjung ke goresan pena di sini :
Flasher lampu sein buatan sendiri yang unik .

Ada yang mau coba?

Happy soldering!

Transistor Tup Dan Tun

Transistor TUN dan TUP ialah istilah untuk transistor bipolar yang  Transistor TUP dan TUN
Transistor TUN dan TUP ialah istilah untuk transistor bipolar yang (sebenarnya) asalnya tiba dari Eropa. Majalah-majalah elektronik terkenal yang beredar di Eropa menyerupai Elektor, Selektron ‘78 dan yang lainnya sering memakai istilah-istilah ini pada rangkaian-rangkaian elektronik yang diterbitkannya. Ketika artikel yang mengandung rangkaian-rangkaian elektronik dari majalah-majalah itu hingga ke Indonesia, maka di Indonesia pun para praktisi dan para hobbyst elektronik banyak juga yang ikut memakai istilah-istilah ini.
Dahulu, sempat ada seorang teman yang menyampaikan kepada aku : “TUN itu Transistor Umum NPN dan TUP itu Transistor Umum PNP!”
Belakangan diketahui bahwa TUN dan TUP bukanlah itu, tetapi secara makna tidak terlalu meleset jauh dari yang sebenarnya.
Hanya kebetulan?

TUN ialah akronim dari Transistor Universal NPN, sedangkan TUP ialah akronim dari Transistor Universal PNP.
TUN dan TUP ialah transistor-transistor daya rendah (low power transistors) yang sanggup dipakai untuk keperluan-keperluan umum menyerupai penguat audio tingkat depan (pre-amplifier), pengatur nada aktif (active tone-control), penguat arus DC tegangan rendah, switching, osilator ultrasonik, flip-flop, multivibrator, detektor, dan lain-lain. TUN dan TUP sanggup diterapkan di hampir semua rangkaian elektronik, kecuali rangkaian-rangkaian khusus menyerupai rangkaian penguat frekwensi radio, rangkaian yang menerapkan suplai tegangan tinggi, atau yang lainnya yang memerlukan karakteristik transistor khusus tertentu..
Karena istilah TUN dan TUP asalnya dari Eropa, maka kebanyakan transistor yang didefinisikan sebagai TUN dan TUP juga ialah transistor-transistor Eropa (hanya sebagian kecil transistor Amerika).
Di antara transistor-transistor yang termasuk TUN misalnya ialah :
BC107, BC147, BC237, BC317, BC347, BC547, 2N3904, 2N3947, dan lain-lain.
Dan di antara transistor-transistor yang termasuk TUP misalnya ialah :
BC177, BC157, BC307, BC416, BC557, 2N3906, 2N4126, dan lain-lain.
Di antara transistor TUN dan TUP yang telah disebutkan itu yang paling terkenal dan paling gampang ditemui di pasaran ialah BC547 dan BC557.

TUN dan TUP ialah transistor-transistor yang memiliki kriteria di dalam datanya sebagai berikut :
VCEO berkisar antara 20 hingga 50V
IC max berkisar antara 100 hingga 200mA
Pd max sekitar 100mW
fT min sekitar 100MHz.

Dari kriteria-kriteria itu, bergotong-royong cukup banyak transistor-transistor lain yang juga sanggup dikategorikan sebagai transistor TUN dan TUP.
Bagaimana dengan transistor-transistor Jepang?
Dari transistor-transistor Jepang yang memungkinkan untuk sanggup dikategorikan sebagai TUN ialah :
C536, C548, C945, C1815, dan lain-lain.
Dan dari transistor-transistor Jepang yang memungkinkan untuk sanggup dikategorikan sebagai TUP ialah :
A564, A844, A713, A1015, dan lain-lain.

Transistor-transistor yang lainnya yang juga memungkinkan untuk sanggup dikategorikan sebagai TUN dan TUP ialah :
TUN : ED1402, FCS9014
TUP : ED1602, FCS9015.

Happy learning!


Tulisan sebelumnya ihwal transistor :
Mengenal transistor 
Jenis-jenis transistor .

Membuat Flasher Lampu Sein Motor

Flasher sepeda motor ini sanggup dibentuk sendiri dari komponen umum yang banyak dijual di tok Membuat Flasher Lampu Sein Motor
Flasher sepeda motor ini sanggup dibentuk sendiri dari komponen umum yang banyak dijual di toko-toko parts elektronik.

Flasher di sini ialah flasher elektronik (bukan flasher mekanik yang memakai relay atau flasher bi-metal) dan lampu yang digunakan ialah lampu sein sepeda motor normal (jenis bulb atau bohlam 12V, daya 5W atau lebih).
Rangkaiannya cukup sederhana.
Prinsipnya ialah pangaktifan dan penon-aktifan sebuah transistor daya alasannya adanya pengisian dan pengosongan muatan kondensator.
Untuk melengkapi hal itu, ditambahkan sebuah transistor berdaya kecil.

