Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri memperbaiki-amplifier-otl. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri memperbaiki-amplifier-otl. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Memperbaiki Amplifier Otl

Memperbaiki audio-amplifier OTL tidaklah terlalu sulit, baik yang berbentuk IC ataupun yang berbentuk rangkaian dengan komponen-komponen terpisah.  Berikut ini ulasannya.
Namun sebelumnya perlu difahami terlebih dahulu wacana apa itu amplifier OTL, lantaran memperbaiki sesuatu yang sudah dimengerti tentu akan lebih baik dan lebih sanggup menghasilkan kerja yang efisien.

Sekilas wacana OTL.
OTL ialah kependekan dari Output Transformer Less, sebuah sistem audio amplifier yang meniadakan penggunaan transformator audio untuk menyesuaikan impedansi di jalur output-nya.
Di masa-masa yang kemudian sisterm amplifier ini sempat menjadi favorit lantaran bisa menghasilkan penguatan sinyal audio dalam spektrum hi-fi yang lebih baik dibandingkan dengan sistem pendahulunya, yaitu sistem OT (Output Transformer) yang memakai transformator audio di pecahan output-nya untuk menyesuaikan impedansi keluaran/output amplifier dengan impedansi speaker.
Amplifier OTL memerlukan power-supply tegangan tunggal, Contohnya ibarat pada gambar berikut :

 baik yang berbentuk IC ataupun yang berbentuk rangkaian dengan komponen Memperbaiki Amplifier OTL

Ciri dari amplifier OTL ialah :
  • Menggunakan power-supply tegangan tunggal, yaitu positif saja (terhadap 0Volt/ground) atau negatif saja (terhadap 0V atau ground)
  • Terdapat kondensator (elco) berkapasitas besar di jalur output untuk kopel sinyal ke speaker
  • Terdapat titik tengah ½ Vcc di mana terdapat tegangan DC sebesar (kira-kira) ½ dari tegangan suplai (Vcc).
Pada gambar yang pertama di atas diperlihatkan denah rangkaian amplifier OTL kecil dari sebuah radio Philips keluaran lama.  Suplai memakai tegangan tunggal minus (negatif).
Rangkaian dengan suplai tegangan negatif sering disebut dengan rangkaian “grounding positif”, meskipun yang menjadi ground ialah jalur netral (0V).  Di masa kini rangkaian dengan ground positif sudah hampir tidak ada, rata-rata memakai ground negatif.
Pada rangkaian ini tegangan ½ Vcc ditentukan oleh nilai resistor-resistor pada basis transistor depan AC179 yaitu 150Ω, 15k dan 15k.  Kondensator kopel ke speaker ialah yang berkapasitas 320µF.
Transistor depan menguatkan sinyal input ke taraf yang lebih besar kemudian risikonya diberikan kepada dua transistor final (transistor daya),yaitu pasangan komplementer AC127 dan AC128.  Kedua transistor ini bekerja menguatkan sinyal ac audio secara bergantian pada setengah putaran lebih dari periode sinyal dan risikonya ialah sinyal audio yang utuh yang telah memenuhi taraf untuk bisa membunyikan speaker.  Sinyal audio ini kemudian dilimpahkan ke speaker melalui kondensator 320µF.

Pada gambar kedua diperlihatkan denah rangkaian OTL yang lebih besar (di atas 20W) dari audio-amplifier Sansui.  Suplai memakai tegangan positif 52V, nilai yang tertera ini merupakan harga maksimal atau diistilahkan dengan Vmax.
Tentang Vmax tidak dibahas di sini, tetapi bisa diikuti lebih terperinci dalam : Penyearahan gelombang penuh .

Pola rangkaian yang kedua ini agak berbeda dengan yang pertama dan tegangan ½ Vcc ditentukan oleh susunan seri R801 dan R819.  R801 dibentuk variabel semoga bisa dilakukan penyetelan terhadap tegangan ½ Vcc dengan tepat.  Jika tinggi tegangan untuk rangkaian ini ialah 52V maka pada titik ½ Vcc akan terukur tegangan sekitar 25V atau lebih sedikit.
TR805 dan TR807 ialah dua transistor driver sedangkan TR809 dan TR811 ialah dua transistor akhir/transistor daya.  Kedua transistor driver dalam amplifier OTL dan OCL selalu merupakan pasangan komplementer walaupun transistor final ada kalanya bukan pasangan komplementer sebagaimana pada rangkaian ini, yaitu hanya dua transistor daya NPN yang bertipe sama.
D801 berperan sebagai sensor panas, lantaran sifat dioda yang menurun tegangan majunya (VFD) apabila terkena panas pada batas suhu tertentu.
Dioda ini berada erat dengan pecahan pendingin transistor akhir.  Apabila transistor final menjadi terlalu panas saat bekerja (menarik arus yang besar) maka dioda akan ikut terpanasi dan menjadi turun tegangan majunya.  Karena dioda dipasang di sirkit basis transistor driver maka efeknya ialah arus stasioner (arus kecil yang mengalir saat tanpa sinyal input) bagi transistor driver dan transistor final menjadi dikurangi, sehingga arus yang mengalir pada transistor-transistor final juga menjadi turun dan dengan demikian panas pun bisa berkurang.
VR803 menyetel besar arus stasioner bagi transistor final sekitar 20... 35mA.

Hasil penguatan sinyal oleh amplifier secara keseluruhan dilimpahkan/dikopel kepada speaker melalui kondensator C817.  Dengan adanya kondensator ini tegangan DC yang ada pada titik ½ Vcc tidak terhubung singkat ke ground oleh speaker.

Kerusakan umum pada amplifier OTL.
Di antara kerusakan yang paling sering terjadi ialah :
1.Tidak ada bunyi sinyal, kecuali hanya dengung (suara getaran listrik)
2.Suara ada tetapi kecil dengan disertai dengung
3.Suara ada tetapi terdengar cacat
4.Tidak ada bunyi dan tidak ada dengung

Kerusakan pertama biasanya disebabkan oleh rusaknya transistor-transistor driver dan transistor akhir.  Jika mereka rusak kemungkinan ikut rusak juga resistor-resistor di emitornya, dalam referensi rangkaian Sansui di atas ialah R835 dan R837.
Dengan demikian semua transistor driver dan transistor final perlu diperiksa untuk dipastikan kerusakannya kemudian diganti dengan yang baru.
Untuk transistor NPN lihat cara pemeriksaannya dalam : Pengetesan transistor NPN .
Sedangkan untuk transistor PNP lihat dalam : Pengetesan transistor PNP .

Resistor R825, R827, R829, R835 dan R837 perlu diperiksa juga, begitupun dioda D801.
Jika rusak diganti dengan yang baru.

Kerusakan kedua biasanya disebabkan oleh transistor-transistor final yang rusak.  Menyertai kerusakannya biasanya rusak pula R835 dan R837.

Kerusakan ketiga sering disebabkan oleh salah satu driver atau salah satu dari transistor final yang rusak, yaitu putus basis-emitornya.  Perlu dicari transistor manakah yang rusak dengan memeriksanya satu-persatu.
Kerusakan seperi ini juga bisa disebabkan oleh kondensator kopel ke speaker yang rusak.  Jika kondensator telah rusak maka cacat disertai juga dengan bunyi yang agak mengecil.

