Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri mengenal-ac. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri mengenal-ac. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Mengenal Ac

 yaitu arus dengan tegangan yang berganti Mengenal AC
AC yaitu akronim dari Alternating Current, artinya arus bolak-balik, yaitu arus dengan tegangan yang berganti-ganti polaritasnya (positif kemudian negatif) terus-menerus secara periodik.
AC merupakan bentuk dari gelombang listrik, lantaran itu dalam AC dikenal istilah frekwensi, yaitu banyaknya siklus atau periode gelombang (cycle) yang terjadi dalam waktu satu detik.  Tentang frekwensi tidak dibahas di sini, untuk lebih terperinci bisa disimak dalam goresan pena : Frekwensi .

Bentuk-bentuk gelombang AC.
Gelombang AC memiliki banyak bentuk.  Bagaimanapun bentuk kurva tegangannya selama terdiri dari satu cuilan positif dan satu cuilan negatif dalam satu siklus maka itu tetap dikatakan sebagai AC.
Ada kalanya gelombang AC itu terbentuk begitu saja tanpa rekayasa khusus yang disengaja, tetapi ada kalanya juga bentuk gelombang AC itu memang diinginkan berbentuk sedemikian rupa semoga orang bisa memanfaatkannya untuk suatu keperluan.  Bentuk-bentuk kurva tegangan gelombang AC yang telah banyak dikenal di antaranya yaitu :

 yaitu arus dengan tegangan yang berganti Mengenal AC

Gelombang sinus (sine-wave)
yaitu gelombang AC dengan bentuk mirip yang diperlihatkan pada gambar (A).
Gelombang sinus paling banyak dikenal dan diterapkan sebagai bentuk gelombang untuk tenaga (power) listrik umum.  Termasuk pula ke dalam bentuk gelombang sinus yaitu gelombang yang berasal dari bunyi manusia, bunyi binatang, musik, dan lain-lain.

Gelombang balok atau gelombang persegi-empat (square-wave)
yaitu gelombang yang kurva tegangannya berbentuk balok atau segi-empat sebagaimana diperlihatkan pada gambar (B).

Gelombang segi-tiga (triangle-wave)
yaitu gelombang dengan ujung atas kurva yang lancip dan kedua sisinya simetrik, lihat gambar (C).

Gelombang gigi-gergaji (sawtooth-wave)
yaitu gelombang dengan kurva tegangan yang ibarat bentuk gigi gergaji, lihat gambar (D).

AC untuk tenaga (power).
Tegangan berbentuk AC dipakai untuk listrik sumber tenaga yang menjadi sumber suplai listrik banyak sekali keperluan, mirip untuk menjalankan peralatan-peralatan elektronik di rumah, untuk menyalakan lampu-lampu penerangan, untuk menjalankan peralatan permesinan pabrik dan lain sebagainya.
AC sebagai listrik sumber tenaga lebih menguntungkan lantaran bisa ditransfer dengan jarak yang cukup jauh tanpa harus memakai perkabelan yang besar-besar.
Perkabelan yang besar-besar hanya diharapkan untuk menyalurkan daya listrik dengan arus besar. Sedangkan pada daya listrik dengan arus kecil tidak diharapkan kabel besar.
Untuk mencapai ini ditempuh cara dengan menaikkan tegangan AC listriknya terlebih dahulu (bahkan hingga mencapai puluhan ribu Volt), kemudian barulah ditransfer sebagai daya listrik dengan besar daya yang sama tetapi arusnya sudah menjadi lebih kecil sehingga tidak memerlukan kabel yang besar. Hal ini dimungkinkan lantaran daya yaitu hasil perkalian antara tegangan dengan arus.

W = V x I

Dalam besaran daya yang sama, apabila tegangan dinaikkan maka konsekwensinya yaitu arusnya akan mengecil.  Sedangkan apabila tegangannya yaitu kecil maka konsekwensinya arusnya yaitu besar.
Contoh : Untuk mentransfer daya (misalnya) 1MWatt (1000.000Watt) tegangan dinaikkan menjadi 20kV. Maka arus yang akan dialirkan melalui kabel transfer yaitu :
1000.000 / 20.000 = 50A.
Arus sebesar itu masih gampang disalurkan pada kabel transfer (kira-kira) setebal ibu jari orang dewasa.
Bayangkan bila tegangannya yaitu 220V, berapakah tebal kabel yang harus diadakan untuk menyalurkan pedoman arusnya?
Arusnya ada sebesar : 1000.000 / 220 = 4545A...
Kabel yang harus diadakan mungkin akan setebal batang pokok pohon mangga!
Ketika transfer daya listrik itu telah hingga di daerah tujuan, tegangan kembali diturunkan hingga menjadi 220V kemudian disalurkan ke rumah-rumah.
Dalam hitungan tekhnis yang lebih teliti, untuk memperkirakan keperluan kabel sebagai sarana transmisi yang dilihat yaitu arus RMS (IRMS).  Apa yang dicontohkan itu hanyalah sekedar materi untuk memperlihatkan citra secara mudah.

Untuk menaikkan tegangan dari kecil menjadi besar/tinggi (atau sebaliknya) hanya bisa dilakukan pada listrik AC, tidak bisa dilakukan pada listrik DC dengan kurva tegangan yang berbentuk lurus.  Proses menaikkan (atau menurunkan) tegangan itu dilakukan dengan memakai alat yang disebut transformator.
Inilah sifat-sifat AC yang menjadikannya lebih dipilih untuk dipakai sebagai listrik sumber tenaga untuk keperluan umum.

AC untuk tenaga yaitu AC berbentuk sinus, merupakan bentuk tegangan AC yang terjadi dari proses mekanikal lantaran generator-generator listrik besar dengan sistem gerak di antara kumparan dan medan magnet selalu menghasilkan AC dengan bentuk sinus ini.  Dalam skala lebih kecil mirip yang terdapat pada AC gen-set atau pada kebanyakan spoel alternator sepeda bermotor bentuk tegangan AC yang dihasilkan yaitu juga tegangan AC berbentuk sinus.
AC untuk tenaga yang diterapkan secara umum memiliki frekwensi 50 atau 60Hz.  Frekwensi itu diterapkan lantaran memudahkan dalam beberapa hal, antara lain dalam konstruksi motor elektrik pada banyak penggunaan, juga dalam problem transfer memperkecil efek induktansi pada kabel yang bisa mengakibatkan kerugian tegangan.

AC dan RMS.
RMS (sering juga ditulis dengan karakter kecil : rms) yaitu akronim dari Root Mean Square, yaitu bentuk lain satuan tegangan AC yang lebih teliti yang dirumuskan dengan melibatkan banyak faktor mirip amplitudo, pewaktuan, frekwensi, bentuk gelombang, dan duty-cycle.
Sebagaimana diketahui bahwa pada tegangan AC terdapat tegangan positif dan tegangan negatif yang berganti-ganti, banyaknya kemunculan tegangan positif akan sama dengan banyaknya kemunculan tegangan negatif.  Karena itu saat kepada tegangan AC ini diambil tegangan rata-ratanya (average-voltage) maka hanya akan didapati angka nol, lantaran tegangan AC berbeda dengan tegangan DC meskipun berbentuk denyut-denyut tegangan.  Misalnya pada tegangan DC yang berbentuk denyut-denyut positif tidak disertai dengan kemunculan denyut-denyut tegangan negatif.
Jika belum terperinci perihal tegangan rata-rata (average-voltage) pada denyut-denyut DC bisa diikuti dalam ulasan yang lain : Penyearahan Setengah Gelombang .
Dengan adanya perumusan perhitungan RMS maka permasalahan ini sanggup dilalui.

Jalan perhitungan untuk tegangan RMS bekerjsama cukup rumit, tetapi secara gampang bisa diambil kesimpulan dari jalan perhitungan yang rumit itu yaitu :

VRMS = Vp / √2 (Volt).

Vp yaitu tegangan puncak atau tegangan maksimal pada satu belahan tegangan (tinggi tegangan pada setengah periode/cycle).  Vp yaitu tinggi tegangan yang biasa disebutkan saat sebuah tegangan AC dinyatakan.  Lihatlah pada gambar symbol di atas, bedakanlah antara Vp dengan Vp-p (tegangan dari puncak ke puncak).
Demikianlah, bila pada tegangan DC terdapat perhitungan : V = Vmax / √2 maka pada tegangan AC terdapat perhitungan : VRMS = Vp / √2.

Dengan adanya tegangan RMS maka terdapat pula arus RMS, yaitu :

IRMS = Ip / √2 (Ampere).

Ip yaitu arus puncak/maksimal, yaitu arus yang mengalir saat tegangan mencapai puncak/maksimal.
Kini, sehabis tegangan RMS dan arus RMS diketahui, dapatlah diambil kesimpulan perihal daya rata-rata (average-power), yaitu :

P-average = VRMS x IRMS (Watt).

Contoh : Jika tegangan AC yaitu 220V dengan arus 4A, maka tegangan RMS yaitu 220 / √2 = 156V RMS, arus RMS yaitu : 4 / √2 = 2,8A RMS.
Daya rata-rata (P-average) = 156 x 2,8 = 436,8W.
Dalam penulisan yang lain, daya rata-rata tidak dinyatakan dengan Watt, tetapi dinyatakan dengan VA (Volt-Ampere).
Contoh perhitungan itu yaitu berlaku bagi tegangan AC sinus.
Ketentuan atau rumus tinggi tegangan RMS untuk majemuk bentuk tegangan tidak selalu sama, tetapi ada kalanya berbeda. Lebih lengkapnya yaitu sebagai berikut :

Untuk tegangan sinus : VRMS = Vp / √2
Untuk tegangan balok : VRMS = Vp
Untuk tegangan segi-tiga : VRMS = Vp / √3
Untuk tegangan gigi gergaji : VRMS = Vp / √3.

Sampai di sini usailah ulasan singkat perihal AC.

Happy learning!

Mengenal Transformator Daya

Transformator atau transformer atau sering juga disebut dengan trafo yaitu komponen Mengenal Transformator Daya
Transformator atau transformer atau sering juga disebut dengan trafo yaitu komponen/part elektronik yang memiliki fungsi untuk mentransfer daya listrik dalam bentuk AC (Alternating Current) atau dalam bentuk denyut-denyut tegangan tertentu.
Transformator tidak mentransfer daya dalam bentuk tegangan DC dengan kurva yang lurus (misalnya dari baterai atau aki).
Pada dasarnya semua transformator yaitu mentransfer daya, dalam bilangan yang besar ataupun yang kecil, dalam frekwensi AC yang rendah ataupun yang tinggi. Akan tetapi yang akan dibicarakan di sini yaitu khusus transformator daya untuk penggunaan umum pada frekwensi listrik AC 50/60Hz.

