Tampilkan postingan dengan label Kementerian Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kementerian Pertanian. Tampilkan semua postingan

Koordinasi Apik, Karantina Dan Avsec Gagalkan Pengiriman Telur Burung Unta

Petugas BKP Pekanbaru Menggagalkan penyelundupan Telur Burung Unta (Sumber foto : BKP)

Pekanbaru - Karantina Pekanbaru gagalkan pengiriman telur burung unta tujuan Yogyakarta. Telur yang dikemas dalam kardus berukuran 30x30x45 cm itu dikirim melalui jasa ekspedisi.

Kecurigaan bermula pada dikala paket bertuliskan masakan tersebut diperiksa melalui x-ray oleh pihak kemanan (AVSEC) cargo Bandara SSK II Pekanbaru. Terlihat pada layar berbentuk ibarat telur. Kemudian pihak AVSEC berkoordinasi dengan petugas Karantina Pekanbaru dan didapati kardus tersebut berisi 4 butir telur burung unta yang dilapisi kertas koran. 3 butir telur dalam keadaan utuh, sedangkan 1 butir telah pecah.

"Pengiriman telur ini tanpa disertai akta kesehatan dari karantina. Makara kami tahan. Pemilik sudah dihubungi untuk diberikan sosialisasi perihal mekanisme dan kelengkapan dokumen karantina. Harapan kami kedepannya pengiriman telur burung unta sanggup dilakukan sesuai dengan peraturan," ujar drh. Rissar Siringo-ringo, petugas Karantina Pekanbaru. (BKP)


Sumber http://infovet.blogspot.com/

Pelantikan Pengurus Besar Ispi Era 2018-2022


      
Pengurus Besar ISPI Periode 2018-2022 Yang Baru dilantik (Sumber : Infovet/Cholill)
Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) melakukan program peresmian pengurus besarnya, Rabu (23/1) kemudian di Gedung Pusat Informasi Agribisnis, Kementan, Jakarta. Dalam sambutannya, Ketua Umum ISPI periode 2018-2022 Didiek Purwanto menyampaikan bahwa sarjana bidang peternakan di Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia dibutuhkan sanggup memberi bantuan terhadap pembangunan peternakan nasional, sebagai kekuatan dalam negeri terutama dalam penyediaan pangan asal binatang dengan pemanfaatan sumber daya lokal. 

Dalam program tersebut dibacakan juga sambutan dari Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diwakili oleh Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono. Ia memberikan hal senada dengan Didiek, serta mengajak seluruh manusia sarjana peternakan melalui ISPI, untuk sama-sama sebenarnya bersama pemerintah dan para stakeholder peternakan lainnya, mendukung pembangunan kemandirian pangan asal ternak.

“Saya yakin dan percaya ISPI bisa mengambil aneka macam kiprah untuk meningkatkan pembangunan di sub sektor peternakan. Keanggotaan ISPI yang berasal dari aneka macam elemen, ibarat akademisi, birokrasi, dan praktisi pelaku perjuangan di aneka macam komoditi yakni sapi, kambing domba, unggas, pakan dan sapronak, sanggup saling bersinergi antar elemen tersebut”, terperinci Sugiono.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Ir. Syukur Iwantoro, MS, MBA dalam arahannya pada program peresmian tersebut juga mengharapkan biar ISPI sanggup menjadi katalisator biar para lulusan sarjana peternakan sanggup dengan gampang memperoleh pekerjaan melalui mempertemukan forum sertifikasi kompetensi bagi sarjana peternakan dengan perguruan tinggi. Disamping itu Syukur Iwantoro juga mengingatkan biar ISPI sanggup menghilangkan sekat-sekat dan berkolaborasi dengan forum terkait untuk menunjukkan bantuan dalam pembangunan peternakan. Lebih lanjut Syukur Iwantoro juga berharap biar ISPI sanggup membangun penyediaan pangan asal binatang yang sehat dan terjangkau bagi masyarakat. “Hal ini mengingat ISPI mempunyai network dari sentra sampai daerah” imbuhnya.

Setelah sukses menyelenggarakan Kongres ke XII di Malang, selesai tahun lalu, ISPI semakin merapatkan barisan antar anggotanya. Tidak hanya peresmian kepengurusan, turut pula diadakan Rapat Koordinasi antar bidang dan kelembagaan. ISPI sebagai wadah dan bentuk kerjasama para Sarjana Peternakan di Indonesia yang bertujuan untuk memajukan, menyebarkan dan mengamalkan ilmunya dalam pembangunan nasional.