Kerusakan keempat bisa disebabkan oleh kerusakan sebagaimana poin yang pertama atau yang kedua ditambah dengan putusnya sikring (fuse) pada pecahan power-supply.
Apabila komponen-komponen yang rusak telah diganti, perlu diperiksa juga pecahan power-supply dari mulai trafo sampai dioda-dioda penyearah, lantaran tidak tertutup kemungkinan mereka ikut rusak.
Dan investigasi yang juga cukup penting ialah memastikan bahwa tegangan ½ Vcc memang benar, meskipun tidak harus sempurna ½ dari tegangan suplai (mungkin lebih sedikit atau kurang sedikit).  Gunakan AVO-meter pada posisi pengukuran tegangan DC (DCV) sesuai tinggi tegangannya untuk mengukur Vcc dan ½ Vcc-nya.
Pada amplifier yang memakai IC OTL investigasi terhadap tegangan ½ Vcc malah menjadi investigasi awal.  Apabila sebuah IC OTL amplifier saat diperiksa tegangan ½ Vcc-nya ternyata jauh melenceng dari yang seharusnya, maka sudah niscaya IC amplifier tersebut memang sudah rusak, perlu diganti dengan yang baru.  Tetapi apabila tegangan ½ Vcc ternyata benar namun amplifier tidak mengeluarkan suara, maka permasalahannya mungkin hanya pada sambungan perkabelan, saklar/switch atau socket speaker yang tidak benar.

 baik yang berbentuk IC ataupun yang berbentuk rangkaian dengan komponen Memperbaiki Amplifier OTL

Pada gambar di atas diperlihatkan referensi denah rangkaian IC OTL stereo seri STK43xx dan STK44xx yang disalin dari sumber datasheet-nya. Perhatikanlah bahwa titik tegangan ½ Vcc untuk jalan masuk L (Left, kiri) berada pada pin 5 dengan kondensator kopel ke speaker ialah Cx1 (1000µF).  Untuk jalan masuk R (Right, kanan) titik tegangan ½ Vcc berada pada pin 11 dengan kondensator kopel Cx2.  Tegangan suplai (Vcc) tersambung ke pin 7.
Khusus untuk rangkaian IC OTL ini, resistor 100Ω yang terhubung antara pin 7 dan pin 9 biasanya ialah resistor yang gampang rusak.  Ketika resistor ini putus amplifier tidak akan mengeluarkan bunyi meskipun bergotong-royong IC tidak rusak.

Demikianlah sedikit wacana Memperbaiki Amplifier OTL .
Selain dari apa-apa yang telah dicontohkan itu, hendaknya sanggup dikenali manakah jalur Vcc dan manakah jalur ½ Vcc-nya pada setiap IC OTL yang manapun semoga sanggup dilakukan pengukuran tegangan terhadapnya.

Sebagai pecahan akhir, perlu untuk dikemukakan bahwa ketelitian merupakan modal yang sangat penting. Dan orang yang teliti itu bukanlah orang yang malas untuk berfikir dan melaksanakan pemeriksaan-pemeriksaan, lantaran orang yang teliti itu ialah orang yang rajin untuk memastikan bahwa langkahnya memang sudah benar...

Happy repairing!

Memperbaiki Amplifier Ocl

Untuk bisa memperbaiki amplifier OCL menjadi cukup penting lantaran sistem ini mendominasi amplifier-amplifier berdaya besar pada dikala ini.
Berikut ini ialah ulasan mengenai perbaikan amplifier OCL namun sebelumnya didahului dengan sedikit uraian wacana apa itu amplifier OCL.

Sekilas wacana OCL.
OCL ialah akronim dari Ouput Capacitor Less, sebuah sistem audio amplifier yang meniadakan penggunaan kondensator (capacitor) kopel untuk melimpahkan daya kepada beban speaker.
Sistem ini menjadi terkenal menindak lanjuti pendahulunya, yaitu sistem OTL sebagai amplifier yang memiliki kemampuan menghasilkan audio hi-fi dengan baik namun tanpa melibatkan kondensator-kondensator berkapasitas besar.
Amplifier OCL memerlukan power-supply tegangan terbelah, berikut ialah pola denah rangkaiannya :

Untuk bisa memperbaiki amplifier OCL menjadi cukup penting lantaran sistem ini mendominasi a Memperbaiki Amplifier OCL

Ciri dari amplifier OCL ialah :
  • Menggunakan power-supply tegangan terbelah atau power-supply tegangan simetrik, yaitu power supply yang memiliki tegangan positif, tegangan negatif dan 0 Volt (ground).
  • Tidak ada kondensator kopel kepada speaker dari titik tengahnya (titik X)
  • Pada tahap depan biasanya diterapkan “differential-amplifier”.
Gambar pertama mengatakan pola power-amplifier OCL yang diadopsi dari deck Polytron Big-Band.
Q1 dan Q2 membentuk differential-amplifier yang emitornya saling berhubungan.  R3 merupakan resistor emitor yang mengalirkan arus bagi kedua emitor Q1 dan Q2.
Basis Q1 menjadi jalan masukan (input) non-inverting sedangkan basis Q2 menjadi input inverting.
Penguatan keseluruhan ditentukan oleh nilai resistansi R4 (resistor basis) dan R5.  Namun biasanya R4 dibentuk sama dengan R1.  Apabila R4 dibesarkan maka penguatan amplifier akan bertambah.  Tetapi kalau R4 terlalu dibesarkan maka akan sanggup menjadikan kerja rangkaian menjadi tidak stabil.  Karena itu R4 dipilih tidak terlalu besar.
R5 memperkecil atau membatasi umpan balik negatif, di mana apabila nilai resistansinya dikecilkan maka penguatan amplifier juga akan bertambah.

Dua dioda 1N4148 di antara basis Q5 dan Q4 berfungsi sebagai sensor panas lantaran sifat dioda yang akan menurun tegangan majunya apabila terkena panas pada batas suhu tertentu.
Dua dioda ini berada erat dengan keping pendingin (heatsink) transistor-transistor akhir.  Di sini dua transistor tamat ialah dari tipe yang sama, yaitu 2N3055.
Apabila transistor menjadi terlalu panas maka tegangan maju dioda akan turun sehingga tegangan di antara basis Q5 dan Q4 akan turun juga.  Ini berefek mengurangi besar arus yang sedang mengalir di antara transistor-transistor tamat lantaran setelan arus stasionernya telah berubah mengecil.  Dengan demikian kompensasi terhadap panas yang berlebihan tetap berjalan.
Setelan arus stasioner dalam kondisi normal tanpa sinyal input disetel oleh trimpot 1k.
Adapun dua dioda di basis Q4 berfungsi sebagai “limiter” apabila pembebanan terhadap amplifier terlalu berpengaruh atau terjadi hubung singkat di jalur speaker.

Titik X merupakan titik tengah power-amplifier, dari titik ini disambungkan speaker.  Normalnya, di titik ini tidak terdapat tegangan DC (nol Volt) terhadap ground, balasannya kondusif disambungkan secara eksklusif kepada speaker.   Ini dimungkinkan lantaran penerapan suplai tegangan terbelah.  Bagi tegangan DC titik X seolah sama dengan ground (jalur 0V) tetapi bagi sinyal-sinyal ac audio yang telah dikuatkan oleh amplifier, titik X memiliki perbedaan potential yang besar terhadap ground, maka yang akan mengalir pada speaker hanyalah sinyal-sinyal ac audio.

Pada gambar kedua diperlihatkan denah rangkaian power-amplifier lokal yang banyak beredar.  Berbagai brand amplifier lokal, amplifier rakitan dan speaker aktif memakai rangkaian tersebut dengan variasi yang sangat sedikit.
Q1 dan Q2 membentuk differential-amplifier namun tugas resistor emitor diambil alih oleh kolektor-emitor Q3. Jadi, Q3 di sini berperan sebagai penyedia arus bagi kedua emitor Q1 dan Q2.  Dengan adanya D1 dan D2 di basis Q3 maka arus yang dialirkan kepada emitor Q1 dan Q2 besarnya akan tetap, tidak berubah-ubah.
Sebagai driver dipakai transistor pasangan komplementer BD139 (NPN) dan BD140 (PNP), berbeda dengan power-amplifier yang pertama, di sini dipakai transistor tamat dengan pasangan komplementer juga, yaitu MJ2955 (PNP) dan 2N3055 (NPN).
Mengenai hal-hal yang lainnya tidak diterangkan lagi di sini dikarenakan telah diterangkan sebelumnya.