Bagian-bagian transformator, fungsi dan cara kerjanya.
Transformator terdiri dari tiga kepingan utama yang membentuknya, yaitu : Gulungan primer, gulungan sekunder, dan inti.
Gulungan primer yaitu lilitan-lilitan kawat tembaga berlapis email yang digulung pada inti yang berfungsi mengadopsi daya listrik dari suatu sumber AC, sedangkan gulungan sekunder yaitu lilitan-lilitan kawat yang digulung pada inti yang berfungsi melimpahkan daya listrik yang telah diambil itu kepada beban (load) tertentu. Inti yaitu besi khusus daerah digulungkannya gulungan primer dan gulungan sekunder secara bersama-sama.
Antara gulungan primer dengan gulungan sekunder tidak ada sambungan/kontak, kedua gulungan itu saling terisolasi. Transfer daya listrik terjadi dengan terjangkitnya medan magnet (fluks magnetik) yang berubah-ubah pada inti yang disebabkan oleh mengalirnya arus AC pada gulungan primer, lalu perubahan-perubahan medan magnet ini diinduksikan kepada gulungan sekunder dan menjadi perubahan-perubahan tegangan.

Secara teoritis, tegangan dan arus yang ditransfer oleh transformator yaitu utuh 100%. Ini berarti kalau tidak ada arus yang mengalir dari gulungan sekunder maka gulungan primer pun tidak akan menarik arus.
Akan tetapi di dalam prakteknya tidaklah demikian.
Meskipun pada gulungan sekunder tidak terjadi pemakaian arus, di gulungan primer masih mengalir arus (meskipun kecil). Ini disebabkan lantaran ketidak-sempurnaan transformator, antara lain dikarenakan adanya kerugian-kerugian pada materi pembuat inti, kerugian tembaga, kerugian gulungan (seperti contohnya adanya rongga/celah antar lilitan), kerugian panas dan lain-lain. Dalam prakteknya transfer daya utuh 100% tidak pernah tercapai. Efisiensi terbaik transformator yang bisa dicapai konon yaitu 98%, tetapi kebanyakannya lebih rendah dari itu. Bahkan banyak transformator kecil murahan yang dibentuk asal jadi hanya memiliki efisiensi sekitar 50%.

Transfer daya dengan menaikkan atau menurunkan tegangan.
Transfer daya pada transformator dilakukan dengan menurunkan tegangan atau menaikkannya (di gulungan sekunder) dengan konsekwensi : Jika tegangan diturunkan yang besar yaitu arusnya, dan kalau tegangan dinaikkan maka arusnya akan mengecil, lantaran daya yaitu perkalian tegangan dengan arus.
Di sebagian kalangan masyarakat awam ada anggapan bahwa dikala tegangan dinaikkan dengan memakai transformator maka daya listrik pun akan menjadi bertambah besar, dan dikala tegangan diturunkan maka konsumsi daya listrik akan menjadi lebih hemat.
Tentu saja anggapan ini yaitu anggapan yang salah.
Sebagaimana telah disinggung bahwa dikala tegangan dinaikkan konsekwensinya yaitu arusnya akan mengecil (pada besaran daya yang sama), dan apabila tegangan diturunkan tidak pernah terjadi penghematan daya, terlebih lagi setiap transformator dalam prakteknya tidak ada yang memiliki efisiensi 100%.
Kesimpulannya yaitu : Setiap kali transformator digunakan, entah untuk menaikkan ataupun menurunkan tegangan yang terjadi sebetulnya yaitu justeru pemborosan. Namun meskipun pemborosan, di dalam banyak hal penggunaan transformator tetap lebih dibutuhkan untuk menghindari pemborosan yang lebih besar lagi kalau tidak menggunakannya.

Pada power-transformator atau AC-transformer digunakan istilah satuan VA (Volt-Ampere).
VA yaitu satuan daya listrik yang lebih spesifik menyangkut persoalan tekhnis, didapatkan dari :

VA = VRMS x IRMS

Tentang VRMS dan IRMS bisa diikuti dalam :
Mengenal AC .

Besarnya tegangan yang dilimpahkan kepada gulungan sekunder tergantung dari perbandingan antara banyaknya lilitan pada gulungan primer dengan banyaknya lilitan pada gulungan sekunder.
Contoh : Pada gulungan primer yang banyaknya 110 lilitan diberikan tegangan AC sebesar 110V. Maka pada gulungan sekunder yang banyaknya 30 lilitan akan muncul tegangan AC sebesar 30V.
Dari pola itu sanggup disimpulkan :

Vp : Vs = Np : Ns

Di mana Vp yaitu tegangan primer, Vs yaitu tegangan sekunder, Np yaitu gulungan primer dan Ns yaitu gulungan sekunder.
Dengan demikian besarnya tegangan sekunder sanggup diketahui :

Vs = (Vp.Ns) / Np.

Jenis-jenis transformator daya.
Ada beberapa macam transformator daya yang biasa digunakan untuk keperluan umum, yaitu :

Transformator atau transformer atau sering juga disebut dengan trafo yaitu komponen Mengenal Transformator Daya

Transformator tegangan tunggal.
Transformator ini memiliki satu gulungan tunggal yang utama pada kepingan sekundernya, lantaran itu tegangan keluarannya pun tunggal. Transformator tegangan tunggal sering juga disebut dengan trafo “nol”, disebut begitu lantaran memiliki dua sambungan keluaran yang salah satunya yaitu 0V (nol Volt). Trafo nol biasa disebutkan hanya tegangan dan besar arus sekundernya saja. Contoh : trafo 0 – 12V/3A, trafo 0 – 18V/5A dan lain-lain.
Penggunaan trafo nol terdapat sangat banyak di banyak sekali perangkat elektronik menyerupai radio-tape recorder, DC-regulator, penguat audio system OTL dan BTL, dan lain-lain.

Transformator tegangan terbelah.
Transformator tegangan terbelah yaitu transformator yang memiliki dua keluaran tegangan yang sama besar namun saling berlawanan fasa. Di antara dua terminal tegangan keluarannya itu terdapat terminal “CT” (Center Tap) yang menjadi titik tengah tegangan dan sering difungsikan sebagai jalur ground. Karena itu transformator ini sering juga disebut dengan “trafo CT”.
Trafo CT sangat banyak digunakan terutama pada rangkaian-rangkaian catu daya tegangan terbelah (split voltage power-supply). Rangkaian penguat audio system OCL semuanya memakai catu daya tegangan terbelah, atau sering disebut catu-daya tegangan simetrik.

Step-up dan step-down trafo.
Step-up trafo yaitu transformator yang menaikkan tegangan sumber menjadi lebih tinggi, pola : trafo step-up dari 110V ke 220V.
Step-down trafo yaitu transformator yang menurunkan tegangan sumber menjadi lebih rendah, pola : trafo step-down dari 220V ke 110V.
Step-up dan step-down trafo biasanya yaitu satu transformator yang sanggup difungsikan sebagai kedua-duanya. Ia memiliki tiga terminal yaitu terminal untuk tegangan 110V, terminal untuk tegangan 220V dan terminal 0V. Ketika difungsikan sebagai step-up trafo maka tegangan masukan (AC input) diberikan kepada terminal 0V dan 110V, sedangkan tegangan keluaran (AC output) diambil dari terminal 0V dan 220V. Terminal 0V digunakan secara bersama-sama.
Step-up dan step-down trafo digunakan apabila tegangan listrik yang tersedia tidak sesuai dengan tegangan yang dibutuhkan oleh sebuah peralatan listrik. Contoh : Sebuah freezer keluaran usang memerlukan tegangan suplai AC 110V, sedangkan tegangan listrik yang ada yaitu 220V, maka digunakanlah step-down trafo untuk menurunkan tegangan 220V menjadi 110V.

Oto-transformator.
Transformator ini menaikkan atau menurunkan tegangan sumber sesuai dengan kebutuhan. Tegangan keluaran disadap dari titik-titik pada gulungan transformator di mana pada titik-titik itu terdapat tegangan AC yang berbeda-beda. Penyadapan tegangan keluaran kepada titik-titik itu dilakukan dengan saklar/switch.
Oto-transformator sering digunakan untuk peralatan charger yang sanggup men-charge banyak baterai/aki secara massal bersama-sama. Transformator ini juga sering digunakan untuk memperlihatkan supply tegangan kepada bentangan kawat nikelin (kawat pemanas) yang digunakan untuk memotong materi Styrofoam.

Standar tegangan pada transformator daya.
Di pasaran umum beredar transformator dengan besar tegangan dan kemampuan arus yang berbeda-beda. Tegangan-tegangan standar yang biasa ada pada transformator daya yaitu :
3V, 4,5V, 6V, 7,5V, 9V dan 12V.
Standar tegangan ini ada pada transformator arus kecil, yaitu antara 300mA hingga 1A.
12V, 15V, 18V, 24V, 32V, dan 45V.
Standar tegangan ini ada pada transformator arus besar, yaitu antara 2 hingga 30A.

Happy learning!

Tulisan lain wacana transformator : Transformator CT dari transformator 0V .

Memperbaiki Ac-Stabilizer

 Bagi mereka yang ingin  mencoba untuk memperbaikinya ada baiknya untuk mengikuti ulasan b Memperbaiki AC-stabilizer
Sebuah AC stabilizer memang ada umurnya, ada waktunya ia akan rusak. Apakah benar ia sulit diperbaiki?
Sepertinya tidak juga.
Bagi mereka yang ingin mencoba untuk memperbaikinya ada baiknya untuk mengikuti ulasan berikut ini. Apa yang akan diulas di sini ialah khusus untuk AC-stabilizer sistem relay.

Tentang dan cara kerja AC-stabilizer.
AC-stabilizer ialah perangkat elektronik yang berfungsi untuk menyetabilkan tegangan AC listrik sumber tenaga.  AC-stabilizer dibutuhkan dikala tegangan listrik seringkali tidak stabil, kadang sedikit naik dan kadang sedikit turun.  Sebagian perangkat listrik/elektronik masih bisa berfungsi dengan normal meskipun tegangan AC listrik turun (misalnya) dari 220V sampai 180V.  Contoh yang paling umum perihal itu ialah pesawat televisi di mana rangkaian power supply-nya menerapkan sistem switching mode power supply (SMPS) otomatis yang bisa tetap bekerja optimal meskipun tegangan listrik turun sampai 170V.
Namun sebagian perangkat listrik yang lain akan sangat terpengaruh bila tegangan listrik turun sampai ke level itu.  Contoh yang paling terang ialah lampu neon sistem trafo ballast.
Lampu akan sulit untuk menyala bila tegangan listrik turun.
Semua peralatan elektronik yang melibatkan transformator daya juga akan terpengaruh dan bekerja secara tidak optimal lagi.  Di sinilah sebuah AC-stabilizer diperlukan.

Semua AC-stabiliser konvensional yang bekerja pribadi pada frekwensi listrik 50/60Hz (termasuk yang memakai sistem relay) pada prinsipnya ialah sebuah oto-transformator yang perpindahan koneksi pada tap-tap tegangannya dilakukan secara otomatis untuk tegangan output yang dibutuhkan mengikuti variasi level tegangan input.
Tentang oto-transformator telah diulas sekilas dalam : Mengenal transformator daya .
Pada AC-stabilizer sistem relay pemindahan koneksi pada tap-tap transformator dilakukan oleh relay-relay yang dikemudikan oleh rangkaian pendeteksi tegangan.
Jika tegangan input menaik rangkaian pendeteksi tegangan akan mengemudikan relay untuk menyambungkan output ke tap yang lebih rendah, dan bila tegangan input menurun maka rangkaian pendeteksi tegangan akan mengemudikan relay untuk menyambungkan output ke tap yang lebih tinggi.