Oleh kesannya dibutuhkan sanggup terus memajukan peternakan di Indonesia dan menjadi kawan bagi pemerintah dalam meningkatkan konsumsi protein hewani. Didiek Purwanto berharap ISPI sanggup menjadi tempat berkumpul, berdialog, bersosialisasi, dan berinteraksi bersama bagi anggota para Sarjana Peternakan, sehingga sanggup menyebarkan keahlian dan potensi setiap anggotanya. “Langkah awal yang telah dilakukan yaitu pemutakhiran anggota dengan mendata jumlah anggota secara online,” terangnya.

ISPI yang ketika ini berusia setengah kurun juga mempunyai kiprah yang sangat penting, yakni menyebarkan peternakan di Indonesia dan meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat yang masih rendah akan protein hewani. Tingkat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah ini dipandang oleh negara lain sebagai potensi pasar bagi mereka. Untuk itu, kita sebagai bangsa sendiri juga harus sanggup memanfaatkan peluang ini. (CR)

Berikut susunan pengurus ISPI periode 2018-2022
Ketua Umum : Didiek Purwanto
Ketua I : Dr. Soeharsono, S.Pt., M.Si
Ketua II : Ir. Sugiono, MP
Ketua III : Ir. Suaedi Sunanto
Ketua IV : Ir. Robi Agustiar, S.Pt., IPM
Sekretaris Jenderal : Joko Susilo S.Pt.,
Wakil Sekjen I : Ismatullah Salim S.Pt., 
Wakil Sekjen II : Andang Indarto S.Pt.,
Bendahara Umum : Idha Susanti S.Pt., MM.,
Wakil Bendahara : Christine Septriansyah S.Pt.


Sumber http://infovet.blogspot.com/

Perluasan Areal Tanam Gres Memicu Peningkatan Produksi

Dirjen Tanaman Pangan, Sumarjo Gatot Irianto ketika bertemu wartawan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Berdasarkan data nasional 2018, Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan bahwa produksi jagung dan beberapa komoditas pertanian cukup tinggi akhir adanya ekspansi areal tanam baru.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Sumarjo Gatot Irianto, mengungkapkan produksi jagung sepanjang 2018 mencapai 30,05 juta ton pipilan kering. “Sedangkan kebutuhan hanya sekitar 15,58 juta ton, jadi masih ada surplus 14 juta ton pipilan kering,” ujar Gatot dalam sebuah kegiatan bincang pertanian, Jumat (11/1).

Ia menambahkan, walau produksi jagung cukup baik dan terjadi surplus secara nasional, namun secara spesifik per tempat dan periode tertentu masih ada yang mengalami kekurangan. Kendati demikian hal itu sanggup ditutupi oleh tempat yang mempunyai kelebihan jagung.

“Surplus secara nasional bukan berarti tidak ada defisit di beberapa tempat. Ada tempat yang surplus dan defisit, ini perlu dipahami,” katanya.

Gatot menyebut, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari upaya khusus padi, jagung dan kedelai (Upsus PJK) semenjak 2015 lalu. Dari upaya tersebut, luas tanam ketiga komoditas tersebut meningkat tajam. “Dengan begitu produksi 2019 diproyeksikan bakal meningkat lebih baik lagi dari tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Potensi produksi tersebut, lanjut Gatot, diupayakan melalui pengembangan lahan rawa, lahan kering, tumpang sari, hingga perbaikan benih, pupuk dan penanganan pasca panen. “Dengan adanya kegiatan ini, salah satunya kita upayakan lahan rawa, sanggup meningkatkan indeks pertanaman menjadi dua kali setahun dari yang sebelumnya hanya satu kali,” kata Gatot.

Sementara untuk budidaya tumpang sari, Gatot mengungkapkan, pada 2019 ditargetkan luas areal tanam mencapai 1,05 juta hektar atau setara luas pertanaman 2,1 juta hektar. “Tumpang sari menjadi solusi mengatasi persaingan komoditas. Selain itu, budidaya tumpang sari bisa memperoleh laba yang lebih besar, selain meningkatkan luas tanam dan produksi, serta efisiensi perjuangan pertanian,” ucapnya.