Kerusakan umum amplifier OCL.
1.Tidak ada bunyi tapi power hidup
2.Ada bunyi tetapi cacat dan kecil disertai dengung
3.Mati total

Kerusakan pertama dan kerusakan kedua biasa disebabkan oleh adanya transistor driver atau transistor tamat yang rusak.  Perlu ditekankan bahwa kalau sebuah amplifier OCL rusak, jangan eksklusif mengetesnya dengan speaker lantaran speaker itu bisa saja jadi ikut rusak.
Yang pertamakali harus dilakukan ialah menilik dengan DC Voltmeter (AVO-meter pada posisi DCV 50) apakah di terminal keluaran untuk sambungan ke speaker terdapat tegangan DC atau tidak. Pemeriksaan dilakukan tanpa sinyal input, yaitu dengan pengatur volume berada pada posisi paling minimal dan ketika dilakukan investigasi speaker harus dilepas.  Pada saluran keluaran ke speaker (titik X) dilarang ada tegangan DC meskipun kecil, harus nol Volt.   Jika di situ terdapat tegangan DC maka berarti ada transistor-transistor tamat dan transistor driver yang telah rusak, perlu diperiksa satu persatu mana sajakah yang rusak untuk diganti dengan yang baru.
Bagi yang belum mengerti wacana pengetesan transistor (atau diode) dengan AVO-meter sanggup mengikuti goresan pena terkait, silahkan telaah dan pilih ulasannya dalam : Daftar Isi .
Transistor-transistor tamat yang rusak “short” akan meloloskan tegangan DC dari Vcc + atau Vcc - ke saluran speaker, apabila di situ dipasang speaker maka speaker akan teraliri arus DC yang cukup besar sehingga akan rusak.  Pengetesan dengan speaker yang terpasang hanya dilakukan apabila sudah dipastikan bahwa pada saluran speaker sudah tidak terdapat tegangan DC.
Pada amplifier yang “berkelas” biasanya dipasang rangkaian speaker-protector atau setidaknya sikring (fuse) pengaman di saluran speaker.  Tetapi pada amplifier-amplifier murahan hal ini tidak diperhatikan.
Sang perancangnya mungkin berfikir : “Jika amplifier ini rusak maka speaker harus ikut rusak juga. Rusaklah bersama-sama!”

Kembali kepada gambar kedua di atas, menyertai kerusakan driver dan transistor-transistor tamat perlu juga diperiksa D4, D5, R13, R14, R15 dan R16 apakah ikut rusak atau tidak.  Di beberapa rancangan power-amplifier OCL yang lain tugas sensor panas D3, D4 dan D5 dilakukan oleh sebuah transistor.  Transistor ini juga perlu diperiksa lantaran kerusakan yang parah pada tingkat tamat biasanya mengikut-sertakan transistor ini untuk ikut rusak.

Kerusakan ketiga ialah kerusakan yang sudah mengancam pecahan power-supply.  Tidak cukup hanya dengan mengganti sikring/fuse yang putus dengan yang baru.
Komponen pecahan power supply menyerupai transformator daya dan dioda-dioda penyearah perlu diperiksa juga, kalau ada yang rusak diganti dengan yang gres lantaran pecahan ini perlu diperbaiki terlebih dahulu.
Setelah itu pecahan power-amplifier diperiksa.  Kerusakannya tidak akan jauh dari menyerupai yang telah disebutkan di atas.  Apabila kerusakan pada kedua pecahan ini telah diperbaiki maka sikring-sikring bisa dipasang dan kemudian dilakukan pengetesan dengan sumber AC 220V yang terhubung.

Kerusakan lain.
Ada kalanya pecahan power-amplifier dipastikan tidak rusak, cara paling gampang contohnya dengan menyentuhkan ujung jari ke input power-amplifier.  Pada dua gambar pola di atas ujung jari disentuhkan ke salah satu solderan kaki elektroda C1, maka pada speaker akan terdengar bunyi “hum”.  Jika begitu maka berarti power-amplifier masih berfungsi dengan baik.  Tetapi ini dilakukan hanya apabila telah dipastikan bahwa pada titik X memang tidak terdapat tegangan DC.
Namun apabila bunyi dari sumber sinyal audio tidak ada padahal power-amplifier masih bagus, kerusakan menyerupai ini bisa disebabkan oleh sambungan perkabelan atau pensaklaran input atau pensaklaran speaker yang tidak benar.  Apabila semua itu sesudah diperiksa ternyata tidak bermasalah, maka kemungkinan kerusakan terjadi pada tingkat depan, yaitu pecahan tone-control.  Rangkaian tone-control yang menerapkan IC bisa saja rusak dan ketika rusak yang terjadi akan menyerupai itu.

Rangkaian IC OCL.
Setiap rangkaian OCL memiliki ciri khas memakai power-supply tegangan terbelah dan tidak memakai kondensator kopel dari titik X (titik tengah amplifier) ke speaker.

Untuk bisa memperbaiki amplifier OCL menjadi cukup penting lantaran sistem ini mendominasi a Memperbaiki Amplifier OCL

Untuk mengetahui apakah sebuah IC OCL masih baik atau tidak, cukup ukur antara titik X-nya dengan ground memakai DCV, kalau ternyata terdapat tegangan DC (besar atau kecil) maka dipastikan IC tersebut telah rusak dan perlu diganti. Begitu saja, lebih gampang langkah pemeriksaannya.
Gambar di atas mengatakan pola denah rangkaian IC dalam konfigurasi OCL.  Skema rangkaiannya diadopsi dari datasheet TDA2050 SGS Thomson.
Titik X berada pada pin 4.  Untuk IC yang lain mungkin akan berbeda, tetapi di sinilah kuncinya...
Jika bisa mengenali manakah titik X di dalam sebuah rangkaian IC, sangat gampang untuk memastikan bahwa sebuah IC OCL itu telah rusak...

Happy repairing!

Perbaikan amplifier yang lainnya :
Memperbaiki Amplifier OTL .
Memperbaiki Booster Amplifier Mobil .

Peredam Bunyi “Duk” Saat Amplifier Dihidupkan

amplifier pertama kali dihidupkan seringkali ada dan terjadi Peredam bunyi “duk” ketika amplifier dihidupkan
Suara “duk” (suara hentakan awal pada speaker) ketika sebuah audio-amplifier pertama kali dihidupkan seringkali ada dan terjadi. Ini bahu-membahu bukanlah suatu tanda kerusakan, ini hal yang biasa ada pada rancangan umum amplifier terutama sistem OTL dan sebagian pada sistem OCL.  Banyak amplifier berkwalitas dari merek-merek populer juga ibarat itu.
Semua amplifier OTL menerapkan penggunaan kondensator kopel berkapasitas besar di jalur outputnya, maka tidak sanggup tidak bunyi hentakan awal pada speaker niscaya akan ada dan niscaya akan terdengar.
Sepintas wacana amplifier OTL telah dijelaskan sebelumnya dalam : Memperbaiki Amplifier OTL .

Pada rancangan amplifier sistem OCL yang lebih maju, permasalahan ini biasanya sudah diperhitungkan dan dibentuk semoga terjadi pada tingkat yang sangat minim bahkan nyaris tidak ada.  Tetapi pada rancangan yang berpola standar hal ini akan selalu ada dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja.
Meskipun wajar, namun ada kalanya hal ini menjadi salah satu penyebab rusaknya speaker, terutama speaker berdaya rendah bila disambungkan kepada amplifier yang di luar ketentuan spesifikasinya.
Selain itu hal ini juga sering dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu, alasannya itu banyak orang telah berfikir bagaimana semoga bunyi “duk” ini ditiadakan saja sehingga akan terasa lebih nyaman ketika pertama kali menghidupkan perangkat audio-amplifier.

Cara paling gampang untuk meredam bunyi hentakan awal ini yaitu dengan menciptakan sebuah rangkaian delay (penunda) penyambungan antara amplifier dengan speaker.
Penundaan penyambungan antara amplifier dengan speaker ini hanya terjadi pada ketika amplifier pertama kali dihidupkan saja dan hanya berlangsung selama beberapa detik. Dengan cara ibarat ini bunyi hentakan awal pada speaker sanggup ditiadakan (tidak dimunculkan pada speaker).