 Bagi mereka yang ingin  mencoba untuk memperbaikinya ada baiknya untuk mengikuti ulasan b Memperbaiki AC-stabilizer

Ada banyak rancangan AC-stabilizer sistem relay, dari yang hanya memakai satu relay sampai yang memakai tiga atau empat relay. Semakin banyak relay yang dipakai akan semakin lebar jangkah variasi tegangan input yang bisa ditangani.
Berikut ini ialah referensi sketsa rangkaian AC-stabilizer sistem relay yang banyak beredar di pasaran :

 Bagi mereka yang ingin  mencoba untuk memperbaikinya ada baiknya untuk mengikuti ulasan b Memperbaiki AC-stabilizer

Pada gambar di atas diperlihatkan referensi sketsa rangkaian AC-stabilizer dengan dua relay. Rangkaian terdiri dari dua unit pendeteksi tegangan (unit A dan unit B) yang masing-masingnya mengemudikan sebuah relay. Di sini tidak disertakan nilai komponen dari rangkaian tersebut karena hanya sebagai referensi saja.
Satu unit rangkaian akan menangani level tegangan turun mulai dari taraf tertentu, yaitu dengan mengemudikan relay untuk menyambungkan ke tap yang lebih tinggi. Sedangkan satu unit rangkaian lainnya akan menangani level tegangan naik mulai dari taraf tertentu, yaitu dengan mengemudikan relay untuk menyambungkan ke tap yang lebih rendah.
Dengan cara menyerupai itu tegangan output berusaha dipertahankan supaya berada pada level yang relatif tetap.

Tegangan yang dideteksi sesungguhnya ialah tegangan hasil penyearahan di antara kedua jalur input AC.
Tegangan suplai untuk rangkaian pendeteksi diambil dari tap 1 dan tap 2, besar tegangan AC di antara kedua tap itu ialah sekitar 15 – 20V.
Tegangan ini disearahkan menjadi DC oleh D2 dan diratakan oleh C2. Pendeteksian level tegangan ditentukan oleh diode zener Za pada rangkaian pertama dan Zb pada rangkaian kedua bersama dengan pengaturan trimpot VR1a dan VR1b.
Ada hal penting yang perlu untuk dikemukakan bahwa setelan VR1a dan VR1b tidak perlu diubah-ubah. Jika diubah-ubah maka level pendeteksian tegangan naik atau tegangan turun akan melenceng dari yang telah ditetapkan oleh produsennya, untuk menyetelnya kembali cukup sulit supaya tepat.
D2a dan D2b menyearahkan tegangan dari salah satu jalur input yang lain sehingga terdapat satu level tegangan yang akan dideteksi oleh Za dan Zb dengan pengaturan Vr1 dan VR2.  Karena tegangan zener Za dan Zb berbeda, maka level tegangan yang akan dideteksi oleh kedua rangkaian pendeteksi itu masing-masingnya juga berbeda.
Pada tegangan normal (tidak naik dan tidak turun) salah satu relay akan aktif. Jika tegangan turun maka relay yang aktif ini akan menjadi tidak aktif sehingga kontaknya menyambungkan ke tap yang lebih tinggi.
Jika tegangan naik dari yang seharusnya, relay ini akan kembali aktif dan relay yang sebelumnya tidak aktif akan menjadi aktif kemudian kontaknya menyambungkan ke tap yang lebih rendah, dengan demikian tegangan output dikembalikan ke level yang seharusnya.

Kerusakan umum AC stabilizer.
Di antara kerusakan yang sering terjadi pada kebanyakan AC-stabilizer sistem relay ialah :
1.Ada masukan tegangan (indikator menyala) tetapi tegangan output tidak ada.
2.Ada masukan tegangan dan ada tegangan output, tetapi level tegangan output tidak normal (terlalu rendah atau terlalu tinggi).
3.Mati total.

Kerusakan pada poin pertama biasanya disebabkan oleh relay yang sudah rusak dan ini merupakan kerusakan yang paling sering terjadi. Relay yang rusak umumnya secara fisik sudah terlihat, yaitu rumah/casing plastiknya meleleh atau hangus di potongan tertentu. Relay yang sudah menyerupai ini perlu diganti tanpa harus melaksanakan pengetesan terlebih dahulu.
Ketika melaksanakan penggantian, sebaiknya pilih relay yang berkwalitas baik meskipun relay aslinya (mungkin) berkwalitas kurang bagus.

Kerusakan pada poin kedua sanggup disebabkan oleh dua hal, yaitu kontak relay yang sudah kurang baik atau ada komponen pada rangkaian pendeteksi tegangan yang rusak.
Untuk memastikan masih baik atau tidaknya kontak relay perlu dilakukan pengetesan pada setiap relay.
Caranya sudah diterangkan dalam : Pengetesan Relay .
Kemungkinan adanya komponen pada rangkaian pendeteksi tegangan yang rusak bisa diperiksa pribadi pada rangkaian. Yang paling sering rusak ialah resistor R5 dan transistor T2 (lihat gambar sketsa rangkaian di atas). Perlu dilakukan pengetesan untuk memastikan apakah komponen-komponen itu memang benar rusak ataukah tidak.  Jika telah dipastikan rusak maka diganti dengan yang baru.
Pada beberapa rancangan lainnya dioda D1 tidak disertakan sehingga terdapat kemungkinan coil relay putus jawaban tegangan balik transien yang muncul di sekitar coil tersebut, padahal D1 berfungsi untuk mengkompensasi hal itu.  Karena itu untuk rangkaian yang menyerupai ini relay juga perlu diperiksa karena ada kemungkinan ia tidak bekerja karena coil-nya sudah putus.

Kerusakan pada poin ketiga sanggup disebabkan oleh kabel AC (kabel main-power) yang sudah putus di dalam, kerusakan pada main-switch (saklar on-off untuk power), atau kerusakan pada transformator.
Namun mekanisme standar untuk menyelidiki kerusakan mati total ialah dengan menyelidiki fuse/sikring terlebih dahulu. Bisa jadi tidak ada kerusakan, hanya fuse putus karena terbebani lebih.
Fuse harus diganti dengan ukuran yang sama. Untuk daya 500W ukuran fuse ialah 2,5A dan untuk 1000W ukuran fuse biasanya 5A. Apabila fuse diganti dengan yang lebih besar maka dikala terjadi pembebanan lebih atau hubung-singkat di jalur output-nya transformator akan terancam ikut rusak...
Jika fuse ternyata tidak putus, maka dilanjutkan ke investigasi berikutnya.
Kabel AC perlu diperiksa dengan Ohm-meter apakah kabel-kabel di dalamnya masih tersambung atau sudah putus sebagian. Jika sudah ada yang putus maka diganti dengan yang baru, tetapi apabila ternyata kabel AC masih baik maka kerusakan kemungkinan ada pada main-switch.  Main-switch kemudian diperiksa untuk memastikan kerusakannya.
Adapun kerusakan transformator ciri khasnya ialah putusnya fuse dan panas yang tinggi pada transformator.  Setiap kali fuse diganti dengan ukuran yang sama akan kembali putus dan putus lagi meskipun stabilizer tidak dibebani dengan perangkat elektronik apapun.
Adakalanya fuse tidak putus, tapi transformator terasa begitu panas meskipun gres sebentar diberi tegangan input 220V dan stabilizer belum dibebani dengan perangkat elektronik apapun.   Ini juga tanda-tanda transformator rusak.
Mengatasi transformator rusak agak sulit karena transformator untuk keperluan ini tidak dijual di pasaran umum. Cara yang paling memungkinkan ialah dengan membawanya ke tukang gulung trafo bila tidak bisa menggulungnya sendiri, atau...
Ucapkan selamat tinggal pada AC-stabilizer...
Yah... namanya juga usaha!

Happy repairing!

Frekwensi

Istilah frekwensi hanya terdapat di dalam gelombang listrik yang berbentuk AC.
Lihat sebelumnya ulasan wacana AC dalam : Mengenal AC .
Frekwensi yakni banyaknya siklus atau periode gelombang (cycle) yang terjadi dalam waktu satu detik (second).  Satuan frekwensi yakni Hertz (Hz).
1THz (TetraHertz) = 1000GHz (GigaHertz)
1GHz = 1000MHz (MegaHertz)
1Mhz = 1000kHz (kiloHertz)
1kHz = 1000Hz.
Satu siklus atau satu periode gelombang yakni munculnya satu kali tegangan positif dan satu kali tegangan negatif.   Apabila berlangsungnya satu siklus atau satu periode ini memerlukan waktu satu detik, maka dikatakan frekwensi gelombang AC itu yakni 1Hz.  Apabila selama waktu satu detik terjadi sepuluh siklus maka dikatakan frekwensinya yakni 10Hz.  Apabila selama satu detik terjadi seratus siklus berarti 100Hz, dan seterusnya.

Gelombang listrik memiliki bentuk kurva tegangan yang bermacam-macam.  Yang paling umum dinyatakan satuan intensitas siklusnya dengan frekwensi yakni gelombang listrik yang berbentuk sinus (sinusoidal-wave).  Bentuk kurva tegangan gelombang listrik sinus digambarkan sebagai berikut :

 hanya terdapat di dalam gelombang listrik yang berbentuk AC Frekwensi

A yakni pecahan tegangan positif, yaitu bentuk kurva tegangan positif yang muncul dalam setengah siklus gelombang.  B yakni pecahan tegangan negatif, yaitu bentuk kurva tegangan negatif yang muncul dalam setengah siklus gelombang berikutnya.
Kemunculan pecahan tegangan positif dan pecahan tegangan negatif ini terjadi selama waktu t.
Banyak gelombang listrik AC yakni gelombang listrik yang berbentuk sinus, di antaranya yakni : Listrik AC di rumah (dengan frekwensi 50Hz dan tegangan 220V), sinyal audio alamiah (sinyal ac kompleks dari bunyi manusia, binatang, atau musik dalam range frekwensi yang terdengar oleh manusia), sinyal radio termodulasi AM atau FM yang dipancarkan melalui antena, dan lain-lain.

Frekwensi dan panjang gelombang.
Setiap frekwensi dengan satuan besarannya merambat dengan panjang gelombang tertentu. Panjang gelombang yakni panjangnya sebuah gelombang dalam satu siklus dikala merambat terkait dengan frekwensinya.
Panjang gelombang disimbolkan dengan λ (Lambda) dan didefinisikan dengan :

λ = 300.000.000 / f

λ yakni panjang gelombang dalam satuan meter
angka 300.000.000 yakni kecepatan gerak elektron dalam meter/second (m/s)
f yakni frekwensi dalam satuan Hz.

Satuan panjang gelombang menjadi penting dalam tekhnik transmisi radio untuk memperoleh hitungan yang sempurna konstruksi antena, baik antena pemancar maupun antena penerimanya.