Hal itu menerima apresiasi dari pengamat pertanian, Siswono Yudo Husodo, yang turut hadir. Menurutnya, ekspansi areal tanam baru, ibarat lahan rawa dan lahan kering, merupakan terobosan yang sangat baik.

Siswono yang juga mantan Menteri Transmigrasi menegaskan, ekspansi areal tanam gres tersebut merupakan upaya pertama yang harus dilakukan untuk mengatasi kekurangan produksi. 

“Ini perlu disambut oleh gubernur atau bupati. Seperti pola di Dompu, bupatinya kesepakatan sehingga bisa mengakibatkan kabupaten miskin menjadi sejahtera alasannya masyarakatnya bisa bertumpu pada ekspansi tanam, salah satunya jagung yang hingga masuk ke hutan,” katanya. (RBS)
Sumber http://infovet.blogspot.com/

Program Asuransi Perjuangan Ternak Sapi Temui Kendala, Apa Saja?



Pemerintah alokasikan Rp 19,2 miliar untuk subsidi Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau (Foto: Infovet) 

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian menggulirkan kegiatan Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau (AUTSK).

AUTSK memberi proteksi bagi para peternak sapi dan kerbau. Dalam teknis pelaksanaan asuransi ternak ini, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp19,2 miliar untuk subsidi

Perlindungan diberikan melalui pertolongan ganti rugi kepada peternak apabilla terjadi final hidup sapi miliknya jawaban penyakit, kecelakaan, melahirkan, dan kehilangan jawaban pencurian.

Hewan ternak dijamin dengan premi Rp 200.000 per ekor per tahun, di mana Rp 160.000 ditanggung pemerintah dan sisa Rp 40.000 dari swadaya petani. Ganti rugi yang dibayarkan sebesar Rp. 10.000.000 per ekor.

Program asuransi untuk sapi ternak berdikari sejauh ini dinilai masih mengalami kendala. Premi asuransi ternak sapi berdikari sebesar Rp 200.000 per ekor per tahun dengan nilai pertanggungan sebesar Rp 10 juta. Untuk kegiatan ini, pemerintah memperlihatkan subsidi sebesar 80% atau Rp160.000, sehingga sisanya Rp 40.000 per ekor atau 20% dari premi dibayar oleh peternak.

Menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf, kegiatan berdikari masih menemui hambatan sebab minimnya kesadaran petani akan pentingnya asuransi dan tingkat ekonomi petani yang masih rendah.

“Program berdikari ini masih tersendat sebab peternak tidak punya duit disuruh bayar (premi). Mau makan saja susah,” kata Rochadi, Minggu (25/11/2018).

Kendati demikian, Rochadi menjelaskan bahwa asuransi dengan subsidi pemerintah sejauh ini tidak mengalami hambatan yang berarti, sebab peternak bekerjasama pribadi dengan koperasi yang bekerjasama dengan penyelenggara asuransi. Selain itu, potongannya pun kecil.

“Kalau kredit dari pemerintah biasanya peternak lebih gampang pakai. Seperti kegiatan kredit yang biasanya otomatis dipotong dari koperasi,” ungkapnya.

Data yang diperoleh dari Kementan menunjukkan, jumlah kepesertaan asuransi ternak sapi di tahun 2016 ialah 20.000 ekor. Pada tahun 2017 meningkat menjadi 92.176, tahun ini 21.130 dengan total 133.306 ekor sapi yang ikut asuransi. (Sumber: kontan.co.id)


Sumber http://infovet.blogspot.com/

Agri Vaganza Ajak Minat Bakir Balig Cukup Akal Perjuangan Di Bidang Pertanian

Bincang santai oleh Co-Founder Tanijoy, Nanda (baju hitam) dan Founder etanee, Cecep (baju biru), didampingi Sekretaris Jenderal Kementan, Syukur Iwantoro (baju batik), Jumat (23/11). (Foto: Infovet/Ridwan)

Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya memperkenalkan produk-produk hasil pertanian lokal kepada masyarakat, khususnya generasi milenial. Hal itu tercermin dalam gelaran Agri Vaganza 2018 yang dilaksanakan di Kementan, yang rata-rata dihadiri oleh kalangan pelajar sekolah.