Rangkaian peredam bunyi hentakan awal pada speaker.

amplifier pertama kali dihidupkan seringkali ada dan terjadi Peredam bunyi “duk” ketika amplifier dihidupkan

Daftar komponen :
R1 = 10k atau 12k (bisa dipilih)
R2 = 3k9
R3, R4 = 100Ω / 2W
C1 = 1000µF / 10V
C2 = 1000µF / 25V
D1 = 1N4002
D2 = 1N4148
D3 – D6 = 1N4002
T1 = BC547
T2 = BD139
Trf1 = 0-12V, 350mA
F1, F2 = fuse/sikring kecil 2A
Ry1 = Relay 12V coil, 8 pin.

Rangkaiannya cukup sederhana, hanya melibatkan sedikit komponen. Rangkaian memakai suplai 12V DC sehingga memungkinkan juga untuk diterapkan pada perangkat audio kendaraan beroda empat atau perangkat audio yang memakai tegangan suplai 12V.
T1 dan T2 membentuk rangkaian darlington dengan penguatan tinggi, dimaksudkan semoga proteksi arus kepada basis cukup kecil saja sehingga untuk R1 sanggup memakai resistor dengan nilai resistansi yang besar.  Resistor bernilai Ohm besar tidak akan memerlukan kondensator (C1) yang terlalu besar untuk membentuk sirkit R-C sebagai penentu pewaktuan delay.  Di sini R1 – C1 merupakan sirkit R – C yang memilih pewaktuan delay.  Adapun R2 berfungsi utama untuk mengosongkan muatan C1 ketika rangkaian dalam keadaan off, namun R2 juga mempengaruhi pewaktuan delay alasannya keberadaannya membagi tegangan contoh bagi pewaktuan delay.
Dengan nilai komponen yang disertakan pewaktuan delay akan berlangsung sekitar 3 detik, cukup untuk membiarkan bunyi “duk” lewat terlebih dahulu sebelum kemudian speaker disambungkan kepada output amplifier oleh relay.
Untuk memperpanjang pewaktuan delay sanggup dilakukan salah satu dari beberapa cara, yaitu memperbesar R1, memperbesar C1, atau memperkecil R2.
Akan tetapi tetap ada batasannya. Memperbesar R1 atau memperkecil R2 dilarang terlalu ekstrim alasannya sanggup berekses kinerja rangkaian akan menjadi tidak lagi mantap.

Relay yang digunakan yaitu relay dengan kontak ganda alasannya perkiraan bahwa rangkaian akan digunakan untuk amplifier stereo. Jika rangkaian hendak digunakan untuk amplifier mono maka sanggup digunakan relay dengan kontak tunggal.
Mudah-mudahan sambungan pin relay yang diterakan pada gambar tidak menjadi masalah.
Jika ada yang belum terperinci wacana sambungan pin-pin relay silahkan ikuti terlebih dahulu : Mengenal Relay .

R3 dan R4 dipasang hanya apabila rangkaian digunakan untuk amplifier OTL. R3 dan R4 berfungsi meng-ground-kan elektroda negatif dari kondensator kopel tingkat final amplifier OTL semoga segera terisi penuh. Jika kondensator telah terisi penuh maka elektroda negatifnya akan berpotential nol Volt DC terhadap ground, dalam keadaan ini apabila kepadanya kemudian disambungkan speaker maka tidak akan lagi terdengar bunyi hentakan “duk”.

F1 dan F2 boleh dipasang boleh tidak, tetapi bila dipasang akan lebih baik sebagai pengaman perhiasan bagi speaker.
Pada penggunaan yang berlama-lama, T2 sebaiknya diberi keping pendingin tambahan.

Untuk power-supply sanggup digunakan transformator tersendiri atau sanggup juga mengambil tegangan AC 12V dari pecahan khusus sekunder transformator utama pada amplifier (jika ada). Transformator tertentu yang diperuntukkan untuk audio-amplifier banyak yang menyediakan tap perhiasan tegangan AC 12V ini.

Sebagai pecahan akhir, perlu diingatkan di sini bahwa rangkaian ini bukanlah rangkaian “speaker-protector”. Rangkaian speaker-protector yang biasa diperuntukkan bagi amplifier-amplifier OCL berdaya besar yaitu pecahan yang lain lagi, ulasannya mungkin akan ada di lain kesempatan.

Happy Soldering!

Memperbaiki Audio Amplifier Kendaraan Beroda Empat

orang yang sering memperbaiki banyak sekali audio Memperbaiki Audio Amplifier Mobil
Audio-amplifier kendaraan beroda empat atau audio-booster mobil, kalau rusak sulitkah untuk diperbaiki?
Ternyata tidak juga. Bagi orang-orang yang sering memperbaiki banyak sekali audio-amplifier rumahan dan power-supply komputer malah mungkin akan menyampaikan memperbaikinya tidaklah sulit.
Bagaimanakah sistem kerjanya dan bagaimanakah memperbaiki kerusakannya?
Berikut ini sekilas ulasannya.

Booster audio kendaraan beroda empat intinya yaitu amplifier OCL dengan power-supply khusus, yaitu power-supply tegangan terbelah (split-voltage power-supply) yang dihasilkan dari sebuah unit konverter DC. Suplai tegangan terbelah dari unit konverter DC yaitu kekhususan sistem amplifier kendaraan beroda empat yang utama, alasannya yaitu kondisinya memang menuntut demikian.
Sebuah amplifier kendaraan beroda empat dituntut untuk menghasilkan daya keluaran yang besar (bahkan sampai ratusan Watt) sedangkan sumber tenaga yang tersedia hanyalah tegangan dari aki/baterai sebesar 12V.  Dengan tegangan sebesar itu meskipun dirangkai sebuah penguat yang menerapkan sistem BTL tetap saja tidak akan sanggup dihasilkan daya yang cukup besar, paling tinggi hanyalah pada kisaran 20W dan itupun sudah menghasilkan cacat (distorsi) yang cukup besar pula. Akan tetapi untungnya aki atau baterai kendaraan beroda empat memiliki kemampuan untuk mengeluarkan arus yang cukup besar, meskipun tegangannya hanya sebesar 12V.  Dengan demikian tegangan dan arus yang bisa dikeluarkan oleh aki/baterai kendaraan beroda empat sanggup dikonversi untuk menjadi tegangan positif dan negatif yang lebih tinggi di mana ini diharapkan untuk menyuplai rangkaian-rangkaian penguat audio berdaya tinggi.
Dengan diterapkannya speaker-speaker berimpedansi rendah pada sistem audio kendaraan beroda empat maka penguat-penguat audio berdaya tinggi itu akan semakin maksimal untuk menghasilkan daya yang lebih besar lagi.

Cara kerja unit konverter pada audio-amplifier kendaraan beroda empat .
Konverter tegangan DC pada amplifier kendaraan beroda empat merubah tegangan 12V dari aki menjadi tegangan terbelah yang umumnya setinggi +25V dan -25V.
Konverter disuplai oleh aki 12V. Ia sebetulnya yaitu osilator yang menghasilkan guncangan/gelombang listrik pada frekwensi tinggi, kemudian guncangan ini diperkuat oleh serangkaian transistor power (biasanya dari jenis power-MOSFET) untuk diumpankan ke gulungan primer dari transformator toroid (transformator dengan inti ferit berbentuk lingkaran).
Gulungan sekunder transformator toroid telah diperhitungkan untuk menghasilkan dua tegangan yang masing-masingnya setinggi 25V namun dengan fasa yang berbeda 180º antara satu dengan lainnya. Kedua tegangan ini kemudian disearahkan oleh dioda-dioda penyearah biar menjadi tegangan DC, sehabis itu diratakan oleh dua kondensator perata. Jadilah ia power-supply tegangan terbelah +25V dan -25V yang sempurna.
Lebih terang ihwal power-supply tegangan terbelah telah diulas dalam : Catu daya tegangan terbelah .