Pengelompokan frekwensi.
Frekwensi dikelompokkan menurut sifat-sifatnya sebagai berikut :
  • Frekwensi di bawah 20Hz disebut frekwensi Sub-Sonic, yaitu frekwensi yang sangat rendah.  Frekwensi ini tidak sanggup didengar oleh manusia, hanya sanggup dirasakan sebagai sebuah getaran.
  • Frekwensi antara 20Hz hingga 20kHz disebut frekwensi Audio, yaitu frekwensi dalam batas indera pendengaran manusia.
  • Frekwensi antara 20kHz hingga mendekati 100kHz disebut frekwensi Ultrasonic. Frekwensi ini sudah tidak terdengar alasannya yakni di luar batas indera pendengaran manusia, tetapi masih didengar oleh hewan-hewan tertentu.
  • Frekwensi di atas 100kHz disebut dengan frekwensi radio, yaitu frekwensi yang sanggup merambat jauh di udara.
Frekwensi radio ini dibagi dalam beberapa kriteria atau pengelompokkan grup band menurut panjang gelombangnya, yaitu :
  • 100kHz hingga dengan 300kHz yakni frekwensi pada grup band LF (Low Frequency) disebut dengan gelombang kilometrik
  • 300kHz hingga dengan 3MHz yakni frekwensi pada grup band MF (Medium Frequency), disebut dengan gelombang hektometrik
  • 3Mhz hingga dengan 30Mhz yakni frekwensi pada grup band HF (High Frequency), disebut dengan gelombang dekametrik
  • 30Mhz hingga dengan 300Mhz yakni frekwensi pada grup band VHF (Very High Frequency), disebut dengan gelombang metrik
  • 300Mhz hingga dengan 3GHz yakni frekwensi pada grup band UHF (Ultra High Frequency), disebut dengan gelombang desimetrik
  • 3GHz hingga dengan 30GHz yakni frekwensi pada grup band SHF (Super High Frequency), disebut dengan gelombang centimetrik
  • 30GHz hingga dengan 300GHz yakni frekwensi pada grup band EHF (Extremely High Frequency), disebut dengan gelombang milimetrik
  • 300GHz hingga dengan 3THz yakni frekwensi pada grup band yang belum didefinisikan (mungkin alasannya yakni belum dimanfaatkan), disebut dengan gelombang desimilimetrik.


Happy learning!

Kopel Sinyal Ac Kecil Dengan Dioda

Dioda power rendah menyerupai 1N4148 atau yang semisal dengannya sanggup dimanfaatkan sebagai pengkopel sinyal ac kecil.  Bagaimanakah caranya?
Berikut sedikit ulasannya.

Telah dimaklumi bahwa fungsi dioda yaitu menyearahkan AC menjadi DC.  Bagi tegangan DC dioda hanya akan menghantar jikalau tegangan itu berpolaritas maju (diberi tegangan maju), yaitu anoda diberi tegangan positif atau katoda diberi tegangan negatif.  Apabila polaritas tegangan yang diberikan yaitu sebaliknya, maka dioda akan menghambat (tidak menghantar).
Namun ternyata terdapat fenomena lain dari sifat dioda dikala diberi tegangan maju, yaitu bagi sinyal ac kecil dia seolah sebuah “link” yang menyambungkan sinyal ac kecil itu dari anoda ke katodanya.

 atau yang semisal dengannya sanggup dimanfaatkan sebagai pengkopel sinyal ac kecil Kopel Sinyal ac Kecil Dengan Dioda

Pada gambar (A) diperlihatkan bahwa dikala dioda diberi tegangan maju dari sumber tegangan Vs melalui R1 dan kekerabatan ke ground oleh R2, akan muncul “tegangan jatuh maju” pada dioda yang disebut dengan VFD (Voltage Forward Drop).  Pada R1 dan R2 juga muncul tegangan sehingga secara keseluruhan tegangan dari Vs ke ground yaitu sama dengan tegangan R1 + VFD + tegangan R2, atau lebih ringkas ditulis : Vs = VR1 + VFD + VR2.
Dalam keadaan dioda sedang menghantar tegangan DC sedemikian rupa apabila pada anodanya dimasukkan sinyal ac kecil (misalnya sinyal audio dari sebuah pre-amplifier) maka sinyal itu akan muncul di katodanya tanpa cacat.  Ini terjadi hanya dikala dioda mendapat tegangan maju.  Apabila tegangan Vs diputus sinyal ac tidak akan dikopel lagi.
Dengan adanya R1 dan R2, bagi sinyal ac yang diluluskan oleh dioda kedua resistor itu menjadi kekerabatan ke ground dengan nilai resistansi campuran dari keduanya yaitu : (R1 x R2) / (R1 + R2).
Pada pola di atas konfigurasi rangkaian sinyal ac akan menjadi menyerupai yang diperlihatkan pada gambar (B).

Menggunakan dioda sebagai pengkopel sinyal ac kecil banyak diterapkan di perangkat audio kendaraan beroda empat (car-audio).  Keuntungannya yaitu menjadi lebih ekonomis dalam pemakaian kontak saklar.  Tidak diharapkan kontak saklar tersendiri untuk cuilan input/output audio, tetapi cukup kontak saklar untuk pinjaman tegangan suplai kepada modul rangkaian tuner radio atau kepada pre-amp head.  Pada cuilan output dari masing-masing modul terpasang dioda yang apabila modul tersebut mendapat tegangan suplai maka dioda pun akan mendapat tegangan maju dan kemudian mengkopel sinyal.

Berikut ini yaitu pola selektor input dengan memanfaatkan kopel sinyal oleh dioda

 atau yang semisal dengannya sanggup dimanfaatkan sebagai pengkopel sinyal ac kecil Kopel Sinyal ac Kecil Dengan Dioda

Sw1 yaitu saklar (switch) pemilih input. Apabila saklar diposisikan pada “a” maka D1 akan mendapat tegangan maju sehingga dia akan mengkopel sinyal dari input 1.  Saklar pada posisi “b” akan menunjukkan D2 tegangan maju sehingga dia akan mengkopel sinyal dari input 2.
Transistor T1 dipasang sebagai penguat-penyangga untuk memperbaiki penguatan.
Keuntungan dengan rangkaian menyerupai ini yaitu bahwa kontak saklar untuk input 1 dan input 2 tidak diperlukan.  Dengan demikian sambungan kabel antara saklar (bagian a dan b) dengan R3 dan R4 sanggup dibentuk panjang jikalau diharapkan tanpa mengakibatkan dengung (hum).
Pada gambar diperlihatkan hanya ada dua input, padahal rangkaian itu sanggup dikembangkan sampai 10 input atau lebih, tergantung keperluan.

Keep happy soldering!


Tulisan lain sehubungan dengan dioda : Mengenal dioda .

Mengenal Thyristor

Thyristor, asalnya ialah sebutan untuk SCR (Silicon Controlled Rectifier), sebuah komponen penyearah (pelewat arus DC) dengan perlengkapan “gate” (G) sebagai pintu kontrolnya, pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan General Electric pada tahun 1957.
Pada kelanjutannya, Triac (Triode for Alternating-Current) juga dimasukkan ke dalam keluarga thyristor.
Dengan majunya tekhnologi pembuatan parts elektronik, muncul banyak parts gres sebagai pengembangan atas SCR, Triac atau parts lain yang sudah ada sebelumnya dan dimasukkan pula ke dalam keluarga thyristor.
Kini, thyristor mencakup : SCR (thyristor), Triac, AGT, LASCR, Quadrac, MCT, GTO, GCT, ETO, dan beberapa lainnya.
Sebagian parts tanpa terminal “gate” dihubungkan pula ke dalam keluarga thyristor menyerupai Diac (Diode for Alternating Current), Sidac dan BOD (Breakover Diode).

 pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan General Electric pada tahun  Mengenal Thyristor
SCR (Silicon Controlled Rectifier).
SCR memiliki tiga elektroda, yaitu anoda (A), katoda (K), dan gate (G).
SCR ialah komponen yang bersifat unidirectional. Apabila pada anoda terdapat tegangan DC konkret dan pada gate diberi tegangan kecil (disebut tegangan trigger, VGT) atau dialiri sedikit arus (disebut arus trigger, IGT), maka SCR akan menghantar (disebut forward-condition atau On-condition).
Tegangan DC pada anoda akan dihantarkan ke katoda dan pada SCR mengalir arus DC.
Jika gate tidak dialiri arus, SCR akan menyumbat/tidak menghantar (disebut forward-blocking atau Off-condition).
Anoda-katoda SCR akan menjadi menghantar hanya kalau pada gate diberi tegangan yang lebih konkret terhadap katoda.
Ketika SCR telah berada pada on-condition dan arus yang mengalir antara anoda-katoda telah mencapai taraf “IL” (arus latching) maka SCR akan “menghantar-terkunci” (latching-on), yaitu keadaan di mana SCR menghantar terus meskipun pemikiran arus gate sudah tidak diberikan lagi.

Apabila pada anoda terdapat tegangan AC dan pada gate dialiri sedikit arus, maka SCR akan menghantarkan tegangan, namun hanya pada bab denyut-denyut positifnya saja. Atau dengan kata lain, SCR menyearahkan tegangan AC tersebut.

Triac (Triode for Alternating-Current).
Triac memiliki tiga elektroda, yaitu MT1 (Main-Terminal 1), MT2 (Main-Terminal 2), dan gate (G).
Tidak menyerupai SCR, Triac ialah komponen yang bersifat bi-directional.
Triac seolah dua SCR yang diparalel dalam susunan saling terbalik. Apabila pada MT1 terdapat tegangan AC dan pada gate diberi tegangan ac kecil, Triac akan menghantar. Setiap belahan tegangan ac pada gate (positif atau negatif) sanggup men-trigger Triac semoga menghantar.
Tegangan AC pada MT2 akan dihantarkan ke MT1, dan pada Triac pun mengalir arus AC.

AGT (Anode Gate Thyristor).
AGT menyerupai dengan SCR dan cara kerjanya pun demikian, namun pinjaman polaritas tegangan gate-nya terbalik alasannya ialah AGT diperuntukkan sebagai penghantar (atau penyearah) tegangan negatif.
Apabila pada katoda terdapat tegangan DC negatif dan pada gate diberi tegangan negatif kecil atau dialiri sedikit pemikiran arus negatif, maka AGT akan menghantar (On-condition).
AGT akan menghantar (on-condition) ialah apabila gate-nya diberi tegangan yang lebih negatif terhadap anoda. Tegangan negatif di katoda akan dihantarkan ke anoda dan pada AGT pun mengalir arus DC-.

LASCR (Light Activated SCR).
LASCR ialah SCR khusus yang memiliki pemanis elemen peka cahaya di badannya.
Cara kerja LASCR sama saja dengan SCR, namun dengan adanya pemanis elemen peka cahaya maka LASCR sanggup juga di-trigger semoga menghantar melalui intensitas cahaya yang menerpanya, selain dari tegangan/arus trigger yang diberikan kepada gate-nya.

Quadrac.
Quadrac ialah Triac yang sudah terangkai di dalamnya dioda Diac untuk pen-trigger-an (penyulutan) gate-nya.

 pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan General Electric pada tahun  Mengenal Thyristor
MCT (MOS Controlled Thyristor).
MCT ialah thyristor yang memiliki gate MOS (Metal-Oxyde Semiconductor), yaitu gate sebagaimana yang terdapat pada transistor MOSFET dan IGBT. Dengan perlengkapan gate MOS, MCT sanggup dioperasikan untuk on-condition dan off-condition (sebagai switch) dengan tegangan gate yang lebih fleksibel namun arus yang dibutuhkannya sangat kecil.
MCT ada dua jenis, yaitu tipe N dan tipe P.