Selain memperkenalkan produk pertanian lokal lewat bazaar tani, aktivitas yang digelar 23-24 November 2018 ini juga menghadirkan bermacam-macam diskusi menarik seputar industri pertanian, salah satunya bincang santai bersama wirausaha muda mengenai perjuangan pertanian digital untuk menarik minat kalangan remaja.

Diskusi yang dipadati pelajar sekolah ini menampilkan Founder etanee, Cecep MW dan Co-Founder Tanijoy, Muhammad Nanda Putra.

Dijelaskan oleh Cecep, hadirnya etanee yaitu untuk membantu para petani/peternak mempermudah pemasaran produknya. “Concern kita yaitu digitalisasi penjualan. Dengan adanya etanee pemasaran produk peternakan menjadi lebih gampang dan murah, serta dapat tersebar luas,” ujar Cecep.

Ia menyebut, latar belakang membangun digital marketplace tersebut berawal dari kegelisahannya terhadap fluktuasi penjualan produk ternak, ditambah dengan rendahnya minat generasi milenial terhadap sektor pertanian, khususnya peternakan.

Dengan hadirnya etanee, Cecep mencoba menjembatani produsen dalam memasarkan produknya dengan harga yang masuk akal dan melindungi konsumen dari harga jual produk peternakan yang tinggi. “Itu terbukti ketika terjadi kenaikan harga produk ternak, ketika itu di kita harganya masih normal,” terang Cecep. Saat ini, pihaknya masih berfokus pada pemasaran produk-produk frozen food yang sudah tersebar di sembilan kota besar.

Sementara, Muhammad Nanda, juga turut memperkenalkan Tanijoy kepada para peserta. Berangkat dari kepedulian ingin membahagiakan petani, ia bersama beberapa sahabatnya membentuk platform bisnis tersebut.

Tanijoy sendiri, kata Nanda, lebih berfokus kepada on farm-nya. Dimana petani diedukasi soal bagaimana cara bertani yang baik, jenis penanaman, lahan, permodalan, sampai terusan pasar. “Kita lakukan permodalan untuk terusan pertama ke petani dengan bentuk barang berhubungan dengan vendor. Kamudian kita lakukan edukasi lewat field manager,” ujar Nanda.

Petani pun dibentuk melek dengan teknologi dan diberikan kepercayaan dalam peningkatan produksi. Tanijoy menghubungkan pribadi antara petani dengan investor dan pemilik lahan. Tanijoy juga membuka lahan bagi para investor yang ingin mempunyai pengalaman bertani secara digital.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kedua platform tersebut, dapat mengunjungi www.etanee.id dan www.tanijoy.id. (RBS)
Sumber http://infovet.blogspot.com/

Kementan-Kadin Indonesia, Kerjasama Investasi Bidang Pertanian

Foto bersama usai penandatanganan kerjasama investasi bidang pertanian. (Foto: Infovet/Ridwan)

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) melaksanakan penekenan akad investasi Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture (PISAgro) dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Penandatanganan disaksikan eksklusif oleh Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, di kantornya, Jumat (23/11).

Ketua Kadin Indonesia, Rosan Roeslani, mengapresiasi langkah Kementan yang berupaya mempermudah perizinan investasi menjadi lebih cepat dan efisien. “Kami sangat mengapresiasi sekali kepada Kementan. Dengan izin yang cepat, dalam waktu akrab kami akan merealisasikan semua izin investasi,” ujar Rosan.

Ia juga menambahkan, “Hadirnya kami di sini juga untuk membantu teman-teman dari PISAgro membuat tenaga kerja siap pakai, khususnya untuk industri pertanian”.

Pada kesempatan yang sama, Mentan Amran mengungkapkan, pihaknya siap mengawal 24 jam segala bentuk investasi di bidang pertanian. “Dulu investasi dapat 2-3 tahun lamanya, kini hanya tiga jam lewat OSS (Online Single Submission). Saya minta kepada pertanian kawal ini, kawal juga sampe ke daerah. InsyaAllah akan lebih cepat apalagi sehabis dilakukannya deregulasi,” kata Amran.