Unit amplifier pada audio-amplifier kendaraan beroda empat .
Pada audio-amplifier atau audio-booster kendaraan beroda empat keluaran usang yang hanya mengeluarkan daya puluhan Watt sistem yang diterapkan biasanya yaitu sistem BTL dari dua rangkaian OTL untuk setiap kanalnya (L atau R). Sirkitnya tidak rumit alasannya yaitu memakai IC dengan suplai tegangan 12V pribadi dari aki mobil.
Namun pada audio-amplifier kendaraan beroda empat generasi selanjutnya sistem yang diterapkan yaitu OCL dengan tegangan suplai ganda yang lebih tinggi. Beberapa model dilengkapi pula dengan switch untuk memfungsikan dua rangkaian OCL di dalamnya menjadi penguat BTL dengan daya keluaran yang jauh lebih besar. Ini dilakukan biasanya untuk mengemudikan speaker-speaker woofer dan amplifier disetel sebagai “sub-woofer amplifier”.

Kerusakan umum audio-amplifier kendaraan beroda empat .
Di antara kerusakan-kerusakan yang paling sering terjadi pada audio-amplifier kendaraan beroda empat yaitu :
1.Tidak ada bunyi tetapi power hidup (lampu indikator power menyala)
2.Ada bunyi tetapi kecil dan cacat pada salah satu atau pada kedua kanal
3.Mati total

Kerusakan pada poin pertama dan poin kedua yaitu kerusakan umum amplifier OCL. Di sini tidak diterangkan lagi ihwal tekhnik menyelidiki dan memperbaikinya dikarenakan telah diulas secara lengkap dalam : Memperbaiki amplifier OCL .

Hampir tidak ada bedanya antara sirkit OCL amplifier kendaraan beroda empat dengan amplifier rumahan. Hanya saja pada amplifier kendaraan beroda empat transistor-transistor simpulan sering digandakan. Di sini hanya akan diperlihatkan dua rujukan amplifier kendaraan beroda empat dengan penempatan komponen-komponennya.

orang yang sering memperbaiki banyak sekali audio Memperbaiki Audio Amplifier Mobil

Gambar di atas menunjukkan rujukan amplifier kendaraan beroda empat Audiobose type AB-450 yang telah dibuka tutup bawahnya. Tampak dua bab utama yang ditandai dengan garis putus-putus, yaitu bab amplifier (amplifier unit) dan bab power-supply (power-converter unit).
Q1...Q4 dan Q6...Q9 pada amplifier unit yaitu transistor-transistor simpulan komplementer (berpasangan) type C5198 (NPN) dan A1941.
Q11...Q14 dan Q52...Q55 yaitu transistor-transistor driver komplementer type C2073 dan A940.
R14...R17 dan R167...R170 yaitu resistor-resistor emitor transistor akhir. Resistor ini mungkin saja ikut rusak (putus) kalau transistor simpulan yang bersangkutan rusak “short”, alasannya yaitu itu perlu untuk diperiksa.

orang yang sering memperbaiki banyak sekali audio Memperbaiki Audio Amplifier Mobil

Gambar di atas menunjukkan rujukan amplifier kendaraan beroda empat berikutnya, yaitu Punch Power type PP2150.
Q1…Q4 yaitu transistor-transistor simpulan komplementer. Di sini yang dipakai yaitu D718 (NPN) dan B688 (PNP).
Q9...Q12 yaitu transistor-transistor driver komplementer, sedangkan R2...R5 yaitu resistor-resistor emitor transistor akhir.
Perlu diperhatikan bahwa pengetesan bab amplifier ini hanyalah dilakukan kalau semua komponen yang rusak pada bab tersebut telah diganti dengan yang baik dan bab power-supply telah dalam keadaan normal.

Kerusakan pada poin ketiga terjadi apabila bab power-supply tidak berfungsi. Kerusakan transistor-transistor power MOSFET sering ditandai dengan putusnya sikring (fuse).
Pada rujukan amplifier kendaraan beroda empat pertama (Audiobose), transistor-transistor power MOSFET ini yaitu Q5...Q10 (type p1806), sedangkan pada rujukan kedua yaitu Q5...Q8 (type IRF540).
Kerusakan transistor adakalanya sanggup dilihat pribadi dengan fisik yang tampak hangus bekas terbakar, tetapi adakalanya juga tidak. Karena itu perlu dilakukan investigasi apakah drain dan source-nya telah terhubung singkat (short) ataukah masih baik. Jika sehabis dilakukan investigasi ternyata ada transistor yang belum rusak maka dikembalikan ke tempatnya semula, dan yang telah terindikasi rusak diganti dengan yang baru. Penggantian transistor harus dari type yang semuanya sama, jangan ada salah satu dari transistor tersebut yang berbeda type alasannya yaitu dikhawatirkan akan terjadi ketimpangan kerja.

Selain transistor, periksa juga beberapa resistor yang terhubung dengan gate transistor, umumnya bernilai 15...150Ω. Periksa nilai Ohm-nya apakah masih sesuai dengan yang tertera pada arahan warnanya ataukah tidak. Resistor-resistor ini sering ikut rusak menyertai kerusakan transistor.
Setelah semua transistor power MOSFET dipastikan baik dan tidak ada resistor rusak yang belum diganti, maka bab power-supply sanggup di-test. Namun sebelumnya perlu juga dipastikan bahwa dioda-dioda bridge penyearah D5 dan D6 atau D1 dan D2 dalam keadaan baik. Kerusakan pada dioda-dioda ini bisa berakibat fatal. Jika ada yang rusak harus diganti.
Dioda-dioda ini berjenis dioda-CT, lihat dalam : Jenis-jenis dioda .

Tegangan keluaran dari power-supply akan terhubung pribadi dengan rangkaian amplifier, alasannya yaitu itu sebelum melaksanakan pengetesan sebaiknya transistor-transistor simpulan bab amplifier tidak dipasang terlebih dahulu untuk menghindari resiko penyimpangan tegangan yang dihasilkan power-converter.
Hubungkan terminal B+ dan remote pada amplifier kendaraan beroda empat ke sumber tegangan DC +12V. Terminal Gnd (ground) dihubungkan ke 0V atau negatif sumber tegangan.
Untuk pengetesan ini diharapkan sumber tegangan stabil 12V dengan arus yang cukup besar. Cocok untuk keperluan ini DC regulator versi 10A yang telah diulas dalam goresan pena sebelumnya, silahkan lihat : DC-Regulator Sederhana Dengan Tegangan Variabel 3V-12V, Arus 5A-10A .

Hidupkan sumber tegangan, kemudian ukur tegangan DC yang terdapat pada pin positif dan negatif kondensator filter tegangan Cx1 dan Cx2 (dari bab bawah) dengan memakai AVO-meter posisi DCV50. Perhatikan positif dan negatifnya, jangan terbalik-balik. Tegangan yang terdapat pada Cx1 harus sama dengan tegangan yang terdapat pada Cx2, yaitu sekitar 25V. Jika tidak sama, periksalah kedua kondensator itu, mungkin salah satunya ada yang rusak. Jika tegangan pada kedua kondensator itu terlalu rendah maka mungkin kedua kondensator itu telah rusak, perlu diperiksa dan kalau memang rusak diganti dengan yang baru.
Jika semua komponen power-supply yang rusak telah diganti namun tidak terukur adanya tegangan, kemungkinan IC osilator-nya rusak. IC yang cukup terkenal untuk fungsi ini yaitu TL494.
Cobalah ganti dengan yang gres dan periksa tegangan pada pin untuk suplai positifnya, yaitu pin 12. Harus ada tegangan di situ sebesar 8...15V.

Apabila tegangan pada Cx1 dan Cx2 ternyata telah benar, pasanglah transistor-transistor simpulan bab amplifier.
Kini, amplifier kendaraan beroda empat siap untuk di-test secara keseluruhan.
Hidupkan sumber tegangan, kemudian ukur tegangan pada terminal-terminal speaker front atau rear dengan AVO-meter posisi DCV50. Jika masih terdapat tegangan DC maka berarti bab amplifier belum baik benar, perlu dilakukan investigasi lagi, mungkin masih ada komponen rusak yang belum terdeteksi dan belum diganti.
Jika investigasi pada terminal-terminal speaker telah menyampaikan bebas dari tegangan DC (nol Volt DC) maka tinggallah melaksanakan pengetesan suara. Hubungkan kabel input dengan sumber sinyal audio dan terminal-terminal speaker dengan speaker yang terhubung. Namun harus dipastikan bahwa semua speaker dalam keadaan baik, tidak ada speaker yang telah rusak yang masih dihubungkan ke amplifier mobil. Pastikan ini biar tidak memperbaiki amplifier menjadi dua kali. Teliti lebih baik daripada harus mengulangi pekerjaan.
Apabila semuanya telah siap, hidupkan sumber sinyal audio dan atur-atur volume-nya biar tidak terlalu berlebihan.
Dengarkan suaranya.
Apakah sudah OK?
Jika sudah OK, anda layak untuk menikmati segelas kopi hangat.