GTO (Gate Turn-off Thyristor).
GTO ialah thyristor yang keadaan menghantarnya (on-condition) dipicu oleh impuls tegangan konkret pada gate-nya. Apabila telah menghantar, GTO sanggup dipadamkan (off-condition) dengan mengatakan tegangan negatif atau pemikiran arus negatif ke gate-nya.
Operasional GTO tampak lebih fleksibel dibanding SCR, namun kemampuan menangani dayanya bisa besar juga.
GTO dibentuk dalam beberapa varian, di antaranya : MA-GTO (Modified Anode GTO), DB-GTO (Distributed Buffer GTO).

GCT (Gate Commutated Thyristor).
GCT atau IGCT (Integrated Gate Commutated Thyristor) ialah pengembangan eksklusif dari GTO, yaitu thyristor yang cara kerjanya sama saja dengan GTO, namun memiliki “delay-time” untuk on-condition dan off-condition yang lebih lebar dikala gate-nya mendapat impuls konkret atau impuls negatif.
Dalam banyak penerapan, konon GCT lebih meminimalisir kerugian “switching”.
GCT pun tidak satu model, pembuatannya diadaptasi dengan keperluan dalam penerapannya. Telah ada tiga GCT yang dibentuk sesuai keperluan penggunaannya : Symmetrical GCT, Asymmetrical GCT, dan Reverse Conducting GCT.

ETO (Emitter Turn-off Thyristor).
ETO ialah hasil pengembangan dari GTO juga. ETO dibentuk sebagai GTO yang memiliki penambahan seri struktur MOSFET di dalamnya, sehingga sanggup lebih baik dalam penerapan tegangan tinggi dan pengemudian gate-nya lebih gampang (dengan gate MOS) alasannya ialah hanya membutuhkan arus yang kecil. Selain itu ETO juga sanggup menangani frekwensi switching yang lebih tinggi.
Pada kelanjutannya, ETO terus dikembangkan lagi sehingga ada ETO yang memiliki dua elektroda gate (di samping elektroda utama, yaitu anoda dan katoda) dan ada pula ETO yang memiliki sistem kontrol pada gate yang lebih rumit.

 pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan General Electric pada tahun  Mengenal Thyristor
Thyristor memang telah banyak ragamnya dan semakin hari semakin berkembang. Contoh Thyristor lainnya ialah : RCT (Reverse Conducting Thyristor), SUS (Silicon Unilateral Switch), SBS (Silicon Bilateral Switch), SCS (Silicon Controlled Switch), SITh (Static Induction Thyristor), dan lain-lain.

Sejak pertamakali dibuat, Thyristor telah menjadi komponen “Power Semiconductor Devices” penting dalam distribusi, konversi dan penyaluran daya besar. Kini, pengembangan Thyristor lebih banyak terkait dengan hal-hal tersebut.
Banyak perusahaan semikonduktor populer berusaha untuk menciptakan penemuan dan mengatakan produk dengan “brand-name” thyristor-nya nya masing-masing, sebagaimana dahulu perusahaan General Electric memulai mengatakan produk dengan brand-name : SCR.
Kadang, lain perusahaan lain pula brand-name yang diberikan meskipun barangnya sebetulnya itu-itu juga.
Dan terkadang, mencar ilmu elektro itu memang tak lepas dari banyak urusan eksistensi perusahaan semikonduktor.

Happy learning!

Tulisan terkait : Mengenal dioda penyearah .

Mengenal Thyristor

Thyristor, asalnya ialah sebutan untuk SCR (Silicon Controlled Rectifier), sebuah komponen penyearah (pelewat arus DC) dengan perlengkapan “gate” (G) sebagai pintu kontrolnya, pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan General Electric pada tahun 1957.
Pada kelanjutannya, Triac (Triode for Alternating-Current) juga dimasukkan ke dalam keluarga thyristor.
Dengan majunya tekhnologi pembuatan parts elektronik, muncul banyak parts gres sebagai pengembangan atas SCR, Triac atau parts lain yang sudah ada sebelumnya dan dimasukkan pula ke dalam keluarga thyristor.
Kini, thyristor mencakup : SCR (thyristor), Triac, AGT, LASCR, Quadrac, MCT, GTO, GCT, ETO, dan beberapa lainnya.
Sebagian parts tanpa terminal “gate” dihubungkan pula ke dalam keluarga thyristor menyerupai Diac (Diode for Alternating Current), Sidac dan BOD (Breakover Diode).

 pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan General Electric pada tahun  Mengenal Thyristor
SCR (Silicon Controlled Rectifier).
SCR memiliki tiga elektroda, yaitu anoda (A), katoda (K), dan gate (G).
SCR ialah komponen yang bersifat unidirectional. Apabila pada anoda terdapat tegangan DC konkret dan pada gate diberi tegangan kecil (disebut tegangan trigger, VGT) atau dialiri sedikit arus (disebut arus trigger, IGT), maka SCR akan menghantar (disebut forward-condition atau On-condition).
Tegangan DC pada anoda akan dihantarkan ke katoda dan pada SCR mengalir arus DC.
Jika gate tidak dialiri arus, SCR akan menyumbat/tidak menghantar (disebut forward-blocking atau Off-condition).
Anoda-katoda SCR akan menjadi menghantar hanya kalau pada gate diberi tegangan yang lebih konkret terhadap katoda.
Ketika SCR telah berada pada on-condition dan arus yang mengalir antara anoda-katoda telah mencapai taraf “IL” (arus latching) maka SCR akan “menghantar-terkunci” (latching-on), yaitu keadaan di mana SCR menghantar terus meskipun pemikiran arus gate sudah tidak diberikan lagi.

Apabila pada anoda terdapat tegangan AC dan pada gate dialiri sedikit arus, maka SCR akan menghantarkan tegangan, namun hanya pada bab denyut-denyut positifnya saja. Atau dengan kata lain, SCR menyearahkan tegangan AC tersebut.

Triac (Triode for Alternating-Current).
Triac memiliki tiga elektroda, yaitu MT1 (Main-Terminal 1), MT2 (Main-Terminal 2), dan gate (G).
Tidak menyerupai SCR, Triac ialah komponen yang bersifat bi-directional.
Triac seolah dua SCR yang diparalel dalam susunan saling terbalik. Apabila pada MT1 terdapat tegangan AC dan pada gate diberi tegangan ac kecil, Triac akan menghantar. Setiap belahan tegangan ac pada gate (positif atau negatif) sanggup men-trigger Triac semoga menghantar.
Tegangan AC pada MT2 akan dihantarkan ke MT1, dan pada Triac pun mengalir arus AC.

AGT (Anode Gate Thyristor).
AGT menyerupai dengan SCR dan cara kerjanya pun demikian, namun pinjaman polaritas tegangan gate-nya terbalik alasannya ialah AGT diperuntukkan sebagai penghantar (atau penyearah) tegangan negatif.
Apabila pada katoda terdapat tegangan DC negatif dan pada gate diberi tegangan negatif kecil atau dialiri sedikit pemikiran arus negatif, maka AGT akan menghantar (On-condition).
AGT akan menghantar (on-condition) ialah apabila gate-nya diberi tegangan yang lebih negatif terhadap anoda. Tegangan negatif di katoda akan dihantarkan ke anoda dan pada AGT pun mengalir arus DC-.

LASCR (Light Activated SCR).
LASCR ialah SCR khusus yang memiliki pemanis elemen peka cahaya di badannya.
Cara kerja LASCR sama saja dengan SCR, namun dengan adanya pemanis elemen peka cahaya maka LASCR sanggup juga di-trigger semoga menghantar melalui intensitas cahaya yang menerpanya, selain dari tegangan/arus trigger yang diberikan kepada gate-nya.

Quadrac.
Quadrac ialah Triac yang sudah terangkai di dalamnya dioda Diac untuk pen-trigger-an (penyulutan) gate-nya.

 pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan General Electric pada tahun  Mengenal Thyristor
MCT (MOS Controlled Thyristor).
MCT ialah thyristor yang memiliki gate MOS (Metal-Oxyde Semiconductor), yaitu gate sebagaimana yang terdapat pada transistor MOSFET dan IGBT. Dengan perlengkapan gate MOS, MCT sanggup dioperasikan untuk on-condition dan off-condition (sebagai switch) dengan tegangan gate yang lebih fleksibel namun arus yang dibutuhkannya sangat kecil.
MCT ada dua jenis, yaitu tipe N dan tipe P.

GTO (Gate Turn-off Thyristor).
GTO ialah thyristor yang keadaan menghantarnya (on-condition) dipicu oleh impuls tegangan konkret pada gate-nya. Apabila telah menghantar, GTO sanggup dipadamkan (off-condition) dengan mengatakan tegangan negatif atau pemikiran arus negatif ke gate-nya.
Operasional GTO tampak lebih fleksibel dibanding SCR, namun kemampuan menangani dayanya bisa besar juga.
GTO dibentuk dalam beberapa varian, di antaranya : MA-GTO (Modified Anode GTO), DB-GTO (Distributed Buffer GTO).

GCT (Gate Commutated Thyristor).
GCT atau IGCT (Integrated Gate Commutated Thyristor) ialah pengembangan eksklusif dari GTO, yaitu thyristor yang cara kerjanya sama saja dengan GTO, namun memiliki “delay-time” untuk on-condition dan off-condition yang lebih lebar dikala gate-nya mendapat impuls konkret atau impuls negatif.
Dalam banyak penerapan, konon GCT lebih meminimalisir kerugian “switching”.
GCT pun tidak satu model, pembuatannya diadaptasi dengan keperluan dalam penerapannya. Telah ada tiga GCT yang dibentuk sesuai keperluan penggunaannya : Symmetrical GCT, Asymmetrical GCT, dan Reverse Conducting GCT.

ETO (Emitter Turn-off Thyristor).
ETO ialah hasil pengembangan dari GTO juga. ETO dibentuk sebagai GTO yang memiliki penambahan seri struktur MOSFET di dalamnya, sehingga sanggup lebih baik dalam penerapan tegangan tinggi dan pengemudian gate-nya lebih gampang (dengan gate MOS) alasannya ialah hanya membutuhkan arus yang kecil. Selain itu ETO juga sanggup menangani frekwensi switching yang lebih tinggi.
Pada kelanjutannya, ETO terus dikembangkan lagi sehingga ada ETO yang memiliki dua elektroda gate (di samping elektroda utama, yaitu anoda dan katoda) dan ada pula ETO yang memiliki sistem kontrol pada gate yang lebih rumit.

 pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan General Electric pada tahun  Mengenal Thyristor
Thyristor memang telah banyak ragamnya dan semakin hari semakin berkembang. Contoh Thyristor lainnya ialah : RCT (Reverse Conducting Thyristor), SUS (Silicon Unilateral Switch), SBS (Silicon Bilateral Switch), SCS (Silicon Controlled Switch), SITh (Static Induction Thyristor), dan lain-lain.