Ia menegaskan, segala macam bentuk hukum yang menghambat pelayanan investasi akan segara dilakukan pencabutan. “Aturan dan layanan harus disederhanakan. Kalau perlu rekomendasi kementerian akan kita berikan. Kita ingin investasi, khususnya ekspor menuai hasil baik. Saat ini ekspor sudah meningkat seratus persen dari tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya. (RBS)
Sumber http://infovet.blogspot.com/

Bisnis Peternakan Menuju Generasi Industri 4.0

Ketua ASOHI Irawati Fari ketika memukul gong pembukaan seminar bisnis peternakan 2018 didampingi para pengurus ASOHI. (Foto: Infovet/Ridwan)

“Meningkatkan Konsumsi Protein Hewani Menuju Generasi Industri 4.0” menjadi tema yang diangkat dalam Seminar Nasional Bisnis Peternakan 2018 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Kamis (22/11).

“Kami mencermati gosip yang berkembang di dunia bisnis wacana terjadinya kala gres yang disebut revolusi industri 4.0, di mana teknologi semakin berkembang dan insan dituntut lebih membuatkan pikirannya,” ujar Ketua Panitia, Yana Ariana, ketika menyambut penerima seminar.

Ia menambahkan, dengan berkembangnya dunia bisnis, industri peternakan dituntut bisa membiasakan diri dengan hadirnya revolusi industri tersebut. Sebab industri peternakan merupakan penyedia protein hewani terbesar untuk masyarakat.

Pada kesempatan serupa, Ketua ASOHI, Irawati Fari, menyampaikan, dengan hadirnya revolusi industri stakeholder peternakan dituntut untuk lebih bersinergi. “Kita sebagai pelaku ingin industri ini berjalan dengan baik. Stakeholder peternakan merupakan kawan ASOHI dan kita harus ikut memberi support kepada pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Agar industri peternakan menjadi lebih sehat dan lebih bergeliat,” kata Ira.

Hal tersebut juga disambut baik oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita, yang turut hadir pada seminar tahunan itu. Menurutnya, pelaku industri peternakan diperlukan bisa meningkatkan produksi dan membuatkan produk-produk gres dengan pemanfaatan teknologi, guna meningkatkan konsumsi protein asal hewan.


Simbolis konsumsi telur sebagai kampanye peningkatan konsumsi protein hewani bersama para stakeholder peternakan, serta Duta Ayam dan Telur Indonesia (pojok kanan). (Foto: Infovet/Ridwan)

Seminar sehari ini turut menghadirkan pembicara tamu Pakar Ekonomi Pertanian, Bayu Krisnamurthi dan menghadirkan narasumber Direktur Pakan Sri Widayati, Direktur Perbibitan Sugiono yang diwakili Kasubdit Standarisasi dan Mutu Ternak, Muhammad Imran, Direktur Kesehatan Hewan Fadjar Sumping, Ketua ASOHI Irawati Fari, serta pandangan asosiasi peternakan diantaranya GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas), GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak), Pinsar Indonesia (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat), GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional), PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia) dan AMI (Asosiasi Monogastrik Indonesia). (RBS)
Sumber http://infovet.blogspot.com/

Asosiasi Petani Dan Peternak Deklarasikan Petisi Minta Menteri Pertanian Diberhentikan

Para perwakilan asosiasi petani dan peternak deklarasikan Mosi Tidak Percaya pada Menteri Pertanian (Foto: Istimewa) 

Sebuah petisi muncul, meminta Presiden Republik Indonesia Jokowi untuk memberhentikan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Petisi ini dinamai Petisi Ragunan, di mana 20 perwakilan organisasi serta asosiasi petani dan peternak membubuhkan tanda tangan.

Para penggiat sekaligus pelaku sektor pertanian dan peternakan tersebut berkumpul di tempat Cilandak, Jakarta Selatan dalam aktivitas ‘Refleksi Akhir Tahun’ yang digagas oleh Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka). Acara berlangsung hari ini, Kamis (22/11/2018).

Petisi Ragunan dibacakan Ketua Pataka, Yeka Hendra Fatika. Dalam dasar pertimbangan petisi tersebut, disebutkan bahwa telah terjadi pembohongan data produksi pertanian yang sudah dibuktikan oleh BPS. Berdasarkan pertimbangan tersebut, perwakilan banyak sekali organisasi dan asosiasi petani meminta Presiden Republik Indonesia untuk memberhentikan Mentan.