Inilah bagan rangkaiannya :

Flasher sepeda motor ini sanggup dibentuk sendiri dari komponen umum yang banyak dijual di tok Membuat Flasher Lampu Sein Motor

Daftar komponen :
R1 = 4k7
R2 = 1k8
R3 = 8k2
R4 = 2k2
R5 = 10Ω
C1 = 22µF/25V
C2 = 100µF/25V
T1 = FCS 9012
T2 = Transistor MOSFET 60N03
D1 = 1N4002

Semua resistor 1/4W. Untuk T2 bisa memakai transistor MOSFET lain menyerupai IRF510, IRF511, BUZ70, BUZ71, IRF630, IRF740, IRFZ44, dan lain-lain. Tipe MOSFET yang digunakan di sini tidaklah kritis, tetapi penggunaan MOSFET berbentuk kecil tentu lebih irit tempat.

Cara kerja rangkaian flasher sein-motor.
Jika pada B terdapat tegangan +12V dan antara L dengan ground terdapat lampu bohlam 12V (dengan daya 5W atau lebih), maka yang akan terjadi ialah sebagai berikut:
  • C1 akan diisi muatan dengan cepat melalui tegangan dari dioda D1. Ini alasannya lampu memiliki resistansi kecil terhadap tegangan DC. Tinggi tegangan pada C1 akan sekira 12V.
  • C2 akan mulai diisi muatan, namun ini memakan waktu alasannya adanya tugas R1. Selama waktu pengisian C2 ini lampu belum menyala.
    Ketika C2 sudah mulai terisi dan tegangan padanya telah mencapai 0,6V lebih tinggi dari tegangan di basis T1, maka T1 akan aktif. Aktifnya T1 menciptakan gate T2 mendapat tegangan positif sehingga T2 menjadi aktif/menghantar, kesudahannya lampu pun menyala.
  • pada ketika lampu menyala, tegangan antara drain dan source T2 simpel nol Volt. C1 tidak mendapat tegangan dari dioda lagi, maka ia pun membuang muatan melalui R1 dan R2. C2 juga membuang muatan melalui emitor T1, dan ketika tegangan pada C2 telah merosot menciptakan T1menjadi tidak aktif lagi. Ini menciptakan gate T2 terhenti mendapat tegangan positif maka ia pun kemudian menjadi tidak aktif. Dengan demikian lampu kembali padam.
Proses selanjutnya ialah berulangnya insiden pengisian C1 dan C2 sebagaimana diterangkan di atas, begitulah seterusnya sehingga lampu menyala dan padam secara periodik.
Jika diinginkan kedipan yang lebih lambat, R1 bisa diganti dengan 5k6, dan C1 diganti dengan 47µF/25V.

Konstruksi/pembuatan rangkaian flasher sein-motor.
Pada teladan yang telah dibuat, digunakan casing sein-motor bekas. Karena itu sebelum menyusun komponen di PCB dengan sambungan-sambungannya, luas PCB ditentukan dan dipotong terlebih dahulu biar bisa masuk ke dalam casing. Setelah itu barulah dipasang komponen-komponennya serta dibentuk jalur-jalur sambungannya.
Inilah teladan jalur-jalur sambungannya, dibentuk pada sepotong PCB titik kecil (PCB titik untuki IC). Gambar yang terlihat ialah gambar tampak bawah.

Flasher sepeda motor ini sanggup dibentuk sendiri dari komponen umum yang banyak dijual di tok Membuat Flasher Lampu Sein Motor

Perhatikanlah sambungan pin/kaki T1, pastikan tidak salah pasang. Bagi yang belum terperinci silahkan simak : Mengenal transistor .

T2 tidak memerlukan heatsink untuk menyalurkan panas. Ketika bekerja, transistor ini hanya hangat saja.
Semua resistor dipasang berbaring, kecuali R2 dipasang berdiri.
Setelah semua komponen disolderkan sesuai jalur-jalurnya, akan ada dua koneksi sambungan, yaitu B (sambungan ke tegangan suplai), dan L (sambungan ke lampu, sesudah melalui saklar lampu sein di stang motor).
Pastikan bahwa casing tertutup dengan rapat, biar komponen di dalamnya tidak terkena air jikalau sepeda motor suatu waktu dicuci atau digunakan berkendara ketika hujan. Untuk merapatkan tepi-tepi epilog casing, sanggup digunakan lem bakar.

Petunjuk pemasangan rangkaian flasher sein-motor.
Kebanyakan sepeda-motor memiliki pola pemasangan flasher lampu sein yang sama.
Rangkaian flasher sein buatan sendiri ini juga dipasang sebagaimana layaknya flasher sein biasa, disambungkan saja ke soket konektornya yang tersedia di sepeda motor (sambungan B dan L).

Flasher sepeda motor ini sanggup dibentuk sendiri dari komponen umum yang banyak dijual di tok Membuat Flasher Lampu Sein Motor

Flasher lampu sein ini telah di-test di sepeda motor Honda Supra-X 125 tanpa ada keluhan.
Karena kemampuan dayanya yang tidak mengecewakan besar, flasher ini sanggup dibebankan lampu sampai 60W sehingga memungkinkan digunakan sebagai flasher mobil. Namun penulis belum sempat mencobanya, mungkin cara penyambungannya sedikit dirubah.
Catatan terakhir bahwa flasher lampu sein ini dibentuk untuk penggunaan lampu bulb/bohlam, bukan untuk penggunaan lampu modifikasi dengan LED. Untuk flasher yang sanggup digunakan dengan lampu bulb maupun LED silahkan berkunjung ke goresan pena di sini :
Flasher lampu sein buatan sendiri yang unik .

Ada yang mau coba?

Happy soldering!