Sejak pertamakali dibuat, Thyristor telah menjadi komponen “Power Semiconductor Devices” penting dalam distribusi, konversi dan penyaluran daya besar. Kini, pengembangan Thyristor lebih banyak terkait dengan hal-hal tersebut.
Banyak perusahaan semikonduktor populer berusaha untuk menciptakan penemuan dan mengatakan produk dengan “brand-name” thyristor-nya nya masing-masing, sebagaimana dahulu perusahaan General Electric memulai mengatakan produk dengan brand-name : SCR.
Kadang, lain perusahaan lain pula brand-name yang diberikan meskipun barangnya sebetulnya itu-itu juga.
Dan terkadang, mencar ilmu elektro itu memang tak lepas dari banyak urusan eksistensi perusahaan semikonduktor.

Happy learning!

Tulisan terkait : Mengenal dioda penyearah .

Soft Start

“Soft-start” ialah rangkaian elektronik peredam tarikan arus yang besar ketika sebuah peralatan elektronik pertama kali dihidupkan.
Peralatan elektronik yang memakai power-supply tipe 'switching-mode' menyerupai TV, monitor komputer dan lain-lain selalu menarik arus AC yang besar, yaitu sesaat ketika pertama kali dihidupkan atau disambungkan ke sumber listrik AC 220V.
Hal ini dikarenakan adanya kondensator perata (smoothing-condensator) pada bab rangkaian penyearah sedangkan rangkaian penyearah itu pribadi mengambil tegangan dari sumber AC 220V. Ketika kondensator perata itu mengisi muatannya sampai penuh, sumber AC 220V menjadi terbebani kuat, alasannya ialah pengisian kondensator menarik arus yang cukup besar meskipun berlangsung hanya sekejap. Akibatnya ialah MCB listrik di rumah mungkin akan memutus arus kalau arus itu telah di luar batas.

Cara yang paling gampang untuk mengatasi duduk masalah itu ialah dengan memasang sebuah resistor di salah satu sambungan ke sumber AC 220V. Cara itu memang sanggup saja membantu untuk kebanyakan TV atau monitor komputer sistem CRT. Namun tidak semuanya bisa.
Peralatan elektronik tertentu akan terganggu kinerja rangkaian power-supply-nya ketika diterapkan cara itu.
“Soft-start” mengatakan cara yang lebih baik.
Ia melaksanakan peredaman hanya sesaat, kemudian sambungan listrik AC dikembalikan normal.

 ialah rangkaian elektronik peredam tarikan arus yang besar ketika sebuah peralatan elekt Soft Start

AC in ialah sambungan ke sumber AC 220V, dan AC out ialah sambungan untuk peralatan elektronik yang hendak diredam tarikan arus awalnya. Ketika Sw1 diposisikan on, maka peralatan elektronik tertentu yang tersambung ke AC out mungkin akan menarik arus awal yang besar.
Tarikan arus awal yang besar itu akan teredam dengan adanya R2. Peredaman terjadi lantaran peralatan elektronik menjadi berderet (seri) dengan R2, sehingga tegangan AC in terbagi dua : sebagian tegangan berada pada peralatan elektronik dan sebagian lagi akan berada pada R2.
Akibatnya arus yang mengalir ke peralatan elektronik menjadi diperkecil lantaran tegangan AC untuknya juga diperkecil dengan adanya pembagian tegangan itu.
Sementara itu sesudah sesaat berlalu (hanya sekejap) T1 akan mulai aktif sesudah C1 terisi muatan di mana tegangan padanya telah mencapai level tegangan maju basis T1.
Aktifnya T1 akan menyebabkan relay terenergi dan menghubung singkat R2. Sampai di sini tugas R2 sebagai peredam tarikan arus awal disudahi. Peralatan elektronik kemudian disambungkan secara pribadi ke sumber AC 220V tanpa ada peredaman lagi oleh kontak relay.
Jadi, peredaman oleh R2 hanya terjadi sesaat saja dan tidak selamanya.

Dalam penggunaannya Sw1 pada rangkaian soft-start menggantikan saklar (switch) main-power dari peralatan elektronik, lantaran itu saklar main-power dari peralatan elektronik harus selalu dalam kondisi on. Rangkaian soft-start hanya akan berfungsi dengan cara menyerupai ini.
Apabila Sw1 di-onkan terlebih dahulu kemudian sesudah itu saklar main-power dari peralatan elektronik di-onkan, maka dengan cara menyerupai itu rangkaian soft-start tidak akan ada gunanya.

Rangkaian soft-start tidak mengambil daya yang besar lantaran arus yang dikonsumsinya hanya sekedar menciptakan relay tetap aktif (sekitar 100mA atau kurang) pada tegangan DC12V.
Jadi, tidak perlu khawatir terjadi pemborosan daya yang berlebih-lebihan.

Daftar komponen :
R1 = 2k2
R2 = 33Ω/25W
R3 = 22Ω
C1 = 220µF/10V
C2 = 1000µF/25V
D1 = 1N4148
D2... D5 = 1N4001
T1 = FCS9013
Trf1 = Trafo 300mA/12V
Ry1 = Relay 12V coil, 10A/250V
Sw1 = On-off switch.

Update :
Layout PCB beserta tata-letak komponennya sanggup diunduh di link ini : PCB Softstart .

Jika PCB sudah dibentuk dan semua komponen sudah terpasang pada tempatnya, sambungan perkabelannya kira-kira akan menyerupai ini :

 ialah rangkaian elektronik peredam tarikan arus yang besar ketika sebuah peralatan elekt Soft Start

Tentang komponen relay, hendaknya dipilih yang sesuai dengan keperluan.
Ada baiknya menyimak ulasan perihal relay : Mengenal relay .

Keep happy soldering!

Mengenal Speaker Dan Jenis-Jenisnya

Speaker (loudspeaker) yaitu piranti elektronik yang merubah getaran atau sinyal listrik menjadi suara. Suara yang dihasilkan speaker sesuai dengan bentuk dan level getaran/sinyal listrik yang diberikan kepadanya.

Speaker dinamik.
Speaker dinamik yaitu speaker yang paling banyak beredar. Speaker dinamik bekerja atas dasar pemanfaatan imbas gerak akhir adanya lingkupan medan magnetik pada kumparan (lilitan-lilitan kawat atau spoel) yang teraliri listrik.

 yaitu piranti elektronik yang merubah getaran atau sinyal listrik menjadi bunyi Mengenal Speaker Dan Jenis-jenisnya
Spoel speaker berada di dalam dampak lingkupan medan magnet yang berpengaruh (magnet speaker). Spoel juga tertaut-kokoh dengan diafram dan membran speaker.
Jika pada spoel diberi anutan listrik berupa sinyal ac audio maka pada spoel akan terbit kutub-kutub magnet yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan-perubahan polaritas tegangan ac yang terdapat pada sinyal audio tersebut.
Karena adanya lingkupan medan magnet di sekeliling spoel maka setiap kali pada spoel terbit kutub magnet yang sama dengan kutub magnet yang melingkupinya (magnet speaker) lantaran mendapatkan satu polaritas tegangan sinyal, ia akan bergerak terdorong ke luar dari senter posisinya. Kuatnya dorongan itu sebanding dengan level tegangan sinyal.
Apabila pada spoel terbit kutub magnet yang berbeda dengan kutub magnet speaker lantaran mendapatkan potongan polaritas lainnya dari sinyal ac, maka spoel akan bergerak tertarik ke arah dalam.
Pergerakan spoel itu terjadi sangat cepat sebagaimana frekwensi sinyal ac dan secara otomatis akan menciptakan membran speaker bergerak-gerak pula lantaran ia tertaut bersahabat dengan spoel. Pergerakan membran inilah yang menjadi bunyi yang terdengar dari speaker.

Impedansi speaker.
Speaker dinamik memiliki ukuran impedansi, yaitu nilai resistansi terhadap sinyal ac yang diberikan kepadanya. Impedansi speaker dinyatakan dalam Ohm.
Ukuran-ukuran impedansi speaker yang standar dan banyak beredar yaitu : 4Ω, 8Ω, dan 16Ω. Sebagian speaker dari merek tertentu ada yang berimpedansi 3Ω dan 6Ω.
Dengan ukuran impedansi ini speaker dipandang sebagai sebuah resistor yang disambungkan ke output audio-amplifier. Ketika dua buah speaker disambungkan secara seri ataupun paralel, nilai impedansi keseluruhannya akan berubah sebagaimana resistor juga.
Tentang ini telah dibahas sebelumnya, lihat dalam : Mengenal resistor .

Itulah sebabnya ukuran impedansi ini dihentikan diabaikan, ia yaitu spesifik bagi setiap output audio amplifier. Daya yang dikeluarkan oleh audio-amplifier dan kemampuan speaker dalam mendapatkan daya itu harus sesuai ketentuannya masing-masing dan itu didapatkan dengan penggunaan speaker yang berimpedansi tepat.

Diameter speaker.
Diameter speaker yaitu ukuran fisik membran speaker, lantaran biasanya membran speaker konvensional memang berbentuk bulat yang cekung ke dalam. Diameter speaker umumnya dinyatakan dalam inch.
Ada banyak ukuran diameter speaker, mulai dari 1,5 inch sampai puluhan inch.
Ukuran diameter speaker berbeda dengan ukuran impedansi speaker dan tidak ada hubungannya sama sekali. Speaker dengan diameter yang besar-besar dibentuk untuk menghasilkan getaran pada frekwensi rendah audio (bass) yang lebih baik dan daya yang lebih besar pula. Sedangkan speaker dengan diameter yang kecil-kecil biasanya dibentuk untuk memperdengarkan bunyi di mana tidak diharapkan penonjolan frekwensi rendah audio, dan juga untuk daya yang relatif kecil saja.

Rating daya maksimal speaker.
Setiap speaker memiliki rating daya maksimal yang bisa dibebankan kepadanya. Rating daya speaker dinyatakan dalam Watt, biasanya tertulis di potongan belakang magnetnya.
Rating daya maksimal ini dihentikan dilampaui lantaran sanggup merusak speaker. Sebagai rujukan speaker dengan daya maksimal 25W dihentikan disambungkan ke output audio-amplifier yang berkekuatan 100W. Amannya, speaker 25W disambungkan ke output audio-amplifier yang berkekuatan di bawah angka 25W itu.

Jenis-jenis speaker dinamik.

 yaitu piranti elektronik yang merubah getaran atau sinyal listrik menjadi bunyi Mengenal Speaker Dan Jenis-jenisnya
Speaker dinamik memiliki banyak jenis. Berdasarkan fungsinya terdapat beberapa jenis speaker yang tergolong dinamik, di antaranya :

Woofer.
Woofer yaitu speaker khusus untuk reproduksi bunyi pada range frekwensi rendah audio (bass). Woofer umumnya selalu memiliki bentuk fisik yang lebih besar dari speaker-speaker lainnya.
Woofer lazim dipakai pada sistem reproduksi bunyi “3-way” dan rancangannya yaitu khusus untuk menghasilkan getaran bunyi pada frekwensi di bawah 340Hz. Pada frekwensi di atas itu ia kurang responsif dan terkesan “tumpul”. Frekwensi-frekwensi bunyi di atas itu ditangani oleh speaker-speaker khusus yang lain.
Beberapa woofer ada yang dibentuk untuk menghasilkan getaran nada rendah dan nada tengah audio sehingga banyak dipakai dalam sistem reproduksi bunyi 2-way.