Berbagai pertimbangan sebagai alasan perlunya pendeklarasian Petisi Ragunan disampaikan para penerima diskusi. Agropreneur Jagung dari Lombok, Dean Novel melihat pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) terlalu asyik sendiri dengan kebijakan yang dibuat. 

“Petani justru galau dengan kebijakan pemerintah. Apa yang petani perlukan tidak diberikan, sebaliknya yang petani tidak perlukan justru pemerintah berikan,” ungkap Dean. 

Misalnya, sebut Dean, dikala pemerintah mendorong tanam serentak menciptakan petani menjadi dilematis. Bahkan dikala panen, harga malah jatuh. Sementara pemerintah tidak menyiapkan sarana penyimpanan menyerupai alat pengering (dryer) dan pergudangan.

Ketika tidak ada panen, harga melonjak tinggi, sehingga peternak unggas yang kesulitan mendapat materi baku pakan ternak. Lebih mirisnya, benih jagung pinjaman pemerintah juga kualitasnya dipertanyakan. Artinya, dikala pemerintah menciptakan kebijakan problem utama (bottle neck)-nya tidak diselesaikan.

Dean tengah melihat perjagungan Indonesia tengah menghadapi anomali. Satu sisi pemerintah mengklaim surplus jagung dan sudah ekspor, tapi yang terjadi malah ada impor. Bahkan kemudian pemerintah meminjam stok dari pabrik pakan ternak untuk menutupi kebutuhan jagung peternak rakyat. 

Karena itu, kalangan petani jagung berharap pemerintah jujur dan kemudian berjanji akan menata pertanian Indonesia dengan lebih baik.

Kadma Wijaya dari PPUN (Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara) Bogor melihat dari sisi peternak rakyat, pemerintah juga tidak berpihak. Di sisi hulu pemerintah memaksa untuk harga mahal dengan banyak sekali kebijakan, tapi di bagian  hilir harga sesuai prosedur pasar. Kondisi tersebut menciptakan banyak peternak bangkrut.

Kalangan peternak broiler yang tergabung dalam GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional) juga mengeluhkan kebijakan pemerintah. Pengurus GOPAN, Sigit Prabowo menilai pemerintah memang mengatur kebijakan di hulu, tapi dibagian hilirnya tidak pernah diatur. Menurutnya, kebijakan yang pemerintah buat sepotong-sepotong. 

“Pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebagai acuan, tapi harga jualnya sesuai prosedur pasar. Akibat kebijakan itu, harga menjadi tinggi DOC, peternak pun terancam gulung tikar,” ujar Sigit.

Stimulan Pemerintah Cuma Lips Service

Keluhan terhadap kebijakan pemerintah juga dirasakan kalangan peternak sapi. Kebijakan yang pemerintah buat dinilai banyak yang kontra produktif. 

Seperti dalam penetapan harga daging yang tidak menguntungkan produsen. Bahkan produsen  sapi (feedloter) rakyat, banyak yang menutup usahanya. Sementara yang masih bertahan mengurangi kapasitas produksinya. Tapi hal itu berdampak dalam permodalan, alasannya yakni perbankan tidak lagi berani membiayai. 

Agus Warsito dari APSPI (Asosisasi Peternak Sapi Perah Indonesia) mengatakan, kiprah pemerintah sebetulnya tidak berat, buat regulasi yang berpihak kepada rakyat. 

“Kenyataannya regulasinya tidak berpihak nyata. Stimulan yang pemerintah berikan hanya lips service, gula-gula belaka,” tandas Agus. 

Pada awal pemerintahan, Agus mengaku optimis dengan kebijakan persusuan dengan keluarnya Permentan No. 27/ 2016. Tapi kemudian sesudah mendapat respon swasta dan ditekan kepentingan asing, Permentan tersebut dicabut diganti Permentan 30, kemudian diganti lagi Permentan 33. 

“Artinya, Kementan tidak memiliki kedaulatan di negeri sendiri dan justru tunduk pada kepentingan asing,” lanjutnya. 

Selain penandatanganan petisi, dalam aktivitas ini menyepakati dua hal. Pertama, membentuk  Agriwatch yang akan berfungsi sebagai forum untuk melaksanakan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan program-program di Kementan. 