Happy repairing!

Memperbaiki Tape Recorder

tape recorder umumnya tidaklah terlalu sulit Memperbaiki Tape Recorder
Memperbaiki radio-tape recorder umumnya tidaklah terlalu sulit. Radio-tape recorder seringkali dijadikan sarana untuk latihan mereparasi peralatan elektronik bagi para montir pemula.
Meskipun tekhnologi pita rekaman sudah dianggap usang, tetapi kemudahan dan kelebihan yang lainnya menciptakan radio-tape recorder banyak yang dirasakan masih sangat layak untuk diperbaiki.
Jadi, bekerjsama keuntungannya masih tetap ada.
Dua seri goresan pena akan mengulas langkah-langkah perbaikan radio-tape recorder tentengan (portable) secara praktis. Tulisan dipecah menjadi dua penggalan lantaran mungkin akan terlalu panjang.
Khusus pada penggalan goresan pena ini mengulas wacana perbaikan “tape-recorder”.
Perbaikan untuk penggalan radio diulas dalam lanjutannya : Memperbaiki Radio AM - FM .

Contoh yang dikemukakan dibutuhkan sanggup mewakili kebanyakan dari penggalan tape recorder yang banyak beredar.

Skema blok tape-recorder beserta penjelasannya .
Ada beberapa penggalan utama pada tape recorder pada umumnya ibarat diperlihatkan pada gambar berikut ini :

tape recorder umumnya tidaklah terlalu sulit Memperbaiki Tape Recorder

Bagian tape-recorder yaitu penggalan yang difungsikan ketika saklar/switch “function” berada pada posisi “tape”. Pada posisi itu input power-amplifier (biasanya didahului di dalamnya dengan rangkaian tone-control/equalizer sederhana) diarahkan untuk tersambung kepada output rangkaian head pre-amp, sedangkan jalur B+ (suplai tegangan positif dari power-supply) dihubungkan ke sebuah leaf-switch yang terdapat pada penggalan mekanik.
Pada posisi tape, power-amplifier (po-amp) umumnya tidak pribadi mendapat suplai tegangan dari power-supply, tetapi melalui leaf-switch terlebih dahulu. Begitu juga motor DC dan rangkaian head-pre-amp. Tetapi sebagian rancangan tape-recorder ada juga yang menerapkan santunan tegangan suplai kepada unit po-amp ketika function-switch sudah ditaruh pada posisi tape.
Ketika kontak leaf-switch terkoneksi lantaran salah satu tombol pengaktif pada mekanik ditekan (play, record, fast-forward atau rewind) maka rangkaian po-amp akan mendapat suplai tegangan bersama dengan motor DC dan rangkaian head pre-amp. Bagian tape-player pun serentak bekerja.
Khusus pada pemfokusan tombol play, head akan turun dan melekat pada pita kaset yang bergerak perlahan lantaran digulung maju dengan kecepatan motor DC yang stabil. Head memungut medan magnetisme yang terekam pada pita kaset yang perubahan-perubahannya merupakan bentuk perubahan-perubahan pada sinyal ac suara.
Sinyal ac bunyi dengan level yang sangat kecil yang telah dipungut oleh head kemudian diberikan kepada pre-amp untuk diperkuat, kemudian diteruskan ke po-amp sampai jadinya diperdengarkan oleh speaker.

Apabila tombol mekanik yang ditekan yaitu tombol “record”, maka semua penggalan tape-recorder akan mendapat suplai tegangan sebagaimana ketika play, namun bedanya switch play-record (switch memanjang dengan pin sambungan yang banyak, biasanya terdapat pada papan rangkaian utama) juga ikut tertekan sehingga mengubah beberapa kontak/koneksi, antara lain :
  • Pengambilan sinyal input pre-amp berubah dari head ke mic
  • Penyaluran output pre-amp berubah. Jika sebelumnya output pre-amp tersalurkan ke tone-control, sekarang berubah ke head (play/record head). Di sini head menginduksikan sinyal bunyi yang diterimanya untuk mensugesti medan magnet pita kaset biar terekam di pita.
  • Sirkit umpan balik untuk equalisasi sinyal berubah
  • Pada tape-recorder yang menerapkan peniadaan awal medan magnetisme pita dengan tegangan DC atau dengan sinyal frekwensi tinggi yang diinduksikan ke head penghapus (eraser-head), head penghapus mendapat masukan untuk menghapus pita melalui pensaklaran switch play-record.
Kerusakan umum tape recorder .
Di antara kerusakan-kerusakan yang sering terjadi pada tape-recorder yaitu :
1. Mati total (power tidak ada)
2. Power ada (Led indikator menyala) tetapi tidak ada suara
3. Suara dari kaset terdengar tumpul dan kecil, kadar treble sangat sedikit
4. Suara dari kaset mengayun tidak stabil atau bahkan melambat
5. Hasil rekaman buruk

tape recorder umumnya tidaklah terlalu sulit Memperbaiki Tape Recorder e

Kerusakan pada poin pertama sanggup disebabkan lantaran fuse (sikring) di bersahabat transformator putus, atau transformatornya yang sudah rusak. Cara memeriksanya yaitu dengan menempelkan kedua tuas AVO-meter (di-set pada Ohm X10) kepada dua pin koneksi “AC-in” yang berada di penggalan belakang (lihat gambar (A) di atas).
Apabila jarum AVO-meter bergerak berarti sikring atau trafo masih baik. Jika tidak bergerak mungkin sikring atau transformator sudah rusak dan perlu diganti.
Pastikan mana yang rusak dan harus diganti.

Kerusakan pada poin kedua sanggup disebabkan rusaknya IC po-amp. Bentuk IC po-amp sanggup bermacam-macam, kadang berbentuk SIL, DIL, Pentawatt atau yang lainnya. Namun ciri khas IC po-amp ini yaitu selalu memerlukan keping pendingin (heatsink) kecuali model tertentu yang berbentuk DIL. Ciri lainnya yaitu bahwa dari rangkaiannya terdapat kabel sambungan ke speaker.
Kebanyakan tape-recorder memakai IC po-amp sistem OTL, sebagian lagi menerapkan sistem BTL, yaitu dua po-amp OTL yang dirangkai sebagai penguat bridge untuk mendapat power bunyi yang lebih besar.
Untuk menilik kerusakan sistem OTL telah dibahas pada goresan pena lainnya, silahkan ikuti dalam : Memperbaiki amplifier OTL .

Kemungkinan lain kerusakan poin kedua yaitu speaker yang mati. Speaker sanggup ditest dengan memakai AVO-meter pada Ohm X1. Speaker yang mati tidak akan menghasilkan penunjukkan angka Ohm tertentu pada jarum AVO-meter.

Kerusakan pada poin ketiga biasanya disebabkan oleh kondisi head yang memburuk. Jika penggalan permukaan head yang melekat pada pita kaset masih sanggup dibersihkan, maka sebaiknya dibersihkan saja untuk mendapat bunyi yang kembali normal. Namun kalau sudah tidak sanggup lagi maka head harus diganti dengan yang baru.

tape recorder umumnya tidaklah terlalu sulit Memperbaiki Tape Recorder

Kerusakan pada poin keempat sanggup disebabkan oleh karet yang menghubungkan roda besar dengan motor DC pada mekanik sudah mengendur. Gantilah karet ini dengan yang gres dan kemudian perhatikan hasilnya. Jika ternyata belum membawa perbaikan maka roll-press sebaiknya diganti juga.
Apabila sehabis karet dan roll-press diganti tetapi belum membawa perbaikan maka kemungkinan besar motor DC sudah rusak.
Gantilah motor DC dengan yang sebanding, perhatikan arah putarannya (ke kanan atau ke kiri).