Midrange-speaker.
Sebagaimana woofer, midrange-speaker juga dipakai untuk reproduksi bunyi sistem 3-way. Midrange-speaker tidak akan dijumpai pada sistem 2-way apalagi sistem fullrange.
Midrange-speaker khusus dibentuk untuk menghasilkan getaran bunyi pada frekwensi-frekwensi tengah dalam spektrum audio, yaitu yang berada di atas 340Hz sampai sekitar 4,5kHz.

Tweeter.
Tweeter yaitu speaker khusus untuk menghasilkan getaran bunyi pada frekwensi-frekwensi tinggi dalam spektrum audio, yaitu antara 4,5kHz sampai 20kHz.
Tweeter dipakai pada sistem 3-way maupun 2-way dan merupakan potongan speaker yang bentuknya paling kecil di antara speaker-speaker lainnya.

Fullrange-speaker.
Speaker ini yaitu speaker yang paling banyak dipakai ketika ini. Fullrange-speaker disukai lantaran nyaris menghasilkan getaran bunyi yang utuh pada seluruh spektrum audio sehingga tidak diharapkan lagi tugas midrange-speaker ataupun tweeter.
Fullrange-speaker yang besar-besar sering juga difungsikan sebagai woofer untuk menghasilkan bunyi sampai ke nada-nada tengah audio, dan bersama dengan tweeter menghasilkan getaran bunyi pada seluruh spektrum audio dengan baik pada sistem 2-way.
Pada sistem 3-way ataupun pada sistem 2-way konvensional pemisahan range frekwensi untuk disalurkan kepada masing-masing speaker dilakukan oleh “cross-over” unit.

Reflex horn-speaker.
Speaker ini dipakai untuk keperluan khusus, yaitu public-address (PA). Yang diharapkan dalam public-address yaitu bunyi yang “berisik” yang bisa terdengar lebih jauh, bukan reproduksi frekwensi audio yang lengkap. Karena itu reflex horn-speaker hanya menghasilkan getaran nada-nada tengah dan sebagian nada-nada tinggi saja. Ia sangat jelek dalam menghasilkan nada-nada rendah (bass).
Speaker ini tidak memiliki membran, hanya diafram kaku yang tertaut bersahabat dengan spoel. Suara yang keras dan terarah lebih dihasilkan oleh reflex/pantulan bagian-bagian internal speaker.
Dalam penggunaannya speaker jenis ini memiliki amplifier khusus, yaitu amplifier untuk keperluan PA yang rancangannya lazim menerapkan output-transformator.

Speaker piezo-elektrik.
Speaker piezo-elektrik atau speaker kristal yaitu speaker jenis lain di samping speaker dinamik. Ia tidak memiliki spoel, besi magnet dan membran speaker sebagaimana yang terdapat pada speaker dinamik, hanya lempengan tipis yang melekat pada suatu media resonator.
Speaker piezo-elektrik bekerja dengan memanfaatkan adanya imbas piezo-elektrik pada kristal kwarsa (kwartz).
Selapisan kristal kwarsa pipih diapit oleh dua lempengan penghantar. Apabila pada kedua lempengan penghantar itu diberi tegangan listrik maka kristal mendapatkan tekanan secara elektris yang menimbulkan terjadi perubahan secara fisik-mekanik pada kristal. Apabila tegangan listrik itu berbentuk ac sinus kompleks ibarat sinyal ac audio maka perubahan-perubahan fisik-mekanik pada kristal akan mengikuti bentuk dari sinyal ac itu.
Perubahan-perubahan itu menjadikan getaran pada kristal sehingga media di mana kristal melekat pun ikut bergetar pula, maka jadilah bunyi.

Sayangnya, bunyi yang dihasilkan oleh speaker piezo-elektrik hanya terfokus kepada satu frekwensi saja, yaitu frekwensi resonansi kristal. Karena itu speaker ini bukanlah speaker dengan range frekwensi audio yang lebar, apalagi hi-fi. Speaker ini biasanya hanya dipakai sebagai bunyi indicator (buzzer), ibarat bunyi “beep” atau sekedar menghasilkan bunyi untuk dering telepon rumah.
Namun belakangan speaker piezo-elektrik dipakai juga sebagai “tweeter” untuk menghasilkan bunyi pada satu frekwensi tinggi audio. Dan terakhir jenis speaker ini berusaha dikembangkan lagi biar bisa menghasilkan bunyi pada range frekwensi audio yang lebih lebar.

Transducer.
Speaker khusus yang dibentuk untuk dipakai pada frekwensi ultrasonik yaitu transducer.
Frekwensi ultrasonik yaitu frekwensi di atas ambang telinga manusia, lantaran itu getaran bunyi yang dihasilkan oleh transducer tidak akan terdengar.
Speaker jenis ini biasanya dipakai untuk keperluan-keperluan tertentu ibarat pemancaran instruksi digital pada remote-control keluaran lama, pemancaran gelombang ultrasonik pada sistem alarm pengaman, atau pengusir binatang.

Happy learning!

Mengenal Dc

  Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap Mengenal DC
DC yaitu abreviasi dari Direct Current, artinya arus searah.   Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap, tidak terjadi perubahan-perubahan polaritas di sepanjang waktunya, alasannya yaitu itu pada DC tidak ada istilah frekwensi.
Tegangan DC yang tepat yaitu tegangan dengan kurva yang lurus.  Tegangan DC yang menyerupai ini terdapat secara alamiah pada segala bentuk baterai.
Polaritas atau potensial tegangan DC bisa berupa :
  • Tegangan + (positif) terhadap nol volt (0V)
  • Tegangan – (negatif) terhadap 0V
  • Tegangan positif dan tegangan negatif terhadap 0V
  • Tegangan positif terhadap negatif.
  Tegangan DC yaitu tegangan dengan polaritas yang tetap Mengenal DC
Nol Volt (0V) yaitu titik netral, biasanya difungsikan sebagai ground.
Gambar (1) menawarkan referensi tegangan + terhadap 0V. Antara (a) dan 0V terdapat tegangan sebesar +9V.
Gambar (2) menawarkan referensi tegangan – terhadap 0V. Antara (b) dan 0V terdapat tegangan sebesar -9V.
Gambar (3) menawarkan referensi tegangan + (positif) dan tegangan – (negatif) terhadap 0V.  Ada dua tegangan yang sama besar terhadap 0V, namun berlawanan polaritas, yaitu polaritas + dan -.
Dua tegangan DC dengan dua polaritas terhadap 0V yang menyerupai ini disebut tegangan terbelah (split-voltage).  Ketika dua tegangan itu memiliki angka yang sama maka disebut juga tegangan simetrik.
Gambar (3) juga menawarkan referensi tegangan + (positif) terhadap – (negatif) jikalau titik 0V diabaikan. Karena kedua tegangan itu masing-masing memiliki besaran angka 9V (terhadap 0V), maka antara (a) dan (b) terdapat tegangan setinggi 18V.

DC untuk tenaga (power).
Tegangan berbentuk DC lebih diharapkan untuk menyuplai perangkat-perangkat yang mengandung rangkaia-rangkaian elektronik di dalamnya.  Setiap rangkaian elektronik di mana di dalamnya terdapat komponen-komponen aktif menyerupai transistor, dioda dan IC selalu memerlukan suplai tegangan DC.  Apabila tegangan yang tersedia berbentuk AC (misalnya dari transformator) maka perlu dilakukan penyearahan terlebih dahulu semoga menjadi berbentuk DC.   Tentang ini telah dibahas di dalam ulasan sebelumnya :
Penyearahan gelombang penuh dengan kondensator perata .

Biasanya sumber tenaga listrik DC banyak mengandalkan dari baterai sedangkan baterai hanya memiliki tegangan yang rendah.  Daya yang bisa dihasilkan juga hanyalah daya dalam level yang tidak besar. Karena itu sistem tenaga listrik DC lebih dikenal sebagai sistem daya terbatas bertegangan rendah.
Sebagai contoh, daya pada sistem AC 220V sebesar 1300W yaitu daya untuk keperluan rumah yang dikala ini sudah lumrah.  Daya sebesar itu gampang dihasilkan oleh generator dan relatif gampang didapatkan oleh setiap rumah pada sistem AC tegangan tinggi.  Dan daya sebesar itu memang diharapkan alasannya yaitu rata-rata di setiap rumah pada dikala ini terdapat banyak sekali peralatan elektronik menyerupai lemari es, TV, rice-cooker, setrika listrik, water-dispenser, mesin cuci, komputer (PC), lampu penerangan yang banyak dan lain-lain.
Akan tetapi daya sebesar 1300W itu bukanlah hal yang gampang bagi sistem DC tegangan rendah.
Untuk menghasilkan daya sebesar itu dari sumber tegangan 12V atau 24V (tegangan aki/baterai) harus berapa Ampere arus yang bisa dihasilkan oleh baterai?
Daya 1300W dari tegangan 12V memiliki besar arus 108 Ampere, sedangkan dari tegangan 24V arusnya yaitu 54 Ampere.  Bisa dibayangkan betapa tebal kabel-kabel instalasinya.  Selain itu baterai tampungan yang diharapkan (apabila memakai baterai konvensional yang ada) yaitu baterai yang sebesar lemari pakaian anak-anak!
Ya... niscaya sangat mahal harganya.
Belum lagi dilema pengisian ulang baterai, apakah penghasil listrik rumahan yang ada memang bisa mengisi ulang baterai sebesar itu hanya dalam waktu beberapa jam?
Inilah yang dimaksud dengan “daya terbatas”.
Namun biar bagaimanapun kelebihan dari sistem DC tegangan rendah tetap ada. Listrik DC yaitu listrik yang bisa disimpan.  Penyimpanan dilakukan di dalam “bank” power, yaitu baterai-baterai yang tersedia. Semua perangkat elektronik portabel (tentengan) dan yang bersifat “mobile” disuplai dari sumber DC, yaitu baterai.
Kelebihan lainnya yaitu bahwa di dalam sistem kelistrikan DC murni yang tidak melibatkan inverter (perubah DC ke AC tegangan tinggi) tidak ada resiko terkena sengatan listrik.

Penggunaan DC untuk keperluan tenaga listrik umum bukan tidak pernah dikemukakan orang untuk digunakan.
Pada tahun 1880 seorang insinyur tenaga kelistrikan dari Swiss Rene Thury telah mendemonstrasikan penggunaan motor-seri sebagai generator untuk menghasilkan DC tegangan tinggi (High-Voltage DC). Tegangan tinggi memang menjadi solusi dilema transfer daya bekaitan efisiensi di dalam biaya instalasi.
Kemudian pada tahun 1887 Thomas Edison pernah menciptakan rancangan stasiun pendistribusian tenaga listrik DC di Amerika Serikat.  Edison mengemukakan sistem distribusi tenaga listrik DC pada tegangan simetrik +110V, 0V dan -110V.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, sistem AC dengan perangkat pendukungnya yaitu transformator ternyata terbukti lebih efisien dalam hal transfer daya listrik yang besar ke tempat-tempat yang lebih jauh.