Lembaga ini nantinya akan memperlihatkan masukan kepada Kementan, baik diminta ataupun tidak diminta. (NDV)

Sumber http://infovet.blogspot.com/

Krisis Pakan, Kementan Bergerak Salurkan Jagung Ke Peternak

Kementan melalui Ditjen PKH kawal pendistribusian jagung kepada peternak. (Foto: Dok. Kementan)

Sebanyak 12.000 ton jagung pipilan secara serentak didistribusikan ke peternak rakyat di sejumlah pusat ayam petelur, khususnya di beberapa titik di Pulau Jawa.

Bantuan ini sebagai bentuk langkah konkret Kementerian Pertanian (Kementan) dalam memfasilitasi distribusi jagung dari industri pakan ternak, untuk kebutuhan peternak rakyat di banyak sekali pusat ayam petelur, Jumat (9/11/2018).

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Indonesia menyatakan sangat menghargai atas support yang sudah diberikan oleh Kementan.

"Kami mewakili teman-teman peternak rakyat berterima kasih atas aktivitas yang sudah dilakukan untuk menolong pada ketika krisis kali ini," kata Ketua Pinsar Indonesia Hartono dalam keterangan tertulis Infovet terima.

Foto: Dok Kementan

Hartono sendiri menyampaikan itu ketika penyaluran jagung untuk peternak di Bogor, Jumat (9/11/18). Dia berharap ke depannya, harga pakan ternak sanggup menyesuaikan lagi atau terjangkau.

Selain di Bogor, penyaluran pakan ternak juga dilakukan Kementan di Blitar, Jawa Timur.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH, Sugiono yang memimpin pribadi penyaluran jagung ke peternak mengatakan, salah satu alasan Kementan mendistribusi ke sana alasannya yaitu kawasan tersebut yaitu salah satu pusat utama peternakan.

Sementara itu, Bupati Blitar Rijanto menyambut positif upaya Kementan dalam memfasilitasi penyaluran jagung ke peternak rakyat yang jumlahnya sekitar 4.400 peternak.

Adapun jumlah jagung yang didistribusikan ke Blitar kurang lebih 400 ton. Rijanto berharap penyaluran jagung ini sanggup menjadi solusi awal bagi para peternak.

Setelah Bogor dan Blitar, penyaluran jagung untuk peternak terjadi di Malang. Dalam keterangan tertulisnya Kementan mengatakan, sebanyak 4 truk atau 100 ton jagung pribadi didistribusikan ke peternak.

Pengiriman dengan nominal sebanyak itu atas dasar undangan peternak di Malang yang mengajukan kebutuhan 2000 ton jagung untuk ayam layer dan 200 ton buat ayam broiler.

Pada hari yang sama jagung disalurkan pula ke pusat peternak ayam di Jawa Tengah. Salah satu titiknya ada di Kabupaten Kendal. Bantuan jagung diterima oleh para peternak petelur secara bertahap.

Dengan rincian, dimulai Jumat (9/11/2018) sebanyak 50 ton, kemudian Sabtu (10/11/2018) 100 ton dan selanjutnya hingga dengan jumlah keseluruhan 500 ton.

Direktur Pakan, Ditjen PKH Sri Widayati yang hadir di Kendal, Jawa Tengah menyampaikan bahwa peternak menyambut positif gerak cepat ini.

"Untuk wilayah lainnya, yaitu Solo dan sekitarnya akan segera menyusul,” ujar Sri.

Potong Jalur Distribusi

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan bahwa penyaluran jagung untuk pakan ternak bertujuan memotong jalur distribusi yang selama ini menimbulkan kelangkaan pakan ternak.

“Ini bukti bahwa ketersediaan pakan jagung cukup untuk memenuhi kebutuhan para peternak lokal,” ungkap Amran.

Dalam kurun waktu tahun 2014-2017 produksi jagung terus meningkat. Pada 2014, produksi jagung di Indonesia sebesar 19,0 juta ton, dan meningkat 19,6 juta ton pada 2015.

Adapun pada 2016 produksi jagung kembali meningkat 23,6 juta ton, demikian juga tahun 2017 mencapai 28,9 juta ton.


"Dengan kerja keras dan upaya khusus yang terus dilakukan Kementan pada 2018 ini diperkirakan potensi produksi jagung lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya, yaitu sebesar 30 juta ton," terperinci Amran. (NDV)


Sumber http://infovet.blogspot.com/