Kerusakan pada poin kelima sanggup disebabkan oleh mic yang sudah jelek. Mic internal biasanya memakai jenis “condenser-mic”. Gantilah mic kemudian test dan perhatikan hasilnya. Jika hasilnya masih belum baik maka kemungkinan besar switch play-record sudah mengalami kerusakan (induksi atau diskoneksi di beberapa bagian). Switch perlu diganti dengan type atau model yang sama.
Perlu dicatat bahwa kerusakan pada multi-switch play-record yang berekses kepada hasil perekaman yang buruk umumnya sudah terlihat pula pada ketika play. Kadang-kadang bunyi mendadak berdesis atau kadang kala bunyi terdengar cacat, meskipun ini terjadi hanya sesekali saja. Itu sudah menunjukan bahwa kondisi switch play-record sudah memburuk.

Happy repairing!

Memperbaiki Dvd Player

Dahulu dikala DVD player pertama-kali hadir, memperbaikinya terbilang sulit lantaran spare-partnya masih belum banyak beredar. Kini semuanya telah lebih gampang dan setiap praktisi maupun para hobbyst elektronik sanggup memperbaikinya hampir di setiap kerusakan.

Bagian-bagian DVD player.
Bagan DVD player ibarat dengan generasi sebelumnya, yaitu VCD player di mana terdapat tiga blok pecahan utama : Power-supply, mpeg decoder unit, dan mekanik.

 memperbaikinya terbilang sulit lantaran spare Memperbaiki DVD Player

Power supply DVD player yaitu jenis “switching-mode power-supply”, memiliki beberapa keluaran tegangan di antaranya : 5V, 8V, dan 12V. Ada beberapa model DVD player yang power-supplynya memiliki tegangan keluaran 6V dan tegangan keluaran negatif -5V dan -8V, tetapi ini jarang ada.
Tegangan keluaran 5V biasanya untuk keperluan suplai sirkit dekoder di dalam papan rangkaian mpeg-decoder unit, sedangkan tegangan 8V biasanya untuk keperluan sirkit servo motor yang juga berada di dalam papan rangkaian mpeg-decoder unit.   Tegangan 12V biasanya dipakai untuk supply keperluan tambahan ibarat sirkit audio-mixer atau output-amplifier (jika ada), juga untuk keperluan aksesoris ibarat menyalakan lampu penerangan, kipas dan lain-lain.

Mpeg-decoder yaitu pengolah kode-kode digital untuk diterjemahkan menjadi sinyal gambar (video) dan bunyi (audio).
Perangkat ini mengambil data dari keping DVD yang dipungut oleh pick-up optikal (sering hanya disebut dengan “optic”).  Data berupa kode-kode digital yang mengandung info perihal gambar dan bunyi di dalamnya. Hasi pengolahan mpeg-decoder yaitu dua kanal bunyi stereo (L dan R) dan sinyal burst video.

Bagian mekanik yaitu pecahan di mana terdapat “optic”, motor pencetus optic, motor pemutar keping DVD, dan motor pencetus untuk membuka laci DVD (motor eject).
Semua kontrol untuk ketiga motor itu yaitu dari sirkit servo motor yang terdapat pada papan rangkaian mpeg-decoder unit.

Kerusakan umum DVD player.
Di antara kerusakan-kerusakan yang sering terjadi pada DVD player yaitu :
1.Sulit membaca format DVD tetapi masih bisa membaca format yang lain
2.Sulit atau tidak bisa membaca semua format disc (DVD, VCD, mp3, mp4, audio CD)
3.Gambar ada tetapi bunyi tidak ada
4.Gambar tidak ada tetapi bunyi ada
5.Gambar dan bunyi tidak ada padahal aktifitas optic membaca keping DVD terlihat normal
6.Tidak bisa membuka laci DVD
7.Mati total.

Kerusakan pada poin 1 biasanya terjadi lantaran motor pemutar keping DVD sudah lemah. Untuk membaca format DVD motor memerlukan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan membaca VCD, audio CD atau yang lainnya.  Ketika motor telah melemah beliau tidak akan bisa lagi mencapai kecepatan putar yang cukup untuk membaca DVD meskipun tegangan yang diberikan kepadanya dari sirkit servo sudah maksimal.
Untuk mengatasinya motor pemutar keping DVD perlu diganti.  Namun untuk memasangnya memerlukan keahlian dan pengalaman khusus.   Jika tidak ingin beresiko proses perbaikan menjadi berlarut-larut, ganti saja satu blok pecahan mekanik sekalian.

Kerusakan pada poin 2 biasa disebabkan oleh optic yang sudah melemah.  Jika optic lepasan dengan model dan tipe yang sama ada dijual di pasaran maka bisa menggantinya dengan yang baru.  Tetapi jikalau tidak ada maka ganti saja satu blok pecahan mekanik sekalian.

Kerusakan pada poin 3, 4 dan 5 disebabkan lantaran mpeg-decoder sudah mengalami cacat fungsi.  Tidak ada pilihan lain untuk mengatasinya, yaitu mengganti satu blok pecahan mpeg dengan yang gres dengan model dan tipe yang sama.  Slot-slot sambungan kabel perlu diperhatikan dengan baik dikala mencabutnya biar dikala dilakukan penggantian blok mpeg tidak akan terjadi kesalahan pemasangan.

Kerusakan pada poin 6 sanggup disebabkan oleh dua hal : Motor eject yang lemah atau “karet eject” yang sudah kendor.  Akan tetapi yang lebih sering terjadi yaitu karet eject yang sudah kendor.

 memperbaikinya terbilang sulit lantaran spare Memperbaiki DVD Player

Untuk mengganti karet eject lepaskanlah blok mekanik dan balikkan sehingga pecahan bawah blok mekanik menghadap ke atas.  Jika laci terkunci lantaran macet, bukalah dengan cara memutar roda bergerigi memakai jari ke arah kiri (lihat gambar A).  Apabila laci sudah keluar sedikit maka beliau bisa ditarik hingga keluar secara penuh.
Setelah itu balikkan kembali blok mekanik ibarat posisi awal.  Akan tampak di pecahan kiri dari ujung blok mekanik sebuah karet yang terhubung dengan motor eject (lihat gambar B).  Gantilah karet tersebut dengan yang baru.

Kerusakan pada poin 7 yaitu kerusakan power-supply.
Jika power-supply memakai IC regulator maka biasanya inilah yang rusak.  Jika IC ini rusak maka sikring/fuse biasanya akan putus.  Gantilah IC regulator tersebut.
Kemungkinan lain yaitu putusnya resistor untuk tegangan bias.   Jika resistor ini rusak maka sikring/fuse tidak putus.
Resistor ini berada di dalam sirkit IC regulator dan bernilai Ohm besar (antara 150k hingga dengan 270k). Biasanya resistor ini yaitu resistor ½ Watt atau 1 Watt.
Apabila tidak ingin beresiko proses perbaikan menjadi berlarut-larut, ganti saja satu blok pecahan power-supply sekalian lantaran sudah banyak beredar di pasaran.
Yang diharapkan tinggallah ketelitian untuk menyambungkan tegangan-tegangan keluaran sesuai dengan yang dibutuhkan oleh rangkaian secara keseluruhan.  Modifikasi sambungan-sambungan tegangan perlu dilakukan lantaran power-supply yang beredar di pasaran tidak selalu sama dengan power-supply original DVD player tersebut.

Tulisan reparasi sebelumnya : Memperbaiki Rice Cooker.
Tulisan reparasi audio yang lain :
Memperbaiki amplifier OCL
Memperbaiki amplifier OTL .

Keep happy repairing!