Tentang tegangan, daya dan arus dalam DC.
Pada DC yang agak rumit dengan tegangan yang berbentuk denyut-denyut (misalnya tegangan dari hasil penyearahan AC ke DC oleh dioda-dioda penyearah) terdapat pembahasan perihal tegangan maksimal (Vmax), tegangan rata-rata (V-average), arus rata-rata (I-average), dan faktor ripple.   Itu semua telah dibahas dalam :
Penyearahan setengah gelombang
atau
Penyearahan gelombang penuh .
Namun DC murni dengan kurva tegangan yang berbentuk garis lurus bukanlah tegangan yang rumit.  Karena itu jikalau di dalam AC ada pembahasan perihal tegangan RMS (Root Mean Square), arus RMS, daya rata-rata (average-power), satuan tenaga VA (Volt-Ampere), satuan frekwensi dan lain-lain maka di dalam DC pembahasan perihal itu semua tidak ada.
Yang ada hanyalah sebagaimana pada hukum-hukum dasar kelistrikan :

V = I x R dan W = V x I.

Happy learning!

Mengenal Relay

Relay intinya ialah sebuah saklar  Mengenal Relay
Relay intinya ialah sebuah saklar (switch) yang menyambungkan atau memutuskan kontak sambungan secara mekanik kalau diberi tegangan listrik.
Relay terdiri dari tiga bagian, yaitu pecahan kontak, pecahan lilitan (coil) dan casing (rumah/penutup).

Bagian kontak relay
Adalah pecahan yang berfungsi sebagai switch, bisa terdiri dari satu unit atau lebih.  Relay yang sederhana hanya memiliki satu kontak yang menyambungkan atau memutuskan saja, sedangkan relay yang lebih kompleks memiliki banyak kontak (dua sampai empat atau bahkan lebih) yang menyambungkan atau memutuskan secara serempak pada waktu yang bersamaan.
Pada setiap satu pecahan kontak terdapat dua atau tiga elemen kontak yang merupakan hubungan-hubungan pin (kaki-kaki sambungan relay).
Satu elemen yang menjadi sentra kontak terhubung dengan sebuah lempengan besi tipis yang gampang dipengaruhi oleh medan magnet.  Apabila lempengan besi tipis itu terkena medan magnet maka ia akan tergerak ke satu arah yang menimbulkan kontak menjadi terhubung (atau terputus).
Dalam pembuatannya, pecahan kontak relay selalu diperhitungkan untuk seberapa besar arus yang disambungkannya.  Karena itu selain tegangan untuk coil, kemampuan arus kontak relay juga dituliskan di tubuh relay sebagai data spesifikasi.
Contoh : Sebuah relay bertuliskan 12VDC/5A, ini berarti tegangan yang diharapkan oleh coil relay ialah 12V dan kemampuan arus kontaknya (maksimum) 5A.

Bagian lilitan (coil) relay
Adalah pecahan yang mengandung lilitan kawat tembaga yang dililitkan pada satu gelondong besi kecil. Apabila pada lilitan diberi anutan listrik DC maka gelondong besi akan menjadi bersifat magnet.  Di akrab gelondong besi ini terdapat lempengan besi tipis yang terhubung dengan pecahan kontak, maka lempengan besi tipis itu akan tergerak ke arah gelondong sebab dampak medan magnet dari gelondong dan menciptakan kontak berubah posisi menjadi terhubung (atau terputus).
Coil relay memerlukan tegangan DC yang bervariasi, tergantung ketentuan yang telah dibentuk oleh produsen relay yang bersangkutan. Semakin banyak jumlah lilitan yang membentuk coil relay akan semakin tinggi tegangan DC yang diharapkan untuk mengaktifkannya.
Seringkali, untuk relay-relay yang umum orang hanya menyebutkan relay dengan besar tegangan yang diharapkan oleh coil-nya saja. Contoh : Relay 12V, relay 24V dan sebagainya...

Casing relay
Adalah rumah pembungkus relay, pecahan di mana kontak dan coil ditempatkan dengan rapi. Bentuk dan ukurannya bisa bermacam-macam.
Relay-relay berkwalitas tinggi memiliki casing yang terbuat dari materi khusus, yaitu materi yang tidak akan terbakar menjadi nyala api saat pada kontak-kontak relay terjadi percikan-percikan bunga api sebab aktifitas menyambung dan memutus anutan listrik dalam level yang kuat. Casing hanya akan hangus menghitam atau berubah bentuk tanpa menjadikan nyala api.
Relay-relay dengan casing yang menyerupai ini dipersyaratkan (misalnya) untuk penggunaan pada semua kendaraan bermotor berbahan-bakar bensin atau solar yang gampang terbakar.

Macam-macam pola sambungan pada pin relay
Diperlihatkan pada gambar beberapa teladan pola sambungan pin relay.
“a” ialah pin relay yang akan terhubung dengan pin “b” kalau coil relay tidak diberi tegangan (relay dalam keadaan tidak aktif).
“b” ialah pin poros/pusat sambungan.
“c” ialah pin relay yang akan terhubung dengan pin “b” kalau coil relay diberi tegangan (relay dalam keadaan aktif).

Relay intinya ialah sebuah saklar  Mengenal Relay

Relay khusus
Adalah relay yang berbeda dengan relay-relay yang dibicarakan sebelumnya, termasuk di antaranya : Relay lidi (reed relay) dan relay AC.
Relay lidi ialah relay dengan tabung beling kecil memanjang yang pada kedua ujungnya terdapat kawat sambungan yang merupakan pin dari relay. Relay ini tidak memiliki coil. Ia diaktifkan dengan diberi medan magnet disekelilingnya. Apabila relay terkena medan magnet maka kontaknya akan menyambungkan kedua pin.
Relay lidi dipakai pada rangkaian-rangkaian detektor magnet dan terdapat juga di dalam perangkat magic-jar.

Relay AC ialah relay untuk listrik AC tegangan tinggi yang dipakai pada rangkaian-rangkaian panel listrik daya besar. Relay ini sering dipakai untuk memindah sambungan dari jalur listrik AC PLN ke generator secara otomatis saat terjadi mati listrik.

Happy learning!


Tulisan lain perihal relay : Pengetesan relay .

Pengetesan Relay

Masih baik atau tidaknya sebuah relay sanggup ditest dengan AVO Pengetesan Relay
Masih baik atau tidaknya sebuah relay sanggup ditest dengan AVO-meter. Berikut ini ialah ulasan singkatnya.

Relay memang adakalanya rusak. Kerusakannya bisa terjadi pada coil (kumparan penjangkit medan magnet) atau pada kontak relay.
Fungsi coil, kontak serta konfigurasi sambungan pada relay tidak akan dibahas lagi di sini sebab sudah dipaparkan secara terang dalam : Mengenal Relay .
Tulisan ini hanyalah bentuk lanjutan dan akan lebih fokus kepada hal-hal yang menyangkut kerusakan pada relay serta cara pengetesannya.

Rusaknya coil relay biasanya terjadi jawaban adanya tegangan balik transien yang timbul di sekitar coil saat terjadi pergantian posisi secara berulang-ulang pada relay. Jika tegangan itu terlalu besar maka akan sanggup memutuskan kawat halus yang membentuk gulungan coil.
Sedangkan rusaknya kontak relay biasanya diakibatkan oleh tegangan atau arus yang terlalu besar di luar kemampuan kontak relay tersebut atau bisa juga sebab faktor korosi dan penumpukan karbon atau kotoran lain di antara permukaan kontak relay.
Relay yang masih baik ialah relay yang coil dan kontaknya masih dalam keadaan prima. Jika salah satu dari keduanya ada yang sudah bermasalah maka relay tersebut akan dinyatakan rusak, tidak bisa dipergunakan lagi.
Untuk memastikan bahwa sebuah relay itu masih baik coil dan kontaknya maka perlu dilakukan pengetesan terhadap keduanya. Caranya ialah sebagai berikut :

Masih baik atau tidaknya sebuah relay sanggup ditest dengan AVO Pengetesan Relay

Pengetesan coil relay.
AVO-meter diposisikan pada Ohm X10, kemudian kedua tuas tester diletakkan pada dua kaki elektroda coil (boleh diletakkan terbalik-balik). Apabila jarum tester bergerak berarti coil relay masih dalam keadaan baik. Biasanya angka penunjukkan jarum tester ialah sekitar 400Ω pada relay 12V standar, atau 180Ω pada relay-relay 12V yang memiliki kemampuan kontak lebih besar.
Apabila saat dilakukan pengetesan jarum tester tidak bergerak, berarti coil relay sudah putus.
Relay itu sudah rusak.

Pengetesan kontak relay.
Untuk melaksanakan pengetesan terhadap kontak relay dibutuhkan peralatan tambahan, yaitu sebuah AC-adaptor atau sebuah DC-regulator yang disetel pada tegangan yang sesuai dengan tegangan untuk coil relay. Tegangan yang diberikan kepada coil relay dihentikan melampaui ketentuannya sebab akan sanggup merusakkan coil.
Bagi yang belum memiliki peralatan embel-embel tersebut sanggup membelinya di toko-toko elektronik atau jikalau ingin membuatnya sendiri silahkan lihat goresan pena wacana AC-adaptor sederhana yang gampang dibentuk dan telah dimuat di blog yang lain : Adaptor sederhana untuk keperluan praktek .

Atau jikalau ingin menciptakan yang lebih baik dari itu silahkan lihat : DC-Regulator Sederhana Dengan Tegangan Variabel 3V-12V, Arus 5A-10A .

Pertama, gunakan AVO-meter pada posisi Ohm X1, kemudian kedua tuas tester ditaruh pada kaki elektroda a dan b (boleh terbalik-balik). Apabila kontak masih baik jarum tester akan bergerak mengatakan angka nol Ohm atau mungkin kurang sedikit dari itu. Apabila jarum tester mengatakan gerakan yang sangat sedikit atau bahkan tidak bergerak sama sekali maka itu berarti kepingan kontak a-b sudah bermasalah.
Kedua, berikan tegangan positif dan negatif dari AC-adaptor atau DC-regulator kepada dua kaki elektroda coil pada relay (boleh terbalik-balik). Setelah itu taruh kedua tuas tester pada kaki elektroda b dan c (boleh terbalik-balik).
Apabila kontak masih baik maka jarum tester akan bergerak mengatakan angka nol Ohm atau kurang sedikit dari itu. Namun apabila jarum tester bergerak hanya sedikit (menunjukkan Ohm yang cukup besar) atau bahkan tidak bergerak sama-sekali maka itu berarti kepingan kontak b-c sudah bermasalah. Relay itu sudah tidak sanggup dipergunakan lagi.

Demikianlah cara pengetesan relay, memang tidak rumit.
Pada gambar yang diberikan di atas hanya digambarkan relay dengan simbolnya saja, yaitu simbol untuk satu kontak. Ini dimaksudkan semoga pengetesan relay bisa difahami untuk dilakukan terhadap segala macam relay ber-coil (dengan satu kontak atau lebih) meskipun bentuk fisiknya dan contoh susunan kaki elektrodanya berbeda-beda. Karena itu jikalau belum terang wacana hal ini bisa melihat kembali kepada goresan pena sebelumnya : Mengenal Relay.

Happy learning!