Menempatkan Stereo-Speaker

Perangkat stereo yang anggun dengan dua speakernya yang handal kadang menjadi sia-sia dan terdengar “kurang enak”, penyebabnya sederhana : Penempatan speaker yang salah.
Bagi sebagian orang hal ini mungkin tidak pernah jadi problem lantaran adanya motto : Yang penting bunyi!
Tetapi bagi sebagian lagi hal ini menjadi perhatian yang serius.  Ketika problem menempatkan speaker stereo menjadi hal yang cukup perlu untuk diperhatikan, inilah sekilas ulasan tentangnya.

Fungsi stereo.
Perbedaan antara sistem stereo dengan sistem mono sangatlah jelas.
Pada sistem mono tidak ada pemisahan gosip bunyi pada bagian-bagian tertentu, semuanya menjadi satu dan muncul dalam satu bentuk bunyi yang sama meskipun speaker yang dipakai ialah dua. Namun pada sistem stereo terdapat pemisahan gosip bunyi pada bagian-bagian tertentu sehingga satu bunyi tertentu yang muncul di speaker yang satu tidak muncul di speaker lainnya, begitu pula sebaliknya.
Hal ini disebabkan lantaran adanya pemisahan saluran (saluran/bagian) pada rangkaian elektronik dari penguat/amplifier yang tersambung kepada speaker, dan speaker hanyalah mengeluarkan bunyi berdasarkan saluran penguat yang tersambung kepadanya saja.
Pemisahan saluran pada rangkaian penguat dimulai dari serpihan pre-amplifier, tone-control hingga serpihan power-amplifier-nya.

Sistem stereo dibentuk orang sebagai salah satu perjuangan untuk mendapat nuansa bunyi yang lebih mendekati keaslian atau lebih berkesan alami.
Ketika seseorang sedang duduk mendengarkan empat orang yang sedang berbicara (atau sedang bermain musik) gosip bunyi yang diterima indera pendengaran kiri akan berbeda dengan gosip bunyi yang diterima indera pendengaran kanan.
Dengan sistem stereo (dari perekaman hingga reproduksi suara) keadaan yang ibarat dengan itu berusaha diwujudkan.
Namun hal ini perlu dukungan, di antaranya yang penting ialah penempatan speaker stereo secara benar.

Masalah fase suara.
Gelombang bunyi yang dihasilkan oleh getaran membran speaker bergerak ke arah indera pendengaran dalam satu fase tertentu. Ketika fase bunyi dari kedua speaker dalam keadaan yang benar, bunyi yang terdengar seolah tiba dari tengah jarak di antara kedua speaker tersebut.
Tetapi dikala fase bunyi dalam keadaan salah maka bunyi akan terdengar “kasar”, terjadi tumpang tindih pada beberapa frekwensi audio sehingga pengaturan nada pada tone-control menjadi sulit untuk memperbaiki keadaan.
Hal ini sering disebabkan faktor akustik ruangan yang kurang mendukung. Banyaknya pantulan liar yang terjadi dari serpihan salah satu sisi ruangan akan mengesankan bunyi tidak balans baik pada levelnya atau pun pada jalur frekwensinya.
Contohnya contohnya salah-satu speaker ada yang terhalang sebuah benda besar di ruangan ibarat lemari atau sejenisnya.
Solusinya ialah meninjau ulang penempatan barang-barang rumah yang besar ibarat lemari atau semacamnya untuk membuat area antara speaker dengan pendengar yang bebas kendala dan meminimalisir bunyi mayoritas yang tiba kepada pendengar ialah bunyi pantulan.
Apabila faktor akustik kurang mendukung, ada satu tips untuk menghasilkan fase yang sempurna khusus pada range frekwensi rendah (bass), yaitu dengan menyambungkan salah satu speaker secara terbalik pada terminal sambungannya.
Cara ini sering berhasil mengoptimalkan bunyi bass pada amplifier sistem OTL atau OCL. Kabel “positif” dari salah satu saluran amplifier disambungkan ke terminal “negatif” salah satu speaker dan kabel negatifnya disambungkan ke nyata speaker. Ini hanya dilakukan pada salah satu speaker saja, tidak kedua-duanya.

Masalah dekor ruangan.
Ruangan dengan banyak gambar berfigura akan merugikan perambatan suara, sebagian bunyi akan hilang. Begitu juga dengan ruangan yang dipenuhi sofa (mebel atau sejenisnya) dan karpet tebal akan banyak meredam suara, terutama pada frekwensi tinggi audio.
Dengan hilangnya sebagian gosip audio pada frekwensi-frekwensi tertentu sebelum hingga ke telinga, maka hal ini akan menjadikan berkurangnya keutuhan stereo.
Karena itu permasalahan fase bunyi perlu mendapat perhatian untuk diatasi dengan mendekor ulang ruangan jikalau memungkinkan. Jika tidak memungkinkan maka keinginan akan menjadi sangat terfokus kepada solusi permasalahan utama, yaitu menempatkan speaker dengan tepat.

Masalah penempatan speaker.
Dalam penempatan speaker, ada dua yang sangat berpengaruh, yaitu penempatan secara vertikal dan penempatan secara horizontal.
Penempatan secara vertikal yang kurang sempurna ialah dikala speaker ditaruh pada posisi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Penempatan speaker seharusnya mengacu kepada posisi pendengar, apakah umumnya pendengar berada dalam posisi duduk di kursi ataukah bangkit di lantai. Jika speaker ditaruh terlalu tinggi maka bunyi dalam frekwensi tinggi dan frekwensi menengah audio yang berasal dari tweeter atau midrange-speaker akan banyak lolos dari pendengaran. Selain itu posisi speaker yang terlalu tinggi juga akan merugikan perambatan nada-nada rendah, lantaran itu imbas yang terjadi juga ialah berkurangnya bunyi bass.

Posisi speaker yang terlalu rendah terhadap pendengar berefek sama pada frekwensi tinggi audio. Treble akan terdengar kurang tajam (tumpul), namun lantaran pantulan dari bawah lantai menjadi cukup besar, maka bunyi bass akan menjadi dominan. Ini tetap tidak seimbang.
Solusi yang sempurna dari semua itu ialah dengan menempatkan speaker dalam posisi tweeter atau midrange-speaker setinggi indera pendengaran pendengar, sedangkan woofer boleh di bawah itu.
Karena pertimbangan inilah beberapa produk speaker berkelas menaruh tweeter dan midrange-speakernya di serpihan atas box pada jarak yang sempurna dengan woofernya yang berada di serpihan bawah, sehingga dikala speaker itu ditempatkan secara benar maka tidak ada serpihan frekwensi audio yang luput dari pendengaran.

Penempatan speaker secara horizontal harus mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya ialah posisi senter pendengar, arah rambatan bunyi dan keleluasaan ruangan.

Perangkat stereo yang anggun dengan dua speakernya yang handal kadang menjadi sia Menempatkan Stereo-Speaker

Pada gambar (A) diperlihatkan penempatan speaker yang tidak tepat.
Dalam posisi ibarat itu hanya bunyi dari satu saluran yang akan didengar secara utuh oleh pendengar, sedangkan bunyi dari saluran lainnya hanya hingga kepada pendengar dari pantulan dengan level yang sangat minim.
Gambar (B) memperlihatkan penempatan speaker yang salah satunya berada lebih bersahabat dengan pendengar. Dalam posisi ibarat itu semua serpihan bunyi tetap terdengar, namun lantaran adanya perbedaan jarak akan timbul pula perbedaan fase waktu hingga bunyi kepada pendengar.
Gambar (C) memperlihatkan penempatan speaker yang sering dipilih oleh sebagian orang.
Sepintas tampak tidak ada problem lantaran bunyi tetap nyaman didengar, namun bekerjsama dalam posisi ibarat itu terdapat “cakap alih-silang” (cross-talk) yang terlalu banyak, juga adanya gelombang bunyi yang merambat lurus menjadi tidak fokus kepada pendengar.
Gambar (D) memperlihatkan penempatan speaker yang lebih sering sukses dibandingkan dengan cara penempatan lainnya. Setiap serpihan bunyi akan hingga kepada pendengar dengan sudut yang seimbang dari kedua speaker.


Sumber maraji : Placing Stereo Speaker
John Milder, Popular Electronic, June 